'Super Flu' Subclade K Sudah Ditemukan di Indonesia

Detik Pagi

'Super Flu' Subclade K Sudah Ditemukan di Indonesia

Trypama Randra - detikHealth
Jumat, 02 Jan 2026 07:58 WIB
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan Influenza A (H3N2) subclade K atau yang lebih dikenal dengan nama 'Super Flu' sudah ditemukan sejak 25 Desember 2025. Meski demikian, keberadaan subclade K tidak memengaruhi kondisi epidemi influenza di Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Prima Yosephine mengungkapkan berdasarkan hasil pemantauan kasus influenza, tren kasus influenza justru menurun dalam 2 bulan terakhir, dengan varian dominan influenza A.

"Meskipun seperti itu, tetap semua kewaspadaan tetap disiapkan diantaranya adalah himbauan untuk menggunakan masker jika dalam kondisi tidak sehat serta meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS," ungkap dr Prima pada detikcom, Selasa (30/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, efektivitas vaksin influenza yang ada saat ini dinilai masih cukup baik dalam mencegah dampak berat.

"Diperkirakan, efektivitas vaksin terhadap subclade ini berkisar antara 64 hingga 78 persen pada anak-anak dan 41 hingga 55 persen pada kelompok dewasa dalam mengurangi keparahan paparan," kata dr Prima.

ADVERTISEMENT

"Observasi pada peningkatan proporsi varian ini di Eropa selama Mei hingga November 2025 menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap efek keparahan, baik dari sisi angka rawat inap, perawatan intensif, maupun kematian," ungkap dr Prima.

Pasien 'Super Flu' di RI Didominasi Usia Anak

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga akhir Desember 2025 mencatat terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Mayoritas pasien merupakan perempuan dan kelompok usia anak.

Dominasi kasus pada anak-anak ini mendapat sorotan serius dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ketua Umum IDAI dr Piprim B Yanuarso mengingatkan para orangtua untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak, terutama di tengah meningkatnya dinamika penularan penyakit infeksi saluran pernapasan.

"Subclade K ini memang agak sulit dikenali dan bisa menembus kekebalan yang sudah ada sebelumnya," kata dr Piprim dalam media briefing, Senin (29/12/2025).

Menurut dr Piprim, istilah 'super flu' tidak berarti virus ini selalu berujung fatal. Namun, sebutan tersebut muncul karena gejalanya dapat lebih berat dibandingkan flu musiman, terutama jika menyerang kelompok rentan, misalnya anak-anak dengan penyakit penyerta.

"Pada anak-anak, kejadian influenza tipe A apabila mengenai anak dengan penyakit bawaan atau komorbid, dampaknya bisa jauh lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid," ujarnya.

Selain faktor virus, dr Piprim juga menyoroti kondisi lingkungan yang dinilai kurang ideal. Banjir dan bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah, terutama di Sumatera dan Kalimantan Selatan, berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular.

"Kita sedang menghadapi banjir dan banyak bencana di beberapa wilayah. Kita turut prihatin terhadap saudara-saudara kita dan jangan sampai kondisi ini diperberat dengan tambahan kasus influenza," kata dr Piprim.

Situasi pengungsian, keterbatasan sanitasi, dan kepadatan hunian dinilai dapat meningkatkan risiko penularan, khususnya pada anak-anak.

Gejala Subclade K yang Harus Diwaspadai

Dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengatakan, gejala yang muncul akibat infeksi subclade K dinilai lebih parah daripada flu biasa atau COVID-19.

"Untuk subclade K memiliki gejala-gejala yang lebih parah seperti demam tinggi 39-41 derajat celsius, nyeri otot berat, kelelahan atau lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala dan tenggorokan berat," kata dr Agus saat dihubungi, Selasa (30/12/2025).

"Sedangkan flu biasa dan COVID yang saat ini gejalanya ringan sampai sedang," sambungnya.

Penularannya dianggap cepat dan banyak, satu pasien bisa menulari dua hingga tiga orang. dr Agus tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan tindakan preventif, di antaranya:

- Menjaga stamina tubuh dengan makan minum cukup dan bergizi, istirahat cukup, olahraga
- Jaga kebersihan lingkungan
- Cuci tangan teratur
- Pakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian
- Vaksinasi influenza
- Bila sakit flu, jangan batuk, bersin sembarangan.
- Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin

DPR Minta Kemenkes Gerak Cepat

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mendesak Kemenkes gerak cepat mencegah potensi lonjakan kasus influenza pasca ditemukannya subclade K yang belakangan dikenal dengan sebutan 'super flu'.

Ia juga menyoroti laporan global soal dominasi subclade K yang dinilai memiliki tingkat penularan tinggi. Dikhawatirkan berdampak pada beban layanan kesehatan.

"Jika vaksin yang saat ini digunakan tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap subclade K, kami meminta Kemenkes segera melakukan uji ulang, membuka hasilnya secara transparan kepada publik, serta menyusun langkah antisipasi berupa vaksin alternatif yang lebih efektif," kata Nihayatul, yang akrab disapa Ninik, di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Ninik menekankan setidaknya tiga langkah yang perlu segera dilakukan. Selain evaluasi dan uji ulang efektivitas vaksin influenza yang beredar terhadap varian subclade K, Kemenkes RI disebut perlu merilis data soal surveilans virus influenza di Indonesia.

Keterbukaan data disebutnya menjadi kunci agar publik dan pemangku kepentingan memahami tingkat risiko serta kesiapan negara dalam menghadapi potensi lonjakan kasus.

Diberitakan sebelumnya, subclade K merupakan varian baru dari virus Influenza A (H3N2) yang dalam beberapa bulan terakhir mendominasi gelombang kasus flu di sejumlah negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Meski otoritas kesehatan dunia menyebut varian ini tidak secara inheren lebih mematikan, tingkat penularannya yang tinggi menyebabkan lonjakan jumlah kasus dan meningkatkan tekanan pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Data terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan 'super flu' jelas berperan besar pada musim flu tahun ini di AS. Tercatat lebih dari 81 ribu kasus rawat inap dengan 3.100 orang meninggal. Mayoritas kasus dengan infeksi influenza A (H3N2) subclade K.

Saksikan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Rabu (02/01/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"

(vrs/vrs)

Berita Terkait