Lie Detector Nyatakan Eliezer Cs Jujur, Seakurat Apa Sih? Ini Cara Kerjanya

ADVERTISEMENT

Round Up

Lie Detector Nyatakan Eliezer Cs Jujur, Seakurat Apa Sih? Ini Cara Kerjanya

Nurul Febian Danari - detikHealth
Rabu, 07 Sep 2022 05:30 WIB
Rekonstruksi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo, Bharada E, Bripka Ricky Rizal, Kuat Maruf dan Putri Candrawathi dilakukan di Duren Tiga, Jaksel. Di situ, Bharada E mengaku trauma dan tangannya bergetar saat melakukan rekonstruksi.
Rekonstruksi pembunuhan Brigadir J (Foto: Polri TV)
Jakarta -

Sebanyak tiga tersangka pembunuhan Brigadir J menjalani pemeriksaan lie detector atau uji kebohongan. Ketiga tersangka yakni Bharada Eliezer, Bripka Ricky dan Kuat Ma'ruf.

Lie Detector merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi kebohongan menggunakan mesin poligraf. Alat ini akan menganalisis beberapa indikator fisiologis seperti tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan konduktivitas kulit pada saat tanya jawab berlangsung.

Dikutip dari American Psychological Association, alat ini banyak dipakai oleh banyak negara untuk menginterogasi tersangka kriminal atau juga kandidat pekerja di sektor publik maupun swasta yang dinilai sensitif.

Umumnya, alat ini memiliki 3 sensor utama dengan cara kerja sebagai berikut:

  • Sensor pneumograf: mendeteksi detak napas di dada dan perut yang sensornya dililitkan di dada.
  • Sensor blood pressure: mendeteksi adanya perubahan tekanan darah dan detak jantung. Sensor kabel ini ditempelkan pada bagian lengan.
  • Sensor skin resistance: melihat dan mendeteksi keringat yang ada di tangan. Kabel sensor ini umumnya juga ditempelkan pada jari-jari tangan.

Sayangnya, kredibilitas poligraf sebagai alat pendeteksi kebohongan telah banyak dipertanyakan sejak 1921. Psikolog forensik Reza Indragiri juga menyebut lie detector tidak efektif untuk memeriksa seseorang.

"Tidak efektif. Bahkan pseudoscience saja itu. Kapolri tekankan harus saintifik toh," ucap Reza Indragiri pada detikcom, Selasa (6/9/2022).

Reza menambahkan bahwa alat ini tidak layak digunakan untuk pemeriksaan karena perubahan fisiologis tubuh dalam derajat tertentu tidak dapat diartikan sebagai indikasi kebohongan. Akhirnya, pemeriksaan dengan metode ini menjadi subjektif, terlebih jika dalam keadaan dan tekanan yang berbeda data fisiologis juga mudah berubah.

Reza menyatakan tingkat kesalahan poligraf dibagi dalam dua jenis. Yang pertama adalah false negatif atau orang yang tidak bersalah saat diperiksa, dia gagal atau divonis bohong. Kedua, false positif yaitu ketika orang yang bersalah diperiksa, dia berhasil mengelabui atau divonis jujur.

Next: Hasil lie detector Bharada E-Kuat Ma'ruf



Simak Video "Netizen Baper Lihat Pelukan Sambo-Putri, 'Stockholm Syndrome'?"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT