Ahli Jelaskan Bedanya Etilen Glikol pada Obat Sirup dan Kemasan Air Minum

ADVERTISEMENT

Ahli Jelaskan Bedanya Etilen Glikol pada Obat Sirup dan Kemasan Air Minum

Inkana Izatifiqa R Putri - detikHealth
Sabtu, 22 Okt 2022 08:50 WIB
Botol plastik air mineral bagian bawahnya cenderung lebih datar.
Foto: Getty Images/iStockphoto/scanrail
Jakarta -

Publik diramaikan dengan isu kandungan bahan kimia Etilen Glikol di dalam produk sirup obat batuk yang dapat membahayakan kesehatan ginjal. Beberapa pihak bahkan mengaitkan kandungan senyawa Etilen Glikol dengan campuran bahan baku pembuat kemasan air mineral berbahan PET (Polietilen Tereftalat).

Merespons hal ini, Pakar Teknologi Polimer dari Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI Mochamad Chalid menyampaikan menegaskan bahan kimia Etilen Glikol yang terdapat di dalam produk sirup obat batuk yang diminum anak-anak seperti di negara Gambia, Afrika berbeda dengan kandungan pada kemasan plastik berbahan PET seperti botol dan galon air mineral sekali pakai.

Kepala Center for Sustainability & Waste Management UI (CSWM-UI) ini menjelaskan Etilen Glikol pada dua produk tersebut jelas berbeda fungsinya. Pada obat sirup, Etilen Glikol merupakan bagian dalam produk yang langsung dikonsumsi manusia. Sementara pada kemasan galon atau botol PET, penggunaannya didesain bebas Etilen Glikol. Terlebih penggunaannya tidak dilakukan berulang-ulang, yang rentan peluruhan PET menjadi Etilen Glikol walaupun jumlahnya sangat kecil.

"Masyarakat tidak perlu panik atau cemas terhadap kemasan PET, karena berbeda dengan sirup obat batuk. Senyawa Etilen Glikol pada sirup obat tersebut adalah zat tambahan untuk mempermudah kandungan lain untuk bercampur, jadi senyawa tersebut adalah bagian dari produk yang ada di dalam produk dan bukan pada kemasan," kata Chalid dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/10/2022).

Lebih lanjut, Chalid memaparkan sebelum diolah menjadi kemasan galon atau botol, bijih plastik PET diproduksi dengan bahan baku Asam Terephtalate dan Etilen glikol dengan katalis dalam jumlah sangat sedikit. Selanjutnya, produk bijih plastik PET dimurnikan dari residu bahan baku dan katalisnya.

Dalam proses ini, kata Chalid, PET yang diolah menjadi kemasan galon atau botol, dipastikan bebas dari Etilen Glikol dan aman untuk kemasan makanan dan minuman. Di samping itu, peluruhan bahan PET sebagai kemasan menjadi Etilen Glikol pun di antaranya hanya terjadi kondisi ekstrem, yang selanjutnya luruhan tersebut akan bermigrasi hingga ke bagian permukaan yang bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman.

Ia menambahkan kedua hal tersebut memerlukan kondisi khusus dan waktu yang lama. Adapun hal tersebut tidak mungkin terjadi pada kemasan botol atau galon PET yang digunakan sesuai prosedur, dan ditambah lagi dengan penggunaannya yang tidak berulang. Oleh karena itu, Chalid menilai kemasan galon atau botol PET aman dan banyak digunakan di seluruh dunia.

Sementara itu, Koordinator Substansi Standarisasi Bahan Baku, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, Yeni Restiani mengatakan jika diperlukan, pihaknya dapat melakukan penelitian terhadap kemasan galon atau botol yang mengandung senyawa etilen glikol.

"Untuk saat ini, kami masih fokus pada Bisphenol A (BPA) pada galon guna ulang," kata Yeni.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber Media Gathering 'BPA Labelling dan Ancaman B3 dalam Kemasan Pangan' di Jakarta, (18/10).

Yeni menyampaikan hingga saat ini, pihaknya masih terus mendorong penerapan regulasi pelabelan pada galon guna ulang dari plastik keras polikarbonat yang mengandung Bisphenol A (BPA). Mengingat BPA pada galon guna ulang dinilai mudah luruh dan mencemari air minum di dalamnya sehingga membahayakan konsumen air minum di Indonesia.

Sebelumnya, BPOM menyatakan terdapat empat sirup obat batuk dari India yang dituding menyebabkan gagal ginjal pada anak-anak di Gambia, Afrika karena mengandung Etilen Glikol. Keempat sirup obat batuk asal India tersebut adalah Promethazine Oral Solution, Kofexmalin, Makoff, dan Magrip N yang berasal dari satu sumber yaitu, Maiden Pharmaceuticals Limited, India.

Namun, BPOM RI menyebut keempat sirup obat batuk tersebut tidak terdaftar di Indonesia. Di samping itu, otoritas di India sudah memerintahkan Maiden Pharmaceuticals Limited untuk sementara waktu tidak melanjutkan produksi obat batuk yang dituding menjadi pemicu kematian puluhan anak di Gambia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah mengeluarkan rilis peringatan kepada seluruh dunia tentang bahaya yang bisa disebabkan oleh empat obat batuk sirup yang diproduksi Maiden Pharmaceuticals Limited, India.



Simak Video "Berikut Kebiasaan yang Dapat Memicu Kanker"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT