Badan Gizi Nasional (BGN) mengantisipasi potensi kenaikan harga telur menjelang lebaran dengan meminta satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) melakukan penyesuaian dan variasi menu, termasuk mengganti lauk berbasis telur dengan ikan atau sumber protein lain.
Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyan mengatakan kebijakan ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di pasar, sekaligus memastikan program pemenuhan gizi tetap berjalan optimal.
"Menjelang Lebaran nanti jangan sampai berantem sama yang mau bikin kue. Jadi penggunaan telur segala macam harus diganti, harus beragam lah, bervariasi. Diganti tadi ya, sama ikan lele. Jadi jangan sampai memicu inflasi dan kelangkaan gitu," beber Nanik saat ditemui di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan tersebut, Nanik juga sempat bertanya langsung kepada para siswa penerima MBG untuk mendapat respons soal pergantian menu. "Bagaimana, pada setuju nggak kalau diganti ikan lele?" tanya Nanik.
Para siswa mengatakan setuju.
"Menu harus divariasi. Lele, nila, mau kok anak-anak, pasti suka kan, biar kayak makan pecel lele," kata Nanik.
Sudah Pernah Dilakukan saat Nataru
Nanik menyebut kebijakan serupa sebenarnya sudah pernah diterapkan saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan dinilai berhasil menahan laju kenaikan harga di pasaran.
"Sudah ada imbauan. Nanti kita juga akan imbaukan lagi seperti waktu itu, ya, waktu Nataru. Kita bilang, 'jangan banyak pakai telur supaya yang Natalan nggak kena harga tinggi.' Dan itu berhasil," jelasnya.
Saat itu, kata Nanik, BGN bersama SPPG mengalihkan menu ke protein lain seperti daging sapi, sehingga tekanan permintaan terhadap telur bisa ditekan.
"Nah, sekarang juga begitu. Jadi kita nanti diversifikasi ke pangan lain," tambahnya.
Menurut Nanik, langkah diversifikasi menu ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga pangan, tetapi juga untuk memastikan asupan gizi tetap seimbang dan tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan saja.
BGN menilai, menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran, lonjakan permintaan bahan pokok tertentu, termasuk telur, hampir selalu terjadi, sehingga perlu diantisipasi dari sisi konsumsi program-program pemerintah yang skalanya besar.











































