Anak Sering Tutup Mulut Saat Makan? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anak Sering Tutup Mulut Saat Makan? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Nada Herwando - detikHealth
Rabu, 26 Agu 2026 20:07 WIB
Morigro
Foto: Morigro
Jakarta -

Gerakan Tutup Mulut (GTM) merupakan perilaku ketika anak menolak membuka mulut saat waktu makan. Kondisi ini lebih sering ditemui pada anak usia balita, termasuk usia 2-5 tahun ketika laju pertumbuhan mulai melambat sehingga nafsu makan anak juga cenderung menurun. GTM dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari kebiasaan makan hingga suasana saat anak menyantap makanan.

Salah satu penyebab GTM adalah kebiasaan dan jadwal makan yang kurang tepat. Pemberian makanan yang tidak sesuai usia, tekstur makanan yang tidak sesuai tahap perkembangan, kualitas makanan, kebersihan, serta menu yang monoton juga dapat membuat anak menolak makan. Selain itu, anak yang mulai memiliki keinginan untuk mandiri dan menentukan makanan yang disukai dapat menunjukkan penolakan ketika pilihan atau cara makan yang diberikan tidak sesuai dengan keinginannya.

Suasana makan juga turut memengaruhi munculnya GTM. Pemaksaan, ancaman, atau tekanan ketika anak tidak mau makan dapat membuat pengalaman makan menjadi tidak menyenangkan. Penggunaan gadget, televisi, atau mainan saat makan juga dapat mengalihkan perhatian anak. GTM juga dapat terjadi ketika anak merasa tidak nyaman dengan makanan maupun suasana makan, bahkan ketika sedang mengalami gangguan kesehatan seperti sakit tenggorokan atau masalah pencernaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mengatasinya, orang tua dapat mulai dengan membangun jadwal makan yang konsisten, yakni tiga kali makanan utama dan dua kali makanan kecil. Sajikan menu yang bervariasi dengan porsi sesuai usia dan kebutuhan anak, serta perhatikan tekstur makanan agar sesuai dengan tahap perkembangannya. Waktu makan juga sebaiknya dibatasi hingga sekitar 30 menit dan dilakukan tanpa distraksi seperti televisi atau gadget.

Yang tidak kalah penting, hadapi GTM dengan pendekatan yang positif dan tanpa paksaan. Orang tua dapat menciptakan suasana makan yang menyenangkan, mengajak anak makan bersama keluarga, serta memberi kesempatan untuk makan sendiri sesuai kemampuannya. Jika anak tetap mengalami kesulitan makan meski berbagai cara telah dilakukan, konsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi dapat menjadi langkah untuk memastikan tidak ada masalah medis dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

ADVERTISEMENT



(akn/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads