Wamenkes Sebut Resistensi Antibiotik Jadi Silent Pandemic, Artinya Apa Sih?

ADVERTISEMENT

Wamenkes Sebut Resistensi Antibiotik Jadi Silent Pandemic, Artinya Apa Sih?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Selasa, 30 Agu 2022 11:04 WIB
obat
ilustrasi obat (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Wakil Menteri Kesehatan RI dr Dante Saksono Harbuwono mengatakan resistensi antibiotik akibat mikroba atau antimicrobial resistance (AMR) disebut sebagai silent pandemic. Hal tersebut disebabkan karena angka kematian akibat AMR cukup tinggi.

''1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu,'' ujar Wamenkes Dante usai penutupan pertemuan Side Event AMR dalam rangkaian G20, dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Selasa (30/8/2022).

Resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya, infeksi pada pasien bertambah parah dan ini yang menyebabkan angka kematian tinggi.

Selain itu, resistensi antibiotik akibat mikroba bisa berasal dari hewan dan tumbuhan. Wamenkes menyoroti pendekatan one health dalam merespons masalah tersebut.

''Melalui pendekatan one health, di mana infeksi itu bisa berasal dari hewan, tumbuhan. Itu juga penting dilakukan karena ternyata banyak sekali penggunaan antibiotik pada hewan dan tumbuhan yang tidak rasional yang menyebabkan resistensi pada manusia,'' ungkap Wamenkes Dante.

''Tidak ada satu industri pun yang dapat menghadapi ancaman ini sendirian. AMR membutuhkan banyak partisipasi dari berbagai pemangku kepentingan,'' lanjutnya.

Ke depan, tambah Wamenkes, pihaknya akan mempercepat upaya penanggulangan AMR terutama di Indonesia. Negara-negara G20 juga memiliki peran strategis untuk mendorong pencegahan dan pengendalian AMR yang berkelanjutan di tingkat nasional dan global.



Simak Video "India Hadapi Pandemi Superbug, Pakar IDI Ingatkan Penggunaan Antibiotik"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT