Hong Kong Tarik Mie Sedaap Korean Spicy Chicken Imbas Etilen Oksida, di RI Aman?

ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Hong Kong Tarik Mie Sedaap Korean Spicy Chicken Imbas Etilen Oksida, di RI Aman?

Alethea Pricila - detikHealth
Sabtu, 01 Okt 2022 19:01 WIB
fried noodles with chilli on wood table
Foto: Getty Images/iStockphoto/rukawajung
Jakarta -

Otoritas keamanan pangan Hong Kong atau Centre for Food Safety (CFS) menarik Mie Sedaap Korean Spicy Chicken karena disebut mengandung pestisida yakni etilen oksida (EtO) Kamis lalu (29/9/2022). Lantas, bagaimana nasib produk tersebut di Indonesia? Masih amankah dikonsumsi?

"Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel mi, kemasan bumbu, dan bubuk cabai produk mengandung pestisida, etilen oksida," terang CFS dalam pernyataan resminya, dikutip Kamis (29/9/2022).

"Menurut instruksinya, pengecer yang bersangkutan telah memulai penarikan pada batch produk yang terkena dampak," imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) buka suara dan menyebut produk tersebut berbeda dengan yang berbeda di Indonesia.

"Berdasarkan penelusuran BPOM, produk mi instan yang ditarik di Hong Kong berbeda dengan produk bermerek sama yang beredar di Indonesia," tegas BPOM dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (29/9).

"Produk yang beredar di Indonesia memenuhi persyaratan yang ada," lanjutnya.

BPOM RI menyebut varian Mie Sedaap Korean Spicy yang ada di Indonesia sudah memenuhi syarat dan standar produk keamanan izin edaran yang ada. Selain itu, BPOM juga meminta klarifikasi dan penjelasan lebih rinci kepada otoritas keamanan pangan Hong Kong mengenai hasil yang dimaksud.

Namun, BPOM RI sedang mengatur kebijakan kandungan etilen oksida dan melakukan pengujian sampling pada produk tersebut untuk mengetahui tingkat kandungan etilen oksida. Hal ini dilakukan BPOM sebagai langkah kehati-hatian.

"Belajar dari kasus terdahulu, dan mengingat bahwa saat ini Codex Alimentarius Commission (CAC) sebagai organisasi internasional di bawah World Health Organization (WHO)/Food and Agriculture Organization (FAO) belum mengatur mengenai EtO dan senyawa turunannya, serta pengaturannya yang sangat beragam di berbagai negara, maka BPOM menindaklanjuti isu ini dengan meminta klarifikasi dan penjelasan lebih rinci kepada otoritas keamanan pangan Hong Kong mengenai hasil pengujian dimaksud," terang BPOM.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT