Ratusan Emak-emak di Bandung Terinfeksi, Ini Pesan Penemu Kasus HIV Pertama RI

ADVERTISEMENT

Ratusan Emak-emak di Bandung Terinfeksi, Ini Pesan Penemu Kasus HIV Pertama RI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 31 Agu 2022 10:11 WIB
Prof Zubairi Djoerban, penemu kasus HIV pertama di Indonesia.
Prof Zubairi Djoerban. (Foto: Nafilah Sri Sagita K/detikHealth)
Jakarta -

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi (Kanker) dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban ikut menanggapi laporan kasus istri tertular HIV dari suami yang 'jajan' sembarangan.

Ia menyebut, kasus HIV pada istri yang diakibatkan suami 'jajan' sembarangan memang kerap terjadi. Termasuk salah satu penularan terbanyak yang dilaporkan pada kasus HIV rumah tangga.

Meski begitu, kasus HIV ibu rumah tangga disebutnya tidak melulu menular melalui hal tersebut. Ada beberapa penularan lain, salah satunya keterbatasan ekonomi yang membuat IRT harus menjadi penjaja seks.


Fenomena lain yakni mereka yang terbukti menggunakan narkotika, meskipun catatan kasusnya lebih rendah dari laporan penularan HIV akibat suami 'jajan' sembarangan.

"Oh iya ibu rumah tangga, kasihan. Jadi banyak sekali ibu rumah tangga yang terinfeksi dari suaminya," terang dia saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2022)

"Walaupun ada beberapa satu dua yang terinfeksi karena ada yg menggunakan narkotika. Ada juga karena masalah ekonomi itu menjadi pekerja seks. Namun sebagian besar terinfeksi dari suami," sambungnya.

Prof Zubairi mengingatkan, infeksi HIV tidak lantas menandakan hidup seseorang berakhir. Pasien bisa melakukan aktivitas seperti biasa jika rutin minum obat.

"Jadi intinya HIV AIDS bisa dikontrol, Anda minum obat teratur maka anda tidak lagi sakit, yidak rawap inap, bisa menikah punya anak dan anaknya tidak tertular. HIV AIDS sekarang managable dan tata laksana dengan baik," pungkas dia.

Sebagai informasi tambahan, Prof Zubairi menemukan kasus pertama HIV di 1983 silam. Ia bercerita, kala itu pemerintah sempat menyangkal laporan tersebut lantaran muncul anggapan negara berbudaya dan agamis seperti Indonesia mustahil mencatat kasus HIV.

"Padahal tak ada hubungannya dengan itu. Situasinya mirip kala COVID-19 masuk sini, mereka juga menyanggah," kata dia.

Prof Zubairi saat itu mendapat kesempatan belajar di Prancis tepatnya di Institute Cancerologie et d'Immunogenetique Hopital Paul Brousse (Institut Kanker dan Imunogenetik RS Paul Brousse), Villejuif, Prancis, mulai 1982-1983. Sebagai peneliti, ia mendalami kemungkinan kasus HIV di kalangan homoseksual dan waria di Jakarta.

Dari riset tersebut, ditemukan tiga waria yang mengeluhkan gejala mirip AIDS, belakangan diketahui ketiganya mengidap AIDS related complex (ARC). ARC adalah fase prodromal (permulaan) infeksi virus HIV yang meliputi demam, penurunan berat badan, diare, dan lain-lain.



Simak Video "AIDS dan 10 Gejala Umumnya: Batuk Kering-Demam"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT