Epidemiolog Sebut RI Sudah di Puncak Kasus Omicron XBB, Bakal Separah Apa?

ADVERTISEMENT

Epidemiolog Sebut RI Sudah di Puncak Kasus Omicron XBB, Bakal Separah Apa?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 22 Nov 2022 18:05 WIB
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept
Ilustrasi virus COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7)
Jakarta -

Indonesia kini kembali menghadapi kenaikan kasus COVID-19, diduga akibat merebaknya subvarian Omicron XBB. Data terakhir per Senin (21/11/2022), RI mencatat 4.306 kasus baru COVID-19, dibarengi 6.855 kasus sembuh dan 43 kasus kematian.

Sebelumnya pada Rabu (16/11), RI sempat mencatat 8.486 kasus baru COVID-19 dibarengi 4.255 kasus sembuh dan 54 kasus kematian. Angka kasus harian tersebut merupakan rekor tertinggi, terhitung sejak April 2022.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyinggung, sekarang Indonesia telah mencapai puncak kasus COVID-19 pada gelombang kali ini. Menurutnya, 60 persen dari varian Corona yang merebak kini adalah gabungan subvarian Omicron XBB dan BQ.1.

Pun jumlah kasus harian pada gelombang kali ini masih akan naik lagi, Pandu menyoroti yang penting adalah gejala yang dialami pasien COVID-19 tidak tergolong berat.

"Sekarang sudah ada di puncak. Sudah cukup tinggi. Sekarang di mana-mana sudah mulai landai," ujar Pandu saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Selasa (22/11).

"Mungkin lebih tinggi (kasus harian) juga nggak apa-apa karena ada varian baru. Setiap ada varian baru itu lebih mudah menular. Dia mencari korban selalu orang-orang yang lemah, tidak mau vaksinasi, tidak disiplin. Jadi terinfeksi tapi tidak mati, tidak bikin masuk rumah sakit," imbuhnya.

Pandu juga menyebut, situasi COVID-19 di Indonesia kini sebenarnya sudah bisa dikatakan sebagai endemi. Namun catatannya, status endemi tidak menjamin suatu negara bebas dari penyakit COVID-19. Yang penting, kasus-kasus yang masih ada dalam kondisi terkendali.

"Endemi kan artinya walaupun ada penularan, tidak berdampak menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang berat. Jadi rumah sakit tenang-tenang saja," beber Pandu.

"Yang penting adalah bagaimana pandemi itu kita pertahankan untuk terus terkendali. Penularannya yang dikendalikan. 'Pandemi' kan cuma status. Kadang orang berpikiran begitu sekarang (pandemi) berakhir, nggak ada lagi penularan. Itu kan salah. Virus masih ada," pungkasnya.



Simak Video "Respons Pemda DIY soal Akhir Pandemi Covid-19 di Depan Mata"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT