Geger Serial Killer Wowon Cs, Mungkinkah Pembunuh Berantai Idap Gangguan Jiwa?

ADVERTISEMENT

Geger Serial Killer Wowon Cs, Mungkinkah Pembunuh Berantai Idap Gangguan Jiwa?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sabtu, 21 Jan 2023 07:35 WIB
Rumah kontrakan TKP serial killer di Bekasi (Ilham-detikcom)
Foto: Rumah kontrakan TKP serial killer di Bekasi (Ilham-detikcom)
Jakarta -

Kasus kematian sekeluarga di Bantargebang, Bekasi, yang sempat diduga keracunan ternyata adalah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh serial killer. Tak disangka pelaku pembunuhan berantai ini adalah orang terdekat korban.

Aksi pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Wowon Erawan alias Aki, Solihin alias Duloh, serta Dede Solehudin telah memakan sembilan korban.

"Mereka melakukan serangkaian pembunuhan atau biasa disebut serial killer dengan motif janji-janji yang dikemas dengan kemampuan supranatural untuk buat orang jadi sukses atau kaya," tutur Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran dalam konferensi pers, Kamis (19/1/2023).

Kasus pembunuhan berantai bikin bergidik karena kerap kali melibatkan banyak korban dengan cara menghilangkan nyawa yang sadis. Pelaku pembunuhan berantai juga sering dianggap memiliki gangguan jiwa karena kebanyakan orang 'normal' tidak pernah membayangkan melakukan hal yang sama.

Laman Psychology Today menjelaskan beberapa pembunuh berantai menunjukkan gejala psikosis, sementara yang lain didiagnosis dengan gangguan bipolar yang parah. Namun, sangat sedikit pembunuh berantai yang dianggap cukup sakit jiwa untuk dinyatakan gila secara hukum.

Sebaliknya, mayoritas menunjukkan tanda-tanda psikopat atau sosiopat; dalam hal diagnosis, mereka mungkin memenuhi kriteria gangguan kepribadian antisosial.

Gangguan kepribadian antisosial, yang dianggap ada pada banyak pembunuh berantai, memiliki akar genetik yang signifikan; dengan demikian, DNA kemungkinan besar memengaruhi perkembangan selanjutnya dari kecenderungan pembunuhan ekstrem.

Motif serial killer melakukan pembunuhan berantai tidak selalu karena alasan gangguan kejiwaan. Ada faktor lain seperti keuntungan finansial sampai keinginan untuk menguasai yang membuat pelaku menjadi pembunuh berantai.

"Penting untuk diingat bahwa terlepas dari motif spesifik pembunuh berantai melakukan pembunuhan, mereka melakukannya karena mereka ingin dan mau melakukannya," jelas kriminolog dan profesor di University of Miami, Prof Dr Scott Bonn.



Simak Video "Spesialis Kejiwaan Ingatkan untuk Tak Asal Self Diagnose Gangguan Jiwa"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT