Kisah Ruly dan 3 Saluran Jantung Baru yang Mengembalikan Kualitas Hidupnya

Kisah Ruly dan 3 Saluran Jantung Baru yang Mengembalikan Kualitas Hidupnya

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 13 Nov 2025 15:13 WIB
Kisah Ruly dan 3 Saluran Jantung Baru yang Mengembalikan Kualitas Hidupnya
Foto: Dok. Siloam Heart Hospital
Jakarta -

"Here, making each day of the years," ujar Ruly (70) saat ditanya tentang apa lirik favoritnya dari lagu-lagu The Beatles. Ruly mengaku mendengarkan The Beatles adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Tentu, selain ucapan cinta yang tak mengenal hari libur untuk istrinya, Maria.

"Makanya saya setiap hari ya, saya bilang 'I love you' ke istri saya. Dan, saya tanya sama dia 'kamu bosen nggak?' Enggak. Dia senang," kata Ruly dengan hangat kepada detikcom, di Jakarta Selatan, Rabu (17/9/2025).

Bukan tanpa alasan, Ruly sempat mengalami kejadian yang cukup menyeramkan, yakni serangan jantung. Sebuah masalah kesehatan yang datang tiba-tiba, hingga membuat keluarganya khawatir bukan kepalang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan Jantung Datang Tanpa Aba-aba

Saat itu tahun 2005, bulan Agustus. Langit pagi di Ibu Kota sedang cerah-cerahnya dan Ruli memutuskan untuk lari-lari kecil di sekitaran komplek rumah ibunya, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sebelum berangkat ke kantor. Kala itu, ia mengaku tak ada masalah di tubuhnya dan tak ada tanda-tanda kurang nyaman pada jantungnya. Tapi, serangan jantung itu datang. Tanpa pemberitahuan.

"Suatu kali saya kaget, waktu saya lagi lari-lari kecil, tiba-tiba penglihatan saya jadi gelap dan tiba-tiba saya jatuh saja, saya nggak tahu lagi," kata Ruly.

ADVERTISEMENT

"Saya nggak tahu saya di mana, gelap lah. Serangan jantung itu betul-betul (bikin) saya kaget ya," sambungnya.

Ruly yang tergeletak ditemukan oleh warga sekitar, dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Ia bercerita bahwa tak ingat apa-apa. Saat Ruly siuman, dirinya sudah berada di kamar rumah sakit.

"Terus terang saya kaget sih dan itu peristiwa yang saya nggak akan lupa," katanya.

Siloam Heart HospitalKehangatan Ruly dan sang istri, Maria. Foto: Dok. Siloam Heart Hospital

Hidup Sehat Saja Tidak Cukup

Ruly sendiri tak mengerti mengapa dirinya terkena serangan jantung dan penyumbatan jantung. Padahal, ia sejak kecil selalu menerapkan gaya hidup sehat dan pola makan terjaga.

"Sejak kecil memang saya orangnya hidup teratur, dari kecil udah tahu namanya 4 sehat 5 sempurna. Dan saya orangnya, istilahnya disiplin, teratur. Saya sejak kecil olahraga, saya belajar bela diri dan sebagainya," kata Ruly.

"Jadi nggak nyangka sih ya, bahwa orang seperti saya (yang hidup sehat), kalau saya bisa terkena serangan jantung. Ternyata dengan pola makan dan olahraga teratur, ternyata bisa kena juga," sambungnya.

Namun, Ruly menyadari bahwa serangan jantung tersebut kemungkinan besar berasal dari faktor genetik yang menyertainya, serta rasa stres yang bisa saja sudah mencapai titik puncaknya.

"Saya sadari ada faktor genetik, dari keluarga, ayah saya. Itu memang kena sakit jantung. Jadi kemungkinan itu. Kedua mungkin saya sadari juga kerjaan saya yang sangat menantang dan stressful," katanya.

"Kedua, mungkin saya sadari juga kerjaan saya yang sangat menantang dan stres berlebihan," sambungnya.

Saran Dokter untuk Operasi Jantung

Atas peristiwa tersebut, dokter sudah menyarankan Ruly untuk segera menjalani tindakan operasi. Menurut dokter, kondisi Ruly saat itu termasuk 'bahaya', sehingga tindakan bedah adalah cara terbaik untuk menyelamatkannya.

Berpikir bahwa akan ada alat asing memasuki tubuhnya, Ruly tak langsung memutuskan untuk meng-iya-kan saran dokter. Padahal, saran tersebut keluar dari tenaga medis dari rumah sakit yang diklaim terbaik di Ibu Kota.

"Waktu itu saya terus terang merasa bahwa, kamar sih bagus, tapi ternyata buat saya kok saya nggak dilayani dengan baik ya. Sampai saya sering nanya gitu, 'Ini sebenarnya saya mau diperiksa apalagi?'. Terus dibilang, 'Bapak besok harus dioperasi'. Wah, saya takut banget," katanya.

"Tiba-tiba kok main operasi gitu. Saya takut banget. Saya merasa kayak ditakut-takutin. Saya merasa kok saya jadi pasien jantung, kok jadi pesakitan gini. Karena saya kan pengen konsultasi dulu," sambungnya.

Terkait kondisinya, Ruly masih tetap berusaha mencari second opinion dari beberapa dokter jantung yang ia temui. Menurutnya, dari tiga dokter yang ia tanya, mereka satu suara bahwa kondisi Ruly sebenarnya tak membutuhkan operasi.

Jatuh Hati di Siloam Heart Hospital

Setelah kejadian serangan jantung tersebut, Ruly masih bisa melanjutkan aktivitasnya dengan normal, meski tanpa tindakan operasi seperti apa yang disarankan oleh dokter sebelumnya. Namun, kondisinya berubah ketika pandemi COVID-19 menyerang.

"Ternyata habis COVID-19 kok saya agak merasa sesak-sesak badan saya ya," katanya.

Mengetahui kondisinya, seorang teman Ruly tiba-tiba meneleponnya. Di ujung telepon tersebut, kawan baiknya merekomendasikan Siloam Heart Hospital untuk memeriksa jantung.

"Asyik deh, lo bisa ngobrol sama dia (dokternya) dan nanya apa yang lo mau tanya, dia pasti jawab. Nggak akan lo diultimatum seperti yang lo ceritain itu," kata teman Ruly.

Mendengar hal ini, Ruly memutuskan untuk berkonsultasi dengan salah satu dokter di Siloam Heart Hospital, Cinere yaitu dr. Jeffrey Wirianta, Sp.JP (K), FIHA, seperti yang disarankan oleh kawannya, Ruly menanyakan semua hal terkait jantung dan tubuhnya, bahkan pada detail-detail kecil sekalipun.

"Saya kan engineer, saya ingin tahu gitu apa yang terjadi di badan saya. Pertanyaan saya sampai detail, segala macam saya tanya. Tapi, si dokternya dia happy saja," kata Ruly.

"Saya merasa di-manusia-kan sebagai orang sakit. Saya merasa bisa memperoleh informasi, tapi saya kan harus tahu badan saya ini kan saya yang tanggung jawab," sambungnya.

Pelayanan yang diberikan dr. Jeffrey dan Siloam Heart Hospital mampu menghilangkan keraguan yang ada di benak Ruly selama ini. Dirinya memutuskan untuk lanjut mendapatkan tindakan bypass.

"Saya nggak merasa takut dan nggak ada serem yang dulu namanya orang mau dioperasi," tegas Ruly.

Siloam heart hospitalSpesialis bedah toraks kardiovaskular, dr. Heston Napitupulu, Sp.BTKV (K)-D (Foto: Dok. Siloam Heart Hospital)

Tangan 'Ajaib' dr. Heston Napitupulu

Spesialis bedah toraks kardiovaskular, dr. Heston Napitupulu, Sp.BTKV (K)-D menjadi sosok yang menjalankan operasi bypass jantung (CABG) pada Ruly.

Sebagai informasi, CABG (coronary artery bypass graft) atau biasa dikenal dengan operasi bypass jantung adalah suatu tindakan bedah yang bertujuan untuk mengatasi penyakit jantung koroner. Tindakan ini dilakukan pada individu yang mengalami penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah arteri yang berat.

Prosedur CABG dilakukan dengan membuat jalur baru di sekitar pembuluh darah arteri yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Pembuatan jalur pembuluh darah alternatif ini diperlukan untuk memulihkan kelancaran aliran darah sehingga otot jantung dapat terus menerima suplai oksigen dan nutrisi yang cukup.

"Setelah kami melakukan pemeriksaan pasien, kami menemukan bahwa pasien ini tidak cocok lagi dilakukan pemasangan ring (jantung) karena banyak sumbatan yang terdapat di pembuluh darahnya, ada lebih dari tiga sumbatan," kata dr. Heston.

"Ditambah dengan satu pembuluh darah utama itu juga ikut tersumbat," sambungnya.

Dengan operasi CABG, dr. Heston menjelaskan bahwa pasien akan mendapatkan pembuluh darah 'baru' yang melewati daerah-daerah yang tersumbat.

"Bahan untuk operasi ini kami ambil dari pembuluh darah di kaki dan satu dari belakang dinding dada yang akan kami sambungkan ke pembuluh darah jantung," katanya.

Pasca-operasi, pasien akan diberikan tindakan rehabilitasi jantung medik berupa rehab medik jantung. Ini bertujuan agar pasien bisa pulang ke rumah itu dengan keadaan lebih baik dan bisa melakukan aktivitas lagi.

Kejutan Pasca-operasi

Setelah menjalani operasi di Siloam Heart Hospital bersama dr. Heston, kejutan kembali didapatkan Ruly. Namun, ini benar-benar kejutan yang membuatnya bisa tersenyum lebih lebar.

"Saya terkejut benar dengan kata-kata yang diberikan oleh dr. Jeffrey. Saya konsultasi lagi, 'Pak, ini jantung bapak ini salurannya udah baru tiga. Ini jantung sekarang udah ok'," kata Ruly menceritakan percakapannya kala itu.

Bukan tanpa alasan, sebagai pasien yang telah menjalani operasi besar pada jantung, tentu muncul ketakutan apakah ke depannya ada aktivitas-aktivitas yang tidak bisa ia lakukan. Kalaupun masih bisa dilakukan, namun dengan intensitas yang dikurangi.

"Saya habis itu berenang lagi, asik, saya bisa jalan, saya bisa olahraga. Kelihatan dari muka saya juga kan, kalau orang segar itu kan kelihatan," tutupnya.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Berawal dari Keraguan, Operasi Jantung pun Berikan Harapan"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)

Berita Terkait