Baru-baru ini viral pengguna TikTok mencoba teknik gua sha ke wajah lantaran tengah ngetren, konon diyakini bisa mengencangkan wajah. Saat mencoba, ia menemukan benjolan yang ternyata teridentifikasi sebagai kanker kulit. Kok bisa?
Sebelumnya, mari kenali dulu apa itu teknik gua sha.
Ahli sejarah kecantikan RacheL Weingarten menyebut gua sha adalah alat ekonomis yang dipakai para wanita untuk membantu merawat kulit. Bentuknya bisa beragam, tetapi biasanya gua sha terbuat dari batu giok, atau mineral lainnya yang kemudian dimodifikasi dalam alat berbentuk pipih. Penggunaannya cukup dipakai di wajah seperti tengah memijat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gadis-gadis cantik sudah terbiasa dengan ide batu giok, atau kuarsa mawar atau mineral lainnya, digunakan untuk memperbaiki tampilan kulit mereka dan membantu perawatan diri," katanya kepada Teen Vogue, dikutip Sabtu (11/2/2023).
Gua sha dipakai secara rutin untuk meningkatkan sirkulasi darah hingga mendorong drainase limfatik, yakni dipercaya menjadi pijatan untuk 'detoks', membantu tubuh membuang racun juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Alat ini juga seringnya digunakan dengan ditekan ke bagian wajah yang dinilai mengendur.
Di China, batu giok yang dipakai dalam teknik gua sha umumnya ditujukan untuk mengobati demam bahkan ketika terinfeksi virus. Namun, dalam perawatan kulit, sejumlah manfaat yang diklaim adalah membuat diri tampak awet muda dan ada sensasi relaksasi ketika melakukannya, tetapi hingga kini belum ada penelitian resmi yang menunjukkan sederet manfaat batu giok di teknik gua sha.
Cerita Viral
Sementara pada kasus viral yang terjadi April 2022, wanita yang bekerja di agen real estate mengeluhkan benjolan yang terus membesar di bagian rahang sebelah kiri. Keluhan itu dirasakan setelah mengikuti tren TikTok gua sha.
Ternyata, benjolan itu adalah pertanda dirinya berada di kanker stadium empat. Adalah Helen yang semula juga sempat didiagnosis kanker, tetapi sudah mendapatkan remisi alias sudah dievaluasi tidak ada lagi sel kanker di dalam tubuhnya.
Siapa sangka, pemindaian lebih lanjut juga melihat ada 20 tumor dalam tubuh Helen.
"Saya bertanya kepada dokter saya berapa lama menurutnya saya akan melakukannya, dan dia mengatakan seseorang telah datang kepadanya pada tahap yang sama dan mereka meninggal dalam enam minggu," kata Helen.
"Saya tidak bisa memberi tahu ayah saya, sangat sulit untuk menyampaikan berita semacam itu kepada anggota keluarga. Itu sangat menyakitkan di rahang saya, benjolan itu menekan saraf dan sulit untuk menelan," sambung dia.
Helen kini masih harus menjalani terapi sekitar satu tahun mendatang untuk melihat progres pemulihannya, ia berpesan agar orang-orang sedini mungkin mengecek tanda dan awal gejala kanker kulit, lantaran kerap tak disadari.
(naf/kna)











































