Rudy Salam Sempat 7 Tahun Depresi Sebelum Meninggal, Inikah Penyebabnya?

ADVERTISEMENT

Rudy Salam Sempat 7 Tahun Depresi Sebelum Meninggal, Inikah Penyebabnya?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Minggu, 20 Nov 2022 12:30 WIB
Rudy Salam
Rudy Salam (Foto: dok. Instagram Runa Salam)
Jakarta -

Rudy Salam meninggal dunia pada Jumat (18/11/2022). Kakak Roy Marten ini tutup usia usai disebut mengalami depresi dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Roy Marten mengungkapkan bahwa Rudy kerap menunjukkan gejala seperti merasa gelisah. Diakui Roy, ia tak tahu menahu tekanan apa yang dialami sang kakak tersebut.

"Selesai sudah penderitaan Mas Rudy, karena Mas Rudy tujuh tahun dalam penderitaan jadi ini menurut saya jalan yang terbaik, saya kira pertamanya depresi, saya nggak tahu kenapa," tutur Roy, dikutip dari InsertLive, Minggu (20/11).

"Tapi dulu pernah 10 tahun, 15 tahun lalu, dia selama dua tahun sakit sakit tetapi akhirnya sembuh. Yang pasti ada kegelisahan yang saya nggak tahu kenapa," sambung dia.

Dikutip dari Healthline, depresi diklasifikasikan sebagai gangguan mood. Kondisi ini dapat digambarkan sebagai perasaan sedih, kehilangan, atau kemarahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang.

Meskipun depresi dengan kesedihan memiliki beberapa ciri yang sama, namun depresi berbeda dengan kesedihan yang dirasakan setelah kehilangan orang yang dicintai atau kesedihan yang dirasakan setelah peristiwa kehidupan yang traumatis. Depresi biasanya melibatkan kebencian terhadap diri sendiri atau kehilangan harga diri, sedangkan kesedihan biasanya tidak.

Adapun beberapa kemungkinan yang menyebabkan depresi, di antaranya:

  1. kimia otak (brain chemistry). Ada ketidakseimbangan kimiawi di bagian otak yang mengatur suasana hati, pikiran, tidur, nafsu makan, dan perilaku pada orang yang mengalami depresi.
  2. Tingkat hormon. Perubahan hormon wanita estrogen dan progesteron selama periode waktu yang berbeda seperti selama siklus menstruasi, periode pascapersalinan, perimenopause, atau menopause.
  3. Sejarah keluarga. Seseorang berisiko lebih tinggi mengalami depresi jika memiliki riwayat keluarga depresi atau gangguan mood lainnya.
  4. Trauma masa kecil. Beberapa peristiwa memengaruhi cara tubuh bereaksi terhadap ketakutan dan situasi stres.
  5. Struktur otak. Ada risiko depresi yang lebih besar jika lobus frontal otak kurang aktif. Namun, para ilmuwan tidak tahu apakah ini terjadi sebelum atau setelah timbulnya gejala depresi.
  6. Kondisi tertentu, seperti penyakit kronis, insomnia, nyeri kronis, penyakit Parkinson, stroke, serangan jantung, dan kanker, mungkin menempatkan seseorang pada risiko yang lebih tinggi terkena depresi.
  7. Penggunaan zat. Riwayat penyalahgunaan zat atau alkohol.
  8. Orang yang merasakan sakit fisik emosional atau kronis untuk jangka waktu yang lama secara signifikan lebih mungkin mengalami depresi.


Simak Video "Top 5: #RIPTwitter yang Hebohkan Jagat Medsos hingga Polio Jadi KLB"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT