Berminat Pelihara 'Belatung' Maggot? Ini Tips Biar Glowing dan Tak Bau

Sampah Organik

Berminat Pelihara 'Belatung' Maggot? Ini Tips Biar Glowing dan Tak Bau

detikHealth
Minggu, 18 Okt 2026 11:07 WIB
Adelia Magda Firdausi, S.P.
Ditulis oleh:
Adelia Magda Firdausi, S.P.
Sarjana Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Gadjah Mada yang memiliki ketertarikan di bidang pangan, kesehatan, dan lingkungan. Saat ini mengikuti program Maganghub sebagai Health Reporter
Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor memberi pakan sampah organik untuk maggot (Hermetia illucens) di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (TPS 3R) DLH, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/10/2025). Budidaya maggot dengan memanf
Maggot. Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Jakarta -

Mendengar kata glowing, mungkin yang langsung terbayang adalah perawatan kulit. Namun, di Swara Hijau Farm, istilah tersebut juga digunakan Endang Mintarja untuk menggambarkan maggot yang masih berusia sekitar 18 hari dan memiliki warna kuning cerah.

"Maggot yang paling unsur proteinnya lagi tinggi itu umur sekitar 18 hari. Itu masa-masa warna kulitnya masih bersih, kuning, glowing ya seperti itu," ujar Endang, Ketua Kelompok Tani Swara Hijau Farm, dalam perbincangan dengan detikcom baru-baru ini.

Menurut Endang, usia dan fase pertumbuhan menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Lantas, bagaimana pengelola Swara Hijau Farm menyiapkan pakan dan merawat larva hingga siap dipanen?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pakan Organik Perlu Disiapkan

Di Swara Hijau Farm, maggot memperoleh pakan dari sampah organik yang dikumpulkan dari warga, restoran, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bahan tersebut tidak langsung diberikan kepada larva, tetapi diolah terlebih dahulu.

Endang menjelaskan, sampah organik dihaluskan menggunakan mesin, kemudian dicampur dengan EM4 (Effective Microorganisms 4) dan molase atau tetes tebu. Campuran tersebut difermentasi semalam sebelum diberikan kepada maggot.

"Kalau tambahan nutrisi tidak ada, hanya pure dari sampah organik," kata Endang.

Bahan organik yang digunakan dapat terdiri dari beragam sisa makanan, termasuk nasi dan sumber protein. Berdasarkan pengalamannya, nasi menjadi salah satu bahan pakan yang baik untuk pertumbuhan maggot.

"Pakan maggot yang paling bagus itu nasi, sebetulnya, karena dia karbohidrat," ujarnya.

Meski begitu, pemilihan pakan perlu mempertimbangkan bahan yang tersedia dan kondisi budidaya. Pengalaman di Swara Hijau Farm tidak serta-merta menjadi patokan bahwa komposisi pakan yang sama akan menghasilkan pertumbuhan identik pada setiap tempat.

Atur Pemberian Pakan agar Tidak Menumpuk

Pemberian pakan bukan sekadar memasukkan sebanyak mungkin sampah organik ke wadah budidaya. Pengelola juga perlu memperhatikan apakah pakan sebelumnya sudah habis dikonsumsi larva.

Di Swara Hijau Farm, pemberian pakan dilakukan dengan memperhatikan sisa bahan sebelumnya. Jika pakan masih tersisa, penambahan perlu disesuaikan agar bahan organik tidak menumpuk dan menimbulkan bau.

Sebelum diberikan kepada maggot, sampah juga melalui proses pengolahan dan fermentasi. Menurut Endang, langkah tersebut membantu membuat bahan pakan lebih mudah dikelola.

"Jadi sampahnya itu pertama belum busuk, terus yang kedua enggak terlalu bau," jelasnya.

Pengelolaan pakan menjadi penting, terutama karena budidaya dilakukan di lingkungan perkotaan. Sisa makanan yang tidak tertangani dengan baik dapat mengganggu kebersihan area budidaya dan menimbulkan bau bagi lingkungan sekitar.

Karena itu, jumlah pakan perlu disesuaikan dengan kondisi larva dan sisa makanan yang tersedia. Wadah serta area budidaya juga perlu dipantau secara rutin agar proses pemeliharaan tetap terjaga.

Kebersihan Wadah Juga Perlu Diperhatikan

Selain mengatur jumlah pakan, kebersihan area budidaya menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika memelihara maggot. Bahan organik yang digunakan sebagai pakan perlu dikelola dengan baik agar tidak menumpuk dan menimbulkan bau.

Di Swara Hijau Farm, sampah organik dipersiapkan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada larva. Proses penghalusan dan fermentasi semalam menjadi bagian dari cara pengelola menangani bahan pakan yang berasal dari berbagai sumber.

Pengelolaan tersebut juga perlu diikuti dengan pemantauan kondisi wadah dan sisa makanan. Jika pakan sebelumnya belum habis, penambahannya perlu disesuaikan agar sisa bahan tidak terus menumpuk. Dengan begitu, pengelola dapat lebih mudah memantau kondisi pakan dan menjaga area budidaya tetap terawat.

Kebersihan juga berkaitan dengan orang yang menangani maggot dan sampah organik. Endang menjelaskan bahwa prosedur keselamatan kerja di Swara Hijau Farm menganjurkan penggunaan alat pelindung saat bekerja.

"Kalau memang SOP-nya itu harusnya pakai masker, terus juga pakai sarung tangan, pakai apa, boot, nah itu untuk menjaga tetap di K3-nya ya," ujar Endang.

Ia juga mengingatkan pentingnya mencuci tangan setelah bersentuhan langsung dengan larva.

"Tanpa sarung tangan enggak apa-apa, cuma harus dicuci pakai sabun," katanya.

Dengan memperhatikan kebersihan wadah, sisa pakan, dan perlindungan diri saat bekerja, budidaya maggot dapat dikelola secara lebih teratur. Hal ini melengkapi pengaturan pakan dan pemantauan pertumbuhan yang dilakukan untuk mendukung proses budidaya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Singapura Masih Diselimuti Kabut Asap, Indeks Udara Tembus 202"
[Gambas:Video 20detik] (amf/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads