Korban Bencana Sumatera-Aceh 'Dihantui' Trauma, Butuh Pemulihan Psikologis

Duka dari Utara Sumatera

Korban Bencana Sumatera-Aceh 'Dihantui' Trauma, Butuh Pemulihan Psikologis

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 04 Des 2025 08:10 WIB
Korban Bencana Sumatera-Aceh Dihantui Trauma, Butuh Pemulihan Psikologis
Warga terdampak banjir bandang mengungsi di gudang milik warga di Desa Sumuran, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Foto: ANTARA FOTO/Yudi Manar)
Jakarta -

Para penyintas bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut), dan Aceh saat ini sedang 'dihantui' dampak psikologis yang berat, meski kondisi sudah perlahan berangsur pulih.

Tim-tim trauma healing dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), hingga pihak universitas mulai diterbangkan menuju lokasi bencana untuk membantu memulihkan kondisi psikologis korban.

Trauma Apa Saja yang Bisa Dialami Korban?

Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih mengatakan trauma psikologis yang mungkin dialami korban bencana bisa berkaitan dengan kejadian mengerikan yang sebelumnya mereka lihat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bisa saja menjadi takut air, takut hujan, atau takut kembali ke lokasi yang sama karena semua itu terhubung dengan memori menakutkan," kata Rani, kepada detikcom saat dihubungi, Kamis (4/12/2025).

Rani melanjutkan bahwa anak-anak merupakan korban yang paling rentan mengalami trauma pasca-bencana.

ADVERTISEMENT

"Pengalaman traumatis bisa muncul karena mereka belum memiliki kapasitas emosional untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang mereka lihat seperti air besar, suara keras, kepanikan orang dewasa langsung terekam sebagai sesuatu ancaman," katanya.

"Hal ini terjadi melalui proses conditioning di otak, selain itu adanya rasa tidak aman, kewaspadaan berlebihan, mereka tidak mau jauh dari orang tua, atau tampak cemas karena memang tubuh mereka masih berada dalam mode siaga," sambungnya.

Pendekatan Psikologis Fokus pada Hal Sederhana

Untuk menyembuhkan trauma korban bencana, khususnya pada anak-anak, para penolong menurut Rani harus fokus kepada memulihkan rasa aman mereka terlebih dahulu.

"Memberi ruang untuk mengekspresikan pengalaman, memvalidasi emosi yang mereka rasakan. Anak bisa diajak menggambar, bermain, atau bercerita. Cara ini membantu mereka memproses emosi tanpa harus dipaksa menceritakan detail traumatis," katanya.

"Mengakui bahwa rasa takut yang mereka rasakan adalah sesuatu yang wajar membuat anak merasa tidak sendirian dan menurunkan respons terhadap stres," tutupnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Lansia Juga Bisa Alami Gangguan Kesehatan Mental, Seperti Apa?"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/kna)

Berita Terkait