Transformasi Layanan Uronefrologi di Indonesia

Transformasi Layanan Uronefrologi di Indonesia

detikHealth
Rabu, 19 Agu 2026 08:00 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Prof Dr dr Nur Rasyid, Sp.U(K)
Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K) (Foto: Steven M.)
Jakarta -

Perkembangan teknologi kedokteran membawa perubahan besar dalam layanan urologi dan uronefrologi di Indonesia. Berbagai tindakan yang sebelumnya dilakukan melalui operasi terbuka kini mulai dapat dikerjakan dengan bantuan teknologi robotik.

Dokter spesialis urologi, Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K) mengatakan kualitas pelayanan urologi di Indonesia saat ini sudah mampu menyamai standar internasional. Teknologi robotik bahkan telah digunakan untuk berbagai tindakan, mulai dari operasi tumor ginjal, kanker prostat hingga kelainan saluran kemih.

"Kalau kita bicara penyakit di bidang urologi bisa tumor ginjal, bisa kanker prostat, bisa kelainan bawaan dari anak masih kecil, dan kalau di Indonesia sekarang pelayanannya sebenarnya kualitasnya sudah sama dengan internasional," ujar Prof Nur saat berbincang dengan detikcom di acara The 6th Siloam Urology Nephrology Summit 2026 di Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknologi Robotik Bawa Perubahan pada Layanan Uronefrologi

Kehadiran robotik memungkinkan dokter melakukan berbagai operasi urologi dengan sayatan yang jauh lebih kecil. Di Siloam Hospitals Asri, misalnya, teknologi tersebut telah digunakan untuk melakukan pengangkatan ginjal secara keseluruhan atau radical nephrectomy, pengangkatan sebagian tumor ginjal, hingga operasi pengangkatan prostat.

Teknologi robotik juga dapat digunakan untuk menangani penyempitan saluran kemih. Pada kasus tertentu, bagian saluran yang menyempit dapat diangkat kemudian disambungkan kembali dengan jaringan mukosa mulut.

ADVERTISEMENT

Prof Nur menjelaskan penggunaan robot membuat dokter tidak perlu membuka bagian perut secara lebar seperti pada operasi terbuka. Instrumen robot dimasukkan melalui beberapa lubang kecil, sementara dokter mengendalikan robot dari luar tubuh pasien.

"Kalau kita pakai robot, dibuka lubang kecil 1 cm, 3 sampai 4 cm, tangan kita di luar. Luka yang kecil itulah yang menyebabkan penyembuhan lebih baik bagi pasien dan kualitas hidup setelah operasi lebih baik," jelas Prof Nur.

Manfaat tersebut juga terlihat pada transplantasi ginjal dengan bantuan robot. Prof Nur menyebut sayatan yang lebih kecil dapat membuat perdarahan dan komplikasi lebih sedikit, masa perawatan lebih pendek, serta memberikan hasil yang lebih baik dari sisi nyeri dan kosmetik. Sementara itu, kualitas fungsi ginjal tetap dapat sama baiknya dengan operasi terbuka.

Perkembangan teknologi tersebut juga tidak terlepas dari kesiapan sumber daya manusia. Menurut Prof Nur, keberadaan dokter dengan berbagai subspesialisasi menjadi salah satu faktor penting agar teknologi robotik dapat dimanfaatkan secara optimal.

Indonesia Negara Pertama di ASEAN yang Menerapkan Robotic Assisted Kidney Transplant

Dalam layanan uronefrologi, salah satu persoalan dengan beban besar adalah gangguan fungsi ginjal. Pasien dengan gagal ginjal dapat menjalani terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau dialisis peritoneal. Sementara itu, transplantasi ginjal menjadi salah satu pilihan untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah mengalami kegagalan.

Di Rumah Sakit Siloam Hospitals Asri, Prof Nur menyebut telah dilakukan 543 kasus transplantasi ginjal. Jumlah tersebut menjadikan Siloam Hospitals Asri sebagai salah satu pusat transplantasi ginjal dengan volume tindakan tinggi di Indonesia.

"Paling banyak tentu di RSCM. Tapi jumlah transplant di atas 50, di Asri itu antara 50-100 lebih setahun, itu angka yang dianggap high volume center of kidney transplant," kata Prof Nur.

Menurutnya, status high volume center penting karena transplantasi ginjal tidak hanya bergantung pada kemampuan satu dokter. Tindakan tersebut membutuhkan tim yang sudah terbiasa menangani transplantasi, mulai dari dokter anestesi, perawat, tim operasi hingga tim yang memantau pasien setelah operasi di ICU dan masa pemulihan.

Setelah memiliki pengalaman dalam transplantasi ginjal dengan volume tinggi, layanan tersebut kini memasuki tahap baru dengan pemanfaatan teknologi robotik. Prof Nur mengatakan Indonesia bahkan lebih dahulu melakukan robotic assisted kidney transplant dibandingkan sejumlah negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia.

"Kalau kita bicara robotic assisted kidney transplant, kita duluan. Sampai hari ini di Singapura, di Malaysia belum melakukan robotic assisted kidney transplant," ujarnya.

Meski demikian, Prof Nur menegaskan penerapan robotik pada transplantasi ginjal bukan dilakukan secara sembarangan. Ada tahapan yang harus dilalui sebuah pusat layanan sebelum dapat melakukan tindakan tersebut.

Ia menjelaskan, pathway yang digunakan mengacu pada European Robotic Urology Section (ERUS) dan prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Salah satu persyaratannya adalah pusat transplantasi telah memiliki volume tindakan yang tinggi dan teamwork yang matang.

"Jadi jelas pathway-nya tadi berdasarkan European Robotic Urology Section, ERUS, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sebuah center yang high volume," jelas Prof Nur.

Dengan pengalaman transplantasi sekitar 70 hingga 100 kasus per tahun, menurut Prof Nur, sebuah pusat layanan telah memiliki pengalaman dan teamwork yang dibutuhkan untuk mulai melakukan transplantasi ginjal dengan bantuan robot. Karena itu, teknologi tersebut tidak ideal diterapkan di pusat yang baru memulai layanan transplantasi ginjal.

Penggunaan robot pada transplantasi ginjal sendiri masih tergolong perkembangan baru di dunia. Prof Nur menyebut Eropa telah melihat potensi transplantasi ginjal dengan bantuan robot sejak 2016 dan teknologi tersebut terus berkembang.

Tantangan Akses Layanan Robotik

Perkembangan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi pemerataan akses. Prof Nur mengatakan layanan robotik untuk saat ini masih tersedia di Jakarta.

"Di Indonesia sekarang baru hanya ada di Jakarta. Jadi kalau untuk masyarakat memang harus datang ke Jakarta kalau ingin mendapatkan layanan robot," ujarnya.

Karena itu, transformasi layanan uronefrologi tidak hanya berbicara mengenai kecanggihan teknologi. Kesiapan tenaga ahli, pengalaman pusat layanan, kerja tim, serta ketersediaan fasilitas menjadi bagian penting dalam memastikan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi pasien.

Perkembangan transplantasi ginjal dengan bantuan robot menjadi salah satu gambaran bahwa layanan uronefrologi di Indonesia terus memasuki babak baru. Bagi Prof Nur, teknologi dapat membantu dokter bekerja lebih optimal sekaligus memberikan pengalaman pemulihan yang lebih baik bagi pasien.



(mal/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads