Terkuak, Riset Temukan Risiko Fatal pada Orang yang Kena COVID Lebih dari Sekali

ADVERTISEMENT

Terkuak, Riset Temukan Risiko Fatal pada Orang yang Kena COVID Lebih dari Sekali

Vidya Pinandhita - detikHealth
Senin, 14 Nov 2022 11:03 WIB
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept
Studi menemukan orang yang pernah terkena COVID-19 lebih dari sekali berisiko mengalami gangguan organ penting. Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Penelitian baru-baru ini menyebut orang yang terkena COVID-19 hingga lebih dari sekali berisiko mengalami gangguan pada sistem organ penting, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Seperti apa temuannya?

Hal itu disampaikan oleh dr Ziyad Al-Aly, ahli epidemiologi klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, dan penulis senior studi tersebut. Timnya menganalisis 5,3 juta catatan kesehatan dari Departemen Urusan Veteran AS berisi orang-orang yang tidak dites positif SARS-CoV-2 terhitung dalam Maret 2020 hingga April 2022, kemudian dibandingkan dengan 443.000 orang yang mendapatkan hasil positif sekali selama itu.

Kebanyakan dari kelompok terakhir yang diperiksa mengalami dua atau tiga kali infeksi virus Corona, sebagian kecil di antaranya sampai empat kali terinfeksi.

Peneliti menemukan, orang yang terkena COVID-19 lebih dari sekali tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit dan dua kali lebih mungkin meninggal daripada mereka yang hanya memiliki satu infeksi.

Dibandingkan orang-orang yang hanya pernah satu kali terkena COVID-19, mereka yang mengalami banyak infeksi juga lebih rentan terhadap kondisi fatal lainnya seperti:

  • 3,5 kali lebih mungkin mengalami masalah paru-paru
  • 3 kali lebih mungkin mengalami kondisi jantung
  • 1,6 kali lebih mungkin mengalami perubahan otak yang membutuhkan perawatan dibandingkan orang yang hanya pernah terkena COVID-19 sekali.

Penelitian lainnya sebagaimana yang dipaparkan dalam pertemuan tahunan Society for Neuroscience di November lalu, menyebut peradangan yang disebabkan oleh COVID-19 dapat berdampak lama pada otak. Tidak terkecuali, pada anak-anak yang sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19.

Studi lain dalam konferensi tersebut juga menunjukkan, orang dewasa yang memiliki gejala COVID-19 ringan juga mengalami perubahan otak dalam waktu empat bulan setelah infeksi.

"Yang kami ingin tahu, jika seseorang mengalami infeksi berkali-kali, apakah akan berpengaruh? Apakah infeksi ini akan memicu efek, atau sistem kekebalan telah beradaptasi karena telah tubuh telah mengalami infeksi sebelumnya dan mengembangkan cara untuk menghadapi (reinfeksi)?" kata Al-Aly dikutip dari Time, Senin (14/11/2022).

"Kami menemukan bahwa jika seseorang terinfeksi untuk kedua atau ketiga kalinya, infeksi itu akan memicu risiko masalah kesehatan tambahan. Bahkan, jika orang tersebut sudah divaksinasi (COVID-19)," pungkasnya.



Simak Video "Mengenal Hiposmia, Gejala Baru Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT