Kerja Seadanya Sudah Pasti Menguntungkan? Tunggu Dulu, Ini Kata Psikolog

ADVERTISEMENT

Kerja Seadanya Sudah Pasti Menguntungkan? Tunggu Dulu, Ini Kata Psikolog

Ayunda Septiani - detikHealth
Selasa, 13 Sep 2022 19:07 WIB
Jakarta -

Kerja seperlunya atau yang kerap dikaitkan dengan istilah 'quiet quitting' tengah jadi pembicaraan di media sosial. Ada beberapa orang yang memilih quiet quitting dengan alasan mental lebih sehat.

Beberapa yang lain mungkin enggan melakukannya lantaran khawatir tidak berkembang di pekerjaan. Apa kata pakar?

Psikolog klinis Marissa Meditania MPsi dari Ohana Space menjelaskan tren quiet quitting tak terhindar dari dampak positif dan negatif.

"Jadi memang dampak positifnya membentuk kita lebih sejahtera mental karena tidak burnout, tidak stres, terhindar lah dari tekanan-tekanan itu. Cuman tapi tentu semuanya tidak selalu berdampak positif ya, kalau berlebihan atau tidak pada tempatnya, akhirnya pasti ada dampak negatif juga," terang dia dalam talkshow e-Life detikcom, jumat (9/9/2022).

Dampak positif didapat dari membatasi diri dengan pemicu stres atau sumber stressor. Namun, ada baiknya tidak dilakukan secara terus menerus.

Selama bekerja, Marissa menyebut relasi dengan atasan dan lingkungan kerja tetap perlu diperhatikan. Jika tren quiet quitting diterapkan dalam waktu yang cenderung lama, karyawan bisa dinilai tidak memiliki performa yang baik dalam pekerjaan sehingga tertinggal.

"Negatifnya adalah selama bekerja kita harus tahu bahwa kita tidak bekerja sendiri, ada atasan ada elemen-elemen lain gitu, yang mana pasti tidak ada yang kaku, jadi kita bisa lebih fleksibel kan kalau kita akhirnya membatasi diri, mungkin kita akan kehilangan opportunity jadi maksudnya atasan ngelihat kita nggak perform," beber Marissa

"Karena kita kan bekerja seada-adanya, mungkin jadinya dimutasi ke tempat yang kita nggak mau terus sama rekan kerja hubungannya nggak baik, bekerja juga penting kan punya hubungan yang baik dengan kolega," lanjut dia.

Kebiasaan menjalin relasi seperti sepulang kerja berkumpul dengan rekan karyawan lain, membantu pekerjaan lebih baik lantaran memiliki ikatan erat satu sama lain. Begitu pula sebaliknya.

"Jadi tanpa kita sadari ada perilaku tidak bertanggung jawab lama kelamaan kalau ini dilakukan terus menerus," pesan dia.

(ayd/mjt)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT