MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara

MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kamis, 25 Des 2025 13:25 WIB
MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ramai sejumlah pihak menilai makan bergizi gratis (MBG) sebaiknya dihentikan saat libur sekolah karena dianggap tidak efektif, sulit diawasi, hingga dicurigai sekadar upaya menghabiskan anggaran akhir tahun.

Perdebatan tersebut menguat setelah distribusi menu MBG di libur sekolah 'dirapel' dan dibagikan dalam bentuk makanan kering. Sebagian masyarakat mempertanyakan urgensinya, terutama untuk anak sekolah yang tidak hadir di kelas dan dinilai bisa mendapatkan asupan makanan dari rumah.

Menanggapi hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan tidak akan menghentikan program MBG selama libur sekolah. Kepala BGN Prof Dadan Hindayana menekankan program ini tidak semata-mata bergantung pada kalender pendidikan, melainkan pada kebutuhan gizi kelompok rentan yang harus dijaga secara berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Intervensi pemenuhan gizi adalah bagian yang sangat penting, sehingga kontinuitasnya perlu dijaga," kata Prof Dadan saat dihubungi detikcom, Kamis (25/12/2025).

Ia menjelaskan, sasaran utama MBG tidak hanya anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Kelompok ini merupakan prioritas nasional dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

ADVERTISEMENT

"Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita adalah bagian yang krusial dari program MBG," ujarnya.

Prof Dadan mengklaim pemenuhan gizi pada kelompok tersebut berkaitan langsung dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan, fase emas yang menentukan tumbuh kembang anak.

"1.000 hari pertama kehidupan waktunya pendek. Kita harus menjaga golden time itu. Dan mereka juga tidak ada hubungannya dengan waktu sekolah," tegasnya.

Adapun untuk sasaran anak sekolah, Prof Dadan menyebut pelaksanaan MBG selama libur bersifat fleksibel dan tidak dipaksakan. Ia memastikan tidak ada kewajiban bagi seluruh anak sekolah untuk tetap menerima MBG jika secara teknis tidak memungkinkan.

"Untuk anak sekolah sifatnya opsional. Bagi yang tidak memungkinkan mengambil atau dikirim karena alasan teknis, atau ada yang pergi berlibur, tidak masalah," jelasnya.

Namun, BGN memastikan layanan tetap diberikan bagi anak sekolah yang membutuhkan dan dapat dijangkau oleh sistem distribusi MBG.

"Tapi bagi yang membutuhkan, kita tetap layani," kata Prof Dadan.

BGN menilai, polemik penghentian MBG saat libur sekolah perlu dilihat secara lebih utuh. Menurut Prof Dadan, penghentian total justru berisiko memutus intervensi gizi bagi kelompok rentan yang tidak bisa menunggu.

"Kalau intervensi gizi terputus, dampaknya tidak bisa langsung terlihat, tapi efek jangka panjangnya besar," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(naf/naf)

Berita Terkait