Pernikahan dini kembali menjadi sorotan. Beberapa waktu lalu kabar pernikahan Gus Zizan dan Kamila Asy Syifa menarik perhatian masyarakat.
Saat melangsungkan pernikahan, Gus Zizan baru berusia 19 tahun, sedangkan Kamila masih 17 tahun. Baru-baru ini, seorang konten kreator bernama Azkiave memutuskan untuk menikah di usia 19 tahun dengan suami berusia 29 tahun.
Kontennya menimbulkan pro kontra. Ada yang mendukung, tapi ada pula yang mempertanyakannya. Lantas, bagaimana menurut dokter mengenai pernikahan dini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risiko Pernikahan Dini menurut Dokter
Spesialis obsetri dan ginekologi, dr Fedrik Monte Kristo, SpOG mengatakan, banyak risiko yang bisa terjadi karena pernikahan dini. Umumnya, pernikahan dini bisa berpengaruh pada kondisi psikologis dan emosional. Dari sisi medis, pernikahan dini akan sangat berisiko pada masalah kesehatan seksual.
"Di sisi medis di bagian kandungan, wanita yang menikah muda di bawah 19 tahun akan meningkatkan hubungan seksual yang terlalu dini atau terlalu cepat," terang dr Fedrik beberapa waktu lalu.
Pernikahan dini juga memicu perdarahan, terutama pada wanita yang hamil di usia muda. Kondisi tersebut dapat terjadi baik saat kehamilan atau pasca melahirkan.
Pasalnya, dalam ilmu obsetri dan ginekologi, usia yang tepat untuk kehamilan adalah di atas 20 tahun. Jadi, belum dikatakan ideal jika berusia di bawah itu.
"Wanita hamil di usia yang ideal saja punya potensi terjadi anemia. Di usia yang lebih muda, potensinya sangat tinggi bisa mencapai 60 persen," jelas dr Fedrik.
"Hal itu terjadi karena usianya masih terlalu muda dan belum siap untuk hamil, sehingga menyebabkan kondisi anemia," pungkasnya.
Pernikahan Dini pada Remaja Meningkatkan Risiko Kanker Serviks?
Dikutip dari laman Universitas Airlangga, kehamilan pada usia remaja bahkan bisa menimbulkan risiko tinggi seperti preeklampsia dan gangguan pertumbuhan pada bayi. Selain itu, pernikahan ini juga bisa meningkatkan risiko seorang wanita mengalami kanker serviks.
"Dari perspektif reproduksi lainnya, jika remaja putri aktif secara seksual ketika organ mereka belum siap, serviks juga berisiko lebih tinggi terkena kanker serviks," tambahnya.
Serviks merupakan bagian bawah rahim. Kanker serviks terjadi pada sel-sel serviks, saat sel-sel tersebut berkembang secara tidak terkendali.
Senada dengan hal tersebut, dosen program spesialis obsetri dan ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan praktisi medis, dr Birama Robby SpOG mengatakan bahwa salah satu faktor risiko kanker serviks adalah pernikahan dini. Hal tersebut disebabkan oleh sel-sel yang belum matang di permukaan serviks.
"Jika sel-sel tersebut terpengaruh terlalu dini, risiko perubahan sel akan meningkat. Begitu pula risiko kanker serviks," kata Dr. Ernawati.
(elk/kna)











































