Gigi Putih Memang Menarik, Bersih dan Sehat soal Lain

Gigi dan Mulut

Gigi Putih Memang Menarik, Bersih dan Sehat soal Lain

detikHealth
Rabu, 07 Okt 2026 07:04 WIB
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Ditulis oleh:
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Sarjana Higiene Gigi dari Universitas Gadjah Mada dengan kompetensi dalam upaya preventif-promotif kesehatan gigi dan mulut. Saat ini mengikuti program MagangHub sebagai penulis artikel gaya hidup.
Young woman having her teeth checked by two dentist during appointment at dentist office.
Perawatan gigi. Foto: Getty Images/skynesher
Jakarta -

Merawat gigi kini tak lagi sekadar urusan kesehatan, tapi juga bagian dari tren self-care. Produk pemutih hingga berbagai alat pembersih gigi ramai dipromosikan dengan janji yang sama: gigi putih dan bersih.

Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof drg Suryono, S.H., M.M., PhD menilai tolok ukur itu keliru.

"Kadang masyarakat kita itu salah kaprah menilai kesehatan gigi dan mulut dari penampakan fisik. Orang selalu menganggap kalau dilihat putih itu sehat, padahal tidak seperti itu," ujarnya dalam Konferensi Pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN), Kamis (17/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang Menentukan Sehat Justru Tak Terlihat

Kesehatan mulut tidak bisa dinilai dari warna gigi saja. Warna gigi dipengaruhi faktor alami seperti ketebalan enamel, sehingga gigi yang agak kekuningan bisa saja sehat, sementara gigi yang tampak putih tetap bisa berlubang di sela-sela atau disertai gusi yang meradang.

Yang lebih menentukan adalah isi rongga mulut itu sendiri, yang dihuni banyak jenis mikroorganisme.

ADVERTISEMENT

"Di dalam rongga mulut itu kan yang namanya kuman banyak jenisnya. Ada sekitar 700 atau lebih, belum termasuk jamur dan parasit," jelas Prof Suryono.

Tidak semua mikroba itu berbahaya. Masalah muncul ketika keseimbangannya terganggu. Karena tidak kasat mata, kondisi ini sering luput dari perhatian. Itulah sebabnya edukasi tentang mikrobioma oral menjadi salah satu upaya yang akan dilakukan.

"Agar masyarakat paham, sehingga tidak timbul persepsi kalau tampak gigi putih itu selalu sehat," katanya.

Cukup dengan Cara Sederhana

Kabar baiknya, menurut Prof Suryono, menjaga keseimbangan ekosistem mulut tidak rumit. Ia menyebut dua langkah utama:

  1. Menyikat gigi dengan cara yang tepat.
  2. Mengonsumsi makanan sehat, sedapat mungkin yang memerlukan pengunyahan, seperti sayur dan buah.

"Dengan cara yang sederhana itulah bisa menjaga keseimbangan mikrobioma rongga mulut, sehingga secara mikrobiologis kondisi lingkungan mulut kita sehat," tuturnya.

Menyikat Gigi yang Tepat: Kapan dan Bagaimana?

Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg Tari Tritarayati, dalam acara BKGN 2026 menyebut menyikat gigi sebaiknya dilakukan dua kali sehari, yakni pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Waktu malam penting karena aktivitas bakteri meningkat saat tidur, sementara air liur yang menetralkan bakteri berkurang.

Para ahli menyarankan menyikat gigi selama 2-3 menit dengan pasta gigi berfluoride. Gunakan sikat berbulu lembut dengan tekanan ringan, karena menyikat terlalu agresif dapat menyebabkan resesi gusi dan abrasi gigi. Setelah makan atau minum yang asam seperti jeruk atau soda, sebaiknya tunggu sekitar 30 menit sebelum menyikat agar enamel tidak terkikis.

Makanan yang Baik untuk Gigi

Anjuran Prof Suryono ini sejalan dengan hasil riset. Sebuah kajian yang terbit di jurnal Nutrients (2023) merangkum sejumlah uji coba pada manusia dan menyimpulkan bahwa pola makan kaya serat, seperti buah, sayur, dan biji-bijian utuh, membantu meredakan peradangan gusi. Para peneliti menilai temuan ini menjanjikan sebagai pendamping perawatan gigi, bukan pengganti menyikat gigi.

Meski begitu, buah tidak bebas risiko bagi gigi. Buah dan minuman yang asam bisa mengikis enamel bila sering dikonsumsi, sedangkan gula tambahan, permen, dan makanan lengket sebaiknya dibatasi. Makanan sehat pun hanya melengkapi, bukan menggantikan kebiasaan menyikat gigi dengan benar.

Kenali Tanda yang Sering Diabaikan

Karena kondisi mikrobioma tidak terlihat, tubuh biasanya memberi sinyal lain. Periksakan ke dokter gigi bila muncul gusi yang mudah berdarah saat menyikat gigi, bau mulut yang menetap, gigi yang ngilu atau sensitif, serta gusi yang bengkak atau memerah.

Bergeser dari Tampilan ke Kesehatan

Tren self-care tentu baik untuk menumbuhkan kesadaran merawat diri. Namun, pesan Prof Suryono mengajak kita memaknai ulang kata "bersih": bukan sekadar gigi yang tampak putih, melainkan lingkungan mulut yang seimbang dan sehat.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Tak Semua Gigi Harus Putih, Dokter Ungkap Risiko Pasta Gigi Abrasif"
[Gambas:Video 20detik] (nim/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads