Jerit Anak 9 Tahun Kehilangan Ayah yang Dibakar Hidup-hidup Dalam Serangan Israel

Jerit Anak 9 Tahun Kehilangan Ayah yang Dibakar Hidup-hidup Dalam Serangan Israel

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jumat, 31 Mei 2024 11:07 WIB
Jerit Anak 9 Tahun Kehilangan Ayah yang Dibakar Hidup-hidup Dalam Serangan Israel
Potret kamp yang terbakar. (Foto: Reuters)
Jakarta -

Pilu, bocah 9 tahun kehilangan ayahnya yang 'dibakar hidup-hidup' dalam serangan pengeboman Israel ke kamp tenda pengungsi di Rafah, Minggu (26/5/2024). Momen tersebut terekam oleh salah satu fotografer di Gaza.

Kala itu, anak bernama Omar Hamad hanya bisa terus berteriak. "Ayahku sudah pergi, kemana aku akan pergi? Dia ada di dalam sana, terbakar, aku tidak tahu harus bagaimana hidup tanpanya," jerit Omar, dilaporkan Al Jazeera, Jumat (31/5).

Omar bak mematung dan hanya bisa menangis menerima kenyataan kematian ayahnya. Tidak ada satupun orang selamat keluar dari kamp yang terbakar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ayah Omar kala itu berada di tenda temannya, dirinya sempat berpesan kepadanya agar segera melarikan diri jika terjadi sesuatu. Kobaran api terus menyebar di sejumlah kamp, pengungsi yang selamat mencoba membantu evakuasi mereka yang terbakar, tetapi sayangnya kondisi tubuh banyak orang sudah tidak memungkinkan untuk hidup.

Semua orang menuangkan ember berisi air ke tubuh korban, termasuk ayah Omar. Saksi mata mengatakan beberapa orang terbakar terlalu parah untuk diselamatkan. Bahkan, paramedis menolak mengizinkan Omar melihat saat-saat terakhir ayahnya di rumah sakit lantaran kondisinya sudah tidak layak lagi.

ADVERTISEMENT

"Mereka membawanya saat aku menangis dan berlari mengejarnya, aku tidak pernah membayangkan suatu hari akan kehilangan ayah," cerita dia.

Omar adalah satu dari ribuan anak di Gaza yang harus menghadapi trauma parah imbas kehilangan keluarga. Setidaknya 25.000 anak menjadi yatim piatu sejak serangan Israel ke Gaza dimulai.

"Aku ingin mengatakan hentikan perang. Saya ingin kita semua kembali ke rumah kita dan kembali ke kehidupan normal kita," harapnya.




(naf/naf)

Berita Terkait