ADVERTISEMENT

Kamis, 22 Sep 2022 13:15 WIB

Analisis Baru Psikolog soal Ekspresi Duka di Pemakaman Ratu Elizabeth

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Meghan, Duchess of Sussex looks at the coffin of Queen Elizabeth II, draped in a Royal Standard and adorned with the Imperial State Crown and the Sovereigns orb and sceptre, as she leaves Westminster Abbey in London on September 19, 2022, after the State Funeral Service for Britains Queen Elizabeth II. (Photo by Oli SCARFF / AFP) (Photo by OLI SCARFF/AFP via Getty Images) Meghan Markle di Pemakaman Ratu Elizabeth II. Foto: AFP via Getty Images/OLI SCARFF
Jakarta -

Momen pemakaman Ratu Elizabeth II beberapa hari lalu merupakan peristiwa bersejarah. Pemakaman sang Ratu dihadiri oleh keluarga kerajaan Inggris dan beberapa tamu undangan.

Ekspresi berduka dari tiap anggota kerajaan tersebut menjadi sorotan media. Misalnya, momen Raja Charles III menggigit bibir menahan haru atau momen saat Meghan markle menyeka tangis, ramai diperbincangkan warganet.

Menurut Psikolog Nova Cobban, ekspresi kesedihan Raja Charles III mewakili bagaimana dunia bergerak menjauh dari tradisi kuno yang selalu bungkam soal kesehatan mental.

"Raja Charles yang menangis, saya kira, adalah apa yang banyak dari kita perlu lihat. Bukan karena kita ingin dia sedih, tapi karena itu menunjukkan dia mengalami kesedihan sebagai salah satu dari kita dan bersama kita," ucapnya pada Metro UK, dikutip detikcom, Kamis (22/9/2022).

"Sangat penting untuk melihat pengakuan atas langkah-langkah yang telah diambil dunia untuk lebih terbuka tentang kesehatan mental. Ini sebuah contoh bahwa tidak apa-apa untuk menunjukkan emosi yang sebenarnya," sambungnya.

Ia juga mengomentari momen Meghan Markle yang menemani Pangeran Harry pada peristiwa tersebut. Menurutnya pasangan ini saling menguatkan dengan berbagi pendampingan melalui sentuhan fisik.

"Harry dan Meghan sering terlihat menawarkan pendampingan fisik satu sama lain, solidaritas mereka penting saat ini," ucap Cobban.

Namun, Cobban menjelaskan bahwa tidak semua orang membutuhkan sentuhan fisik saat mengalami rasa sakit emosional.

"Ketika kita berurusan dengan banyak hal, kita dapat merespons dengan membutuhkan lebih banyak sentuhan atau terkadang justru menginginkan lebih sedikit," jelasnya.

"Sentuhan penuh kasih di lengan terkadang dapat memicu emosi yang coba kita tahan dan kita lebih suka menyimpannya sejenak ketika merasa aman untuk melepaskannya," pungkasnya.



Simak Video "Sikap Meghan Markle dan Kate Middleton Disorot Ahli Bahasa Tubuh"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT