Benarkah MSG Bikin Pusing? Ini Penjelasan Ilmiah dan Cara Aman Konsumsinya

Benarkah MSG Bikin Pusing? Ini Penjelasan Ilmiah dan Cara Aman Konsumsinya

Rahmat Khairurizqi - detikHealth
Jumat, 17 Jul 2026 18:47 WIB
Ilustrasi MSG
Foto: Getty Images
Jakarta -

Monosodium glutamate atau MSG sudah lama menjadi salah satu penyedap rasa yang banyak digunakan dalam berbagai masakan. Fungsinya adalah memperkuat cita rasa umami atau gurih sehingga makanan terasa lebih lezat.

Di balik penggunaannya yang luas, MSG masih sering dikaitkan dengan berbagai anggapan, salah satunya dapat menyebabkan sakit kepala atau pusing setelah makan micin. Tak sedikit orang yang akhirnya memilih menghindari penggunaan MSG karena khawatir akan dampaknya bagi kesehatan.

Lantas, benarkah anggapan tersebut?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu MSG?

Mengutip Healthline, MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat, yaitu asam amino yang secara alami juga ditemukan pada berbagai bahan makanan seperti tomat, jamur, keju parmesan, rumput laut, hingga daging. Karena mampu memperkuat cita rasa gurih, MSG banyak dimanfaatkan sebagai penyedap dalam berbagai hidangan.

ADVERTISEMENT

Senada dengan itu, Cleveland Clinic menjelaskan bahwa MSG diproduksi melalui proses fermentasi bahan-bahan seperti tebu, bit gula, atau molase. Proses tersebut menghasilkan glutamat yang memberikan sensasi rasa umami pada makanan.

Benarkah MSG Menyebabkan Pusing?

Banyak orang bertanya-tanya apakah MSG dapat menyebabkan sakit kepala atau pusing setelah makan micin. Hingga saat ini, jawabannya adalah belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal dapat memicu gejala tersebut pada sebagian besar orang.

Mengutip Mayo Clinic, para peneliti belum menemukan bukti yang konsisten bahwa MSG menyebabkan gejala seperti sakit kepala, wajah memerah, kesemutan, mual, maupun lemas pada kebanyakan orang. Jika pun terjadi, reaksi tersebut umumnya bersifat ringan dan hanya dialami oleh sebagian kecil individu.

Anggapan tersebut bermula dari istilah Chinese Restaurant Syndrome yang muncul pada akhir 1960-an, ketika sejumlah orang melaporkan mengalami keluhan setelah menyantap makanan di restoran China. Sejak saat itu, berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah MSG benar-benar menjadi penyebabnya.

Mengutip Harvard Health Publishing, hingga kini MSG sendiri kemungkinan tidak layak mendapat reputasi sebagai bahan yang berbahaya, karena sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa MSG yang dikonsumsi dalam jumlah kecil sebagai bagian dari makanan tidak menimbulkan dampak negatif bagi kebanyakan orang.

Meski demikian, sebagian kecil orang memang dapat mengalami MSG symptom complex. Harvard Health Publishing juga menjelaskan kelompok yang sensitif terhadap MSG diperkirakan kurang dari 1% populasi.

Adapun gejala yang dapat muncul antara lain sakit kepala, wajah memerah, berkeringat, mual, mati rasa, hingga kelelahan, dan biasanya timbul dalam dua jam setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Meski begitu, gejala tersebut umumnya bersifat ringan dan sementara.

Hal serupa juga disampaikan dalam artikel detikHealth yang mengutip ahli saraf Fred Cohen. Ia menjelaskan bahwa bukti ilmiah yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa MSG merupakan penyebab sakit kepala pada konsumsi sehari-hari.

Dalam sejumlah penelitian, keluhan umumnya baru muncul ketika MSG diberikan dalam dosis yang jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah yang lazim digunakan pada makanan.

Bagaimana Jika Merasa Pusing setelah Mengonsumsi MSG?

Jika mengalami sakit kepala atau pusing setelah makan micin, tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa MSG menjadi penyebabnya. Dilansir dari Medical News Today, apabila keluhan memang berkaitan dengan MSG symptom complex, sebagian besar gejalanya tergolong ringan dan dapat membaik tanpa penanganan khusus.

Selama keluhan berlangsung, pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih yang cukup dan beristirahat sejenak sambil memantau apakah gejala berangsur membaik. Jika keluhan terus berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu, sebaiknya catat jenis makanan tersebut dan konsultasikan dengan dokter untuk memastikan penyebabnya.

Segera cari pertolongan medis apabila sakit kepala disertai gejala yang lebih serius, seperti sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pembengkakan pada wajah maupun tenggorokan. Kondisi tersebut memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.

MSG Tetap Aman Dikonsumsi dalam Jumlah Wajar

Meski ada sebagian kecil orang yang melaporkan mengalami keluhan setelah mengonsumsi MSG, bukan berarti penyedap rasa ini perlu dihindari sepenuhnya. Mengutip MedlinePlus, MSG termasuk bahan pangan yang secara umum dianggap aman (generally recognized as safe) bila digunakan sesuai kebutuhan.

Soal jumlah konsumsinya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas konsumsi MSG hingga 120 mg per kilogram berat badan per hari. Sementara Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) menyebut konsumsi MSG hingga sekitar 3 gram per hari masih tergolong aman bagi kebanyakan orang.

Menariknya, Harvard Health Publishing juga menjelaskan bahwa MSG mengandung natrium sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan garam dapur. Karena itu, penggunaan MSG dalam jumlah yang tepat justru dapat membantu mempertahankan cita rasa masakan sambil mengurangi penggunaan garam.

Artinya, penggunaan MSG sebagai penyedap masakan sehari-hari umumnya masih berada jauh di bawah jumlah yang dalam penelitian pernah dikaitkan dengan munculnya keluhan pada sebagian kecil orang. Jika ingin mengetahui rekomendasi penggunaan MSG yang tepat dalam memasak, kamu bisa membaca penjelasannya pada laman berikut.

Selain menggunakan MSG secara bijak, kualitas makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Salah satu menu rumahan yang mudah dimodifikasi agar lebih bergizi adalah nasi goreng sehat. Dengan pemilihan bahan dan teknik memasak yang tepat, hidangan sederhana ini tetap bisa menjadi pilihan yang lezat sekaligus bernutrisi.

Tips Membuat Nasi Goreng Sehat

Mengutip laman Sasa, nasi goreng tetap bisa menjadi menu praktis sekaligus bernutrisi jika diolah dengan bahan dan teknik memasak yang tepat. Berikut beberapa tips yang dapat dicoba:

1. Gunakan Jenis Nasi yang Tepat

Pilih nasi merah, nasi cokelat, atau nasi multigrain jika ingin meningkatkan asupan serat. Jika menggunakan nasi putih, sebaiknya gunakan nasi yang telah didinginkan agar teksturnya lebih pulen saat dimasak.

2. Pilih Minyak yang Lebih Sehat

Gunakan minyak secukupnya saat menumis, seperti minyak kanola atau minyak zaitun. Hindari memanaskan minyak hingga berasap agar kualitasnya tetap terjaga.

3. Perbanyak Sayuran

Tambahkan aneka sayuran seperti wortel, buncis, brokoli, jagung, paprika, atau kacang polong agar kandungan vitamin, mineral, dan serat dalam nasi goreng semakin lengkap.

4. Lengkapi dengan Sumber Protein

Agar gizinya lebih seimbang, tambahkan protein seperti telur, ayam tanpa kulit, ikan, udang, tahu, atau tempe sesuai selera.

5. Gunakan Bumbu Secukupnya

Bumbu nasi goreng secukupnya agar cita rasanya tetap seimbang. Penggunaan MSG dalam jumlah yang wajar dapat membantu menghadirkan rasa gurih tanpa perlu menambahkan garam secara berlebihan.

Tak hanya soal penggunaan MSG, memilih bahan segar, memperbanyak sayuran, serta menambahkan sumber protein juga menjadi langkah sederhana untuk menciptakan menu yang lebih seimbang. Kombinasi tersebut membuat nasi goreng sehat tetap nikmat disantap tanpa mengurangi cita rasa gurih yang menjadi favorit banyak orang.

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads