Waspada Ledakan Kasus Infeksi Menular Seksual pada Gen Z dan Ancaman Resistensi Obat

Waspada Ledakan Kasus Infeksi Menular Seksual pada Gen Z dan Ancaman Resistensi Obat

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Rabu, 08 Jul 2026 06:06 WIB
Scientist hold blood samples tube for Sexuallly Transmitted Disease. Syphilis,  HBV, HIV, HCV
Ilustrasi tes infeksi menular seksual (IMS) Foto: Getty Images/iStockphoto/Md Saiful Islam Khan
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan kasus infeksi menular seksual (IMS) di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di kalangan usia muda.

Data Kemenkes menunjukkan terdapat 23.347 kasus sifilis pada 2024. Sebagian besar merupakan sifilis dini, yakni sebanyak 19.904 kasus. Selain itu, tercatat 77 kasus sifilis kongenital, yaitu infeksi yang ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan. Kasus gonore juga masih tinggi, mencapai 10.506 kasus, dengan jumlah terbanyak ditemukan di DKI Jakarta.

Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia untuk jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Pada 2025, diperkirakan terdapat sekitar 564.000 ODHIV. Namun, baru sekitar 63 persen yang mengetahui status HIV mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari jumlah tersebut, 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), tetapi hanya 55 persen yang berhasil mencapai viral load tersupresi, yakni kondisi ketika jumlah virus tidak terdeteksi sehingga risiko penularannya sangat rendah.

Ancaman Resistensi Obat

Di balik lonjakan ini, muncul masalah yang tak kalah serius, banyak obat-obatan yang dulunya ampuh mengatasi IMS, kini sudah tidak lagi efektif.

ADVERTISEMENT

"Obat-obatan yang dulu diberikan untuk gonore, sekarang banyak yang nggak mempan lagi. Makin ke sini makin banyak bakteri yang kebal," beber pakar seks dr Boyke Dian Nugraha kepada detikcom Senin (25/6/2025).

Menurut dr Boyke, dulu penanganan IMS seperti gonore (kencing nanah) cukup berhasil dengan penisilin atau kanamycin. Namun kini, bakteri penyebab IMS telah beradaptasi, bermutasi, dan menjadi lebih resisten terhadap berbagai jenis antibiotik.

"Dulu kita pakai penisilin, efektif. Lalu beralih ke kanamycin, lalu ke golongan fluoroquinolone seperti ciprofloxacin. Tapi sekarang? Banyak yang sudah nggak mempan," ungkapnya.

Saat ini, antibiotik seperti penisilin dan sevixin (ceftriaxone generasi lama) dinilai sudah tidak lagi efektif secara luas. Bahkan beberapa golongan sefalosporin generasi lama pun mulai kehilangan efektivitasnya. Sepalosporin generasi baru masih bisa diandalkan, tetapi penggunaannya harus tepat dan disesuaikan berdasarkan hasil uji sensitivitas bakteri.

"Kalau pasien tidak kunjung sembuh, misalnya keluhan keluar nanah dari kemaluan terus-menerus, kita harus ambil sampel. Kemudian dikirim ke lab mikrobiologi untuk uji sensitivitas, untuk melihat antibiotik mana yang masih bisa melawan bakterinya," jelas dr Boyke.

Akibat Penggunaan Antibiotik yang Tak Bijak

Ia menyoroti resistensi ini banyak dipicu oleh pola penggunaan antibiotik yang sembarangan.

"Kuman itu pintar. Dikasih antibiotik, dia mutasi. Terus pasiennya berhubungan seks lagi, kena lagi, dikasih antibiotik yang sama, ya nggak mempan. Ini yang menyebabkan resistensi makin luas," jelasnya.

Penggunaan antibiotik tanpa resep atau mengandalkan obat yang biasa dipakai orang lain juga berperan dalam mempercepat munculnya bakteri kebal.

dr Boyke menekankan generasi muda harus lebih sadar terhadap risiko dan konsekuensi dari perilaku seksual bebas tanpa perlindungan. Ia menyayangkan bahwa tren seks bebas seperti 'friends with benefits', 'one night stand', hingga praktik open BO semakin dianggap lumrah di kalangan remaja dan dewasa muda.

"Pendidikan seks itu harus disampaikan dengan jujur dan jelas. Bahwa seks bebas bukan cuma soal kehamilan, tapi bisa menyebabkan penyakit menular yang sulit disembuhkan. Bahkan bisa menyebabkan infertilitas, kanker mulut rahim, sampai HIV dan AIDS," tegasnya.

Apa Itu Infeksi Menular Seksual (IMS)?

Dikutip dari laman Kemenkes, infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi atau penyakit yang dapat ditularkan melalui berbagai bentuk aktivitas seksual yang melibatkan mulut, anus, vagina, atau penis. Istilah lain yang juga sering digunakan adalah penyakit menular seksual (PMS).

Dr dr Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM turut menyoroti perlunya edukasi kesehatan reproduksi yang menyeluruh. Menurutnya, IMS dan infeksi saluran reproduksi (ISR) sering kali tidak bergejala, terutama pada perempuan, sehingga kerap terlambat ditangani.

Gejala Infeksi Menular Seksual (IMS) yang Perlu Diwaspadai

IMS sering kali tidak bergejala. Namun, pada sebagian pasien, kondisi ini dapat menimbulkan gejala, seperti:

  • luka atau lenting di area kelamin
  • cairan abnormal dari vagina atau penis
  • gatal atau nyeri saat buang air kecil
  • pembengkakan kelenjar di lipat paha, dan ruam di kulit.

Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual (oral, vaginal, anal), pertukaran cairan tubuh, hingga dari ibu ke anak saat kehamilan atau menyusui.

Dampak Infeksi Menular Seksual Jika Tidak Diobati

Jika tidak ditangani dengan tepat, IMS bisa menyebabkan komplikasi seperti radang panggul, kehamilan ektopik, bahkan infertilitas. Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan IMS juga berisiko mengalami kematian neonatal, berat lahir rendah, atau lahir prematur.

dr Hanny menegaskan pentingnya skrining rutin dan perilaku seksual yang aman. "Tren kejadian IMS dari tahun ke tahun terus meningkat, dan usia pengidap makin muda. Sudah banyak kasus IMS maupun kehamilan tidak diinginkan pada remaja, dan ini mendorong tingginya angka aborsi," jelas dr Hanny.

Jenis-jenis infeksi menular seksual (IMS)

Ada berbagai jenis infeksi menular seksual (IMS). Beberapa yang paling umum meliputi:

  • Klamidia
  • Herpes genital
  • Kutil kelamin
  • Gonore (kencing nanah)
  • Hepatitis B
  • HIV-AIDS
  • Infeksi human papillomavirus (HPV)
  • Sifilis
  • Trikomoniasis
  • Vaginitis

Cara Mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS)

Dikutip dari Mayo Clinic, ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menurunkan risiko tertular infeksi menular seksual (IMS), di antaranya:

1. Menghindari aktivitas seksual

Cara paling efektif untuk mencegah IMS adalah tidak melakukan hubungan seksual.

2. Setia pada satu pasangan yang tidak terinfeksi

Menjalani hubungan monogami jangka panjang dengan pasangan yang telah dipastikan tidak mengidap IMS dapat mengurangi risiko penularan.

3. Melakukan tes IMS sebelum berhubungan seksual dengan pasangan baru

Sebaiknya hindari hubungan seksual vaginal maupun anal hingga kedua belah pihak telah menjalani pemeriksaan IMS. Meski seks oral memiliki risiko yang lebih rendah, penularan IMS tetap dapat terjadi jika tidak menggunakan kondom atau dental dam (lembar pelindung untuk seks oral).

4. Mendapatkan vaksinasi

Vaksin dapat membantu mencegah beberapa jenis IMS, seperti yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), serta infeksi hepatitis A dan hepatitis B.

5. Menggunakan kondom atau dental dam secara benar dan konsisten

Menggunakan kondom atau dental dam baru setiap kali melakukan hubungan seksual, baik oral, vaginal, maupun anal. Hindari penggunaan pelumas berbahan dasar minyak, seperti petroleum jelly, pada kondom lateks karena dapat merusaknya. Perlu diketahui, kondom tidak memberikan perlindungan sepenuhnya terhadap IMS yang menular melalui kontak kulit, seperti HPV atau herpes.

6. Memahami bahwa alat kontrasepsi bukan pelindung IMS

Pil KB, suntik KB, implan, maupun alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) dapat mencegah kehamilan, tetapi tidak melindungi dari penularan IMS.

7. Menghindari konsumsi alkohol berlebihan dan narkoba

Pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan perilaku seksual berisiko.

8. Berkomunikasi dengan pasangan

Diskusikan riwayat kesehatan seksual dan praktik seks yang lebih aman sebelum melakukan hubungan seksual.

9. Mempertimbangkan sunat pada pria

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sirkumsisi dapat membantu menurunkan risiko penularan HIV dari pasangan perempuan yang hidup dengan HIV, serta mengurangi risiko infeksi HPV dan herpes genital pada pria.

10. Menggunakan profilaksis prapajanan (PrEP) bagi yang berisiko tinggi

Bagi individu dengan risiko tinggi terpapar HIV, dokter dapat merekomendasikan penggunaan pre-exposure prophylaxis (PrEP), yaitu obat yang diminum setiap hari untuk membantu menurunkan risiko infeksi HIV. Penggunaan PrEP harus sesuai resep dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.



(suc/tgm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads