WHO Wanti-wanti 3 Kelompok Berisiko Fatal Imbas Suhu Panas 'Mendidih'

WHO Wanti-wanti 3 Kelompok Berisiko Fatal Imbas Suhu Panas 'Mendidih'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 20 Jul 2023 07:33 WIB
WHO Wanti-wanti 3 Kelompok Berisiko Fatal Imbas Suhu Panas Mendidih
Suhu panas ekstrem di Italia. (Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
Jakarta -

Suhu panas ekstrem semakin banyak dilaporkan sejumlah negara, beberapa fasilitas kesehatan dibuat kewalahan mengatasi pasien korban heatstroke. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kelompok paling berisiko mengalami kondisi fatal adalah pengidap komorbid atau mereka dengan riwayat penyakit jantung, diabetes, hingga asma.

"Panas ekstrem mengambil korban terbesar pada mereka yang paling tidak mampu mengelola akibatnya, seperti orang tua, bayi dan anak-anak, serta orang miskin, dan tunawisma," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari Channel News Asia, Kamis (20/7/2023)..

"Itu juga meningkatkan tekanan pada sistem kesehatan. Paparan panas yang berlebihan berdampak luas bagi kesehatan, seringkali memperkuat kondisi yang sudah ada sebelumnya dan mengakibatkan kematian dini dan kecacatan," wanti-wantinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

WHO saat ini bekerja dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), sesama badan PBB yang berbasis di Jenewa, untuk mendukung negara-negara dalam mengembangkan rencana aksi cuaca panas, mengoordinasikan kesiapsiagaan dan mengurangi dampak panas berlebihan terhadap kesehatan.

Maria Neira, Kepala Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO, mengatakan badan tersebut sangat khawatir dengan wanita hamil dan pengidap diabetes serta penyakit kardiovaskular, serta asma, karena polusi udara akan menjadi bagian dari masalah.

ADVERTISEMENT

Masyarakat disebutnya perlu menghindari olahraga selama cuaca terpanas, sebisa mungkin berada di tempat yang sejuk dalam ruangan, mewaspadai risiko heatstroke atau serangan panas.

Para ahli menyalahkan gelombang panas pada perubahan iklim, didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan karbon dioksida gas rumah kaca ke atmosfer.

Selain langkah-langkah baru untuk mengatasi panas dalam beberapa hari mendatang, Neira mengatakan dalam jangka panjang, negara-negara perlu melakukan dekarbonisasi untuk mengurangi penyebab perubahan iklim, yang memperburuk dan meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas tersebut. .

"Itu akan membantu kita mengurangi gelombang panas dengan cara yang sangat penting."

"Pejabat kota perlu memikirkan perencanaan kota mereka untuk memastikan orang memiliki tempat berlindung di saat panas ekstrem," tambahnya.

Badan cuaca WMO PBB mengatakan suhu tinggi yang berulang pada malam hari merupakan risiko kesehatan tertentu karena tubuh tidak dapat pulih dari hari yang panas, yang menyebabkan lebih banyak serangan jantung dan kematian.




(naf/naf)

Berita Terkait