Ilmuwan 'Bangkitkan' Cacing Purba Berusia 46 Ribu Tahun dari Permafrost

Ilmuwan 'Bangkitkan' Cacing Purba Berusia 46 Ribu Tahun dari Permafrost

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Selasa, 01 Agu 2023 18:31 WIB
Ilmuwan Bangkitkan Cacing Purba Berusia 46 Ribu Tahun dari Permafrost
Ilustrasi cacing purba (Foto: Shatilovich dkk)
Jakarta -

Para ilmuwan telah menghidupkan kembali cacing beku yang berasal dari 46 ribu tahun yang lalu. Cacing gelang, dari spesies yang sebelumnya tidak diketahui, bertahan 40 meter di bawah permukaan permafrost Siberia dalam keadaan tidak aktif yang dikenal sebagai kriptobiosis.

Organisme dalam keadaan kriptobiotik dapat bertahan tanpa air atau oksigen sama sekali dan tahan terhadap suhu tinggi, serta kondisi beku atau sangat asin. Mereka tetap dalam keadaan 'antara kematian dan kehidupan', di mana tingkat metabolisme mereka menurun ke tingkat yang tidak terdeteksi.

"Seseorang dapat menghentikan hidup dan kemudian memulainya dari awal. Ini temuan besar," kata Teymuras Kurzchalia, profesor emeritus di Max Planck Institute of Molecular Cell Biology and Genetics di Dresden dan salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tersebut dikutip dari CNN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lima tahun lalu, para ilmuwan dari Institute of Physicochemical and Biological Problems in Soil Science di Rusia menemukan dua spesies cacing gelang di permafrost Siberia.

Salah satu peneliti, Anastasia Shatilovich, menghidupkan kembali dua cacing di institut tersebut dengan hanya menghidrasinya kembali dengan air, sebelum membawa sekitar 100 cacing ke laboratorium di Jerman untuk analisis lebih lanjut, lalu membawanya ke dalam sakunya.

ADVERTISEMENT

Setelah cacing dicairkan, para ilmuwan menggunakan analisis radiokarbon dari bahan tanaman dalam sampel untuk menetapkan bahwa endapan tersebut belum dicairkan sejak antara 45.839 dan 47.769 tahun yang lalu.

Tapi tetap saja, mereka tidak tahu apakah cacing itu adalah spesies yang dikenal. Akhirnya, analisis genetik yang dilakukan oleh para ilmuwan di Dresden dan Cologne menunjukkan bahwa cacing ini milik spesies baru, yang oleh para peneliti diberi nama Panagrolaimus kolymaenis.

"Dengan melihat dan menganalisis hewan-hewan ini, kita mungkin dapat menginformasikan biologi konservasi, atau bahkan mungkin mengembangkan upaya untuk melindungi spesies lain, atau setidaknya mempelajari apa yang harus dilakukan untuk melindungi mereka dalam kondisi ekstrem yang kita alami sekarang ini," ujar Philipp Schiffer, ketua kelompok penelitian Institut Zoologi di Universitas Cologne dan salah satu ilmuwan yang terlibat.




(kna/vyp)

Berita Terkait