Eks Pekerja Lab Wuhan Buka-bukaan, Ungkap Alasan Yakin COVID-19 Buatan Manusia

ADVERTISEMENT

Eks Pekerja Lab Wuhan Buka-bukaan, Ungkap Alasan Yakin COVID-19 Buatan Manusia

Vidya Pinandhita - detikHealth
Rabu, 07 Des 2022 08:32 WIB
This aerial view shows the P4 laboratory (centre L) on the campus of the Wuhan Institute of Virology in Wuhan in Chinas central Hubei province on May 27, 2020. - Opened in 2018, the P4 lab conducts research on the worlds most dangerous diseases and has been accused by some top US officials of being the source of the COVID-19 coronavirus pandemic. Chinas foreign minister on May 24 said the country was open to international cooperation to identify the source of the disease, but any investigation must be led by the World Health Organization and free of political interference. (Photo by Hector RETAMAL / AFP) (Photo by HECTOR RETAMAL/AFP via Getty Images)
Eks pekerja laboratorium di Wuhan menyebut COVID-19 adalah buatan manusia yang bocor akibat sistem keamanan yang buruk. Foto: AFP via Getty Images/HECTOR RETAMAL
Jakarta -

Geger pengakuan blak-blakan seorang mantan pekerja di laboratorium di Wuhan yang menyebut, COVID-19 awalnya adalah buatan manusia yang kemudian bocor dan merebak menjadi pandemi gegara sistem keamanan yang buruk.

Mantan pekerja tersebut adalah dr Andrew Huff, seorang ahli epidemiologi sekaligus mantan wakil presiden EcoHealth Alliance dalam periode 2014-2016. Dirinya adalah seorang peneliti berbasis di Amerika Serikat dan pernah bekerja di Institut Virologi Wuhan yang terkenal di China.

Dalam buku berjudul 'The Truth about Wuhan', dr Huff secara blak-blakan mengklaim bahwa AS bertanggung jawab atas kebocoran virus Corona. Menurutnya, pandemi COVID-19 disebabkan oleh pendanaan pemerintah AS untuk virus Corona di China.

"Aliansi EcoHealth dan laboratorium asing tidak memiliki langkah-langkah kontrol yang memadai untuk memastikan biosafety, biosecurity, dan manajemen risiko yang tepat, yang pada akhirnya mengakibatkan kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan," beber Huff dalam bukunya, dikutip dari Mint, Rabu (7/12/2022).

Pejabat China dan Wuhan beberapa kali menyangkal tudingan bahwa virus Corona adalah hasil kebocoran di laboratorium negara tersebut. Mengingat, sudah sejak awal pandemi merebak, Wuhan diyakini sebagai titik awal mula COVID-19.

"Laboratorium asing tidak memiliki langkah-langkah kontrol yang memadai untuk memastikan biosafety, biosecurity, dan manajemen risiko yang tepat, yang pada akhirnya mengakibatkan kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan," kata Andrew Huff lebih lanjut dalam bukunya.

Selama lebih dari satu dekade, EcoHealth Alliance mempelajari beberapa virus Corona pada kelelawar, menggunakan dana dari National Institutes of Health (NIH) dan menjalin hubungan dekat dengan laboratorium Wuhan. NIH adalah lembaga utama pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas penelitian biomedis dan kesehatan masyarakat.

Dalam percakapan eksklusif dengan The Sun, Huff menyatakan, laboratorium Wuhan telah mempraktikkan 'metode untuk merekayasa virus corona kelelawar untuk menyerang spesies lain' selama bertahun-tahun.'

dr Huff menyoroti keterlibatan AS dalam serangkaian penelitian tersebut, yakni dengan memasok dana. Namun gegara penelitian tersebut tidak dibarengi keamanan hayati yang mumpuni, terjadilah kebocoran di laboratorium dan memicu kebocoran virus Corona secara tidak sengaja.

"Aliansi EcoHealth mengembangkan SARS-CoV-2 dan bertanggung jawab atas pengembangan agen SARS-CoV-2 selama saya bekerja di organisasi tersebut," katanya dikutip.

Namun sembari itu dr Huff juga mengklaim, dirinya tidak melihat bukti bahwa China dengan sengaja menyebarkan virus tersebut.



Simak Video "Update Perkembangan Kasus Covid-19 Jelang Akhir Tahun 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT