Kisah Aurelie Moeremans di bukunya, 'Broken Strings', bukan sekadar memoar perjalanan hidup biasa. Melalui pengakuannya menjadi korban child grooming di usia 15 tahun, Aurelie memberikan peringatan bahwa ancaman kekerasan seksual sering kali datang dari orang terdekat dan sulit dideteksi sejak dini.
Melalui unggahan di media sosialnya, Aurelie menegaskan bahwa tujuannya merilis 'Broken Strings' adalah agar pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang lain. Ia ingin para gadis muda bisa mengenali tanda-tanda manipulasi sebelum terlambat, dan bagi para penyintas lainnya untuk berani mengambil kembali 'suara' mereka yang pernah dirampas.
Bahaya terbesar dari grooming adalah sifatnya yang sangat sabar. Pakar psikologi dari CPMH UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., menekankan bahwa esensi dari grooming adalah persiapan. Pelaku menginvestasikan waktu untuk membangun kepercayaan agar korban "siap" menerima pelecehan sebagai hal yang normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Grooming itu maknanya positif, yaitu mempersiapkan supaya nanti hasilnya lebih siap atau baik... Namun dalam kasus ini, memang segala hal dilakukan untuk mempersiapkan anak atau remaja menjadi target," terang Nurul dikutip dari laman UGM.
Pelaku sering kali masuk melalui pintu 'perhatian' seperti memberikan hadiah atau mengajak jalan-jalan. Inilah yang membuat korban merasa memiliki hubungan romantis yang tulus, padahal itu adalah awal dari kontrol total pelaku terhadap korban.
Mengapa Kita Harus Waspada?
Melansir dari Barnardos, salah satu alasan grooming begitu berbahaya adalah karena korban sering kali merasa "mencintai" pelakunya. Pelaku sengaja memposisikan diri sebagai satu-satunya orang yang memahami korban, sehingga tercipta ketergantungan emosional yang kuat.
Dampaknya pun tidak berhenti saat hubungan berakhir. Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi mengingatkan bahwa luka ini sering kali bersifat "bom waktu".
"Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan. Begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar," ungkap Sari.
Jangan biarkan dirimu atau orang di sekitar terjebak dalam lingkaran manipulasi. Jika menemukan indikasi atau menjadi korban kekerasan seksual, segera cari bantuan profesional dan lapor melalui layanan SAPA 129 Kemen PPPA. Segera hubungi hotline resmi di nomor 129 atau mengirimkan pesan melalui WhatsApp ke nomor 081111129129.











































