Juragan Kripto Meninggal saat Tidur, Ini 7 Kondisi yang Mungkin Terjadi

ADVERTISEMENT

Juragan Kripto Meninggal saat Tidur, Ini 7 Kondisi yang Mungkin Terjadi

Fadilla Namira - detikHealth
Rabu, 30 Nov 2022 05:52 WIB
Awal tahun ini, perusahaan miliknya sudah menorehkan valuasi USD 3 miliar (Rp 47,1 triliun) dengan pendanaan USD 200 juta (Rp 3,1 triliun). Ini dikarenakan peranan TT dalam memimpin dikatakan sangat bagus, ditambah rasa ingin kolaborasi dan menolong sesama baik individual atau antar startup.
Tiantian Kullander (Foto: Amber Group)
Jakarta -

Juragan kripto Tiantian Kullander meninggal di usia yang masih muda, yakni 30 tahun. Tiantian atau juga dikenal dengan TT ini merupakan founder Amber Group, sebuah perusahaan aset digital asal Hong Kong.

Diketahui Kullander meninggal saat tidur pada 23 November 2022 kemarin. Kabar ini dikonfirmasi oleh perusahaan melalui laman resminya.

Penyebab Meninggal Saat Tidur

Dikutip dari Verywell Health, seseorang yang meninggal saat tidur biasanya mengalami kondisi kegagalan sistem organ. Paling sering adalah gagal jantung dan gagal paru-paru. Ketika salah satu organ ini mengalami kegagalan, ini akan berdampak pada kegagalan organ lainnya dalam waktu singkat.

Meninggal saat tidur atau disebut sebagai kematian nokturnal juga bisa disebabkan oleh kejadian tak terduga seperti stroke, kejang, dan overdosis obat.

Berikut kondisi medis yang bisa menyebabkan kematian nokturnal:

1. Gagal Jantung

Gagal jantung yakni kondisi jantung berhenti berdetak. Pada kondisi ini, terjadi perubahan ritme jantung yang memicu serangan jantung mendadak dan hilangnya fungsi jantung secara progresif.

Tanpa perawatan medis segera, kematian akibat gagal jantung mendadak akan terjadi dalam hitungan menit. Dari semua kemungkinan penyebab kematian saat tidur, henti jantung adalah penyebab yang paling umum.

2. Serangan Jantung

Berbeda dengan gagal jantung, serangan jantung adalah kondisi ketika pembuluh darah yang memasok otot jantung tersumbat dan jaringan yang disuplai rusak atau mati.

Serangan jantung secara masif dapat mengurangi aliran darah ke bagian otak yang mengontrol pernapasan, sehingga menyebabkan henti napas.

3. Aritmia

Aritima atau gangguan irama jantung terjadi saat impuls listrik ke jantung tidak bekerja dengan semestinya. Akibatnya, kontraksi jantung menjadi tidak teratur, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat, serta efektivitas pemompaan jantung jadi terganggu.

4. Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif adalah kondisi ketika jantung kelebihan beban volume, sehingga kemampuan untuk mengedarkan darah dapat terhenti sama sekali.

Gagal jantung kongestif juga memicu terjadinya gagal jantung dan serangan jantung.

5. Stroke

Stroke bisa berdampak pada batang otak, pernapasan, mata, kontrol otot, dan kesadaran. Ini menyebabkan stroke berakibat fatal dan bisa menyebabkan kematian nokturnal.

6. Henti Pernapasan

Ketika paru-paru tidak berfungsi dengan baik, kadar oksigen rendah sementara karbon dioksida naik, ini akan menyebabkan perubahan berbahaya terhadap asam basa tubuh.

Ketika ketidakseimbangan ini cukup kritis, henti napas bisa terjadi. Hal ini juga dapat menyebabkan tekanan berlebihan pada jantung dan menyebabkan gagal jantung secara progresif.

7. Pengaruh Racun

Pada beberapa kasus, kematian nokturnal bisa disebabkan oleh racun. Misalnya, keracunan karbon monoksida akibat ventilasi yang salah, sehingga menyebabkan kematian akibat sesak napas.

Selain itu, pengaruh obat-obatan tertentu yang digunakan untuk mengobati nyeri dan insomnia dapat meningkatkan risiko kematian dengan menekan bagian otak yang mengatur pernapasan. Ini biasa terjadi ketika obat overdosis atau dikombinasikan dengan depresan lain, termasuk alkohol.

Baca Juga:



Simak Video "Top 5: Mak Nyak Meninggal Dunia hingga China Kembali Dihantam Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT