Penyakit jantung adalah salah satu kondisi medis yang sangat berbahaya. Jika tidak ditangani dengan tepat, pengidapnya bisa mengalami efek yang fatal bahkan mengancam nyawa.
Serangan jantung dan henti jantung menjadi penyakit jantung yang banyak diketahui orang. Meski sama-sama terjadi pada jantung, kedua kondisi itu ternyata memiliki perbedaan.
"Ini dua hal yang kedengarannya sama, padahal ini adalah dua kondisi yang berbeda," ungkap spesialis jantung dan pembuluh darah dr Siska Suridanda Danny, SpJP(K), dalam temu media, Jumat (23/2/2024).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Siska menjelaskan serangan jantung merupakan kondisi tersumbatnya otot pada satu atau lebih pembuluh darah koroner. Kondisi ini terjadi secara tiba-tiba atau mendadak.
"Sehingga sebagian otot jantung mengalami kerusakan, akibat tidak mendapatkan asupan oksigen. Gejala umumnya adalah nyeri dada," katanya.
Sementara henti jantung adalah kondisi jantung yang mendadak berhenti berdenyut. dr Siska mengungkapkan penyebab paling sering dari henti jantung adalah serangan jantung.
Namun, itu bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya henti jantung.
"Bisa juga karena gangguan irama jantung, penyakit jantung katup, kardiomiopati hipertrofik, dan lain-lain itu juga bisa menyebabkan henti jantung," jelas dr Siska.
"Gejala umum yang muncul adalah kejang atau tiba-tiba tidak sadarkan diri," lanjutnya.
Dikutip dari Penn Medicine, kardiomiopati hipertrofik (HCM) adalah suatu kondisi yang mempengaruhi ventrikel kiri, yang merupakan ruang pemompaan utama jantung. Dinding ventrikel kiri menjadi tebal dan kaku.
Seiring berjalannya waktu, jantung tidak mengambil atau memompa cukup darah pada setiap detak jantung untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kondisi HCM ini biasanya disebabkan oleh varian genetik yang diturunkan (kardiomiopati hipertrofik familial).
(sao/kna)











































