Ilmuwan Bongkar Efek Tak Terduga Menguap pada Otak

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Senin, 04 Mei 2026 17:11 WIB
Foto ilustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Menguap sering dianggap sekadar tanda mengantuk. Tetapi, studi terbaru menemukan kebiasaan ini ternyata punya efek tak terduga pada otak, khususnya terhadap aliran cairan pelindung sistem saraf.

Penelitian yang dilakukan tim dari University of New South Wales mengungkap bahwa menguap dapat memengaruhi pergerakan cairan serebrospinal atau cerebrospinal fluid (CSF). Itu merupakan cairan yang berfungsi melindungi otak dan sumsum tulang belakang.

Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan MRI untuk memindai kepala dan leher 22 orang sehat saat mereka diminta menguap, menarik napas dalam, menahan menguap, dan bernapas normal.

Awalnya, peneliti memperkirakan menguap dan napas dalam akan menunjukkan hasil serupa. Nyatanya, hasilnya justru berbeda.

"Menguap memicu pergerakan CSF ke arah yang berlawanan daripada saat menarik napas dalam-dalam," kata ahli saraf Adam Martinac, dikutip dari New Scientist.

"Dan kami hanya duduk di sana seperti, wow, kami benar-benar tidak mengharapkan itu."

Temuan ini tidak muncul pada semua peserta dan lebih jarang terjadi pada pria, meski peneliti menduga hal tersebut bisa dipengaruhi gangguan dari alat pemindai.

Selain itu, baik menguap maupun napas dalam diketahui meningkatkan aliran darah keluar dari otak, sehingga memberi ruang bagi darah segar untuk masuk. Pada fase awal menguap, aliran darah ke otak bahkan meningkat sekitar sepertiga.

Peneliti juga menemukan setiap orang memiliki pola menguap yang unik.

"Setiap orang menguap dengan cara yang unik, jadi gerakan lidah saat menguap berbeda antar orang, tetapi sangat konsisten untuk setiap orang," ujar Martinac.

"Ini hampir seperti sidik jari, jadi Anda mungkin dapat mengidentifikasi seseorang hanya berdasarkan cara mereka menguap," sambungnya.




(sao/kna)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork