Rabu, 28 Apr 2021 16:04 WIB

e-Life

Kupas Mitos Saat Puasa yang Kerap Menipu

detikTV, dtv - detikHealth
Jakarta -

Sering terdengar slogan "Berbukalah dengan yang manis," di bulan ramadhan. Konon katanya, makanan dan minuman manis mampu menambah energi agar kuat menjalani puasa. Selain itu, jika dikonsumsi saat berbuka, kabarnya ia bisa mengembalikan energi yang hilang selama berpuasa.

Nyatanya, hal ini tidak terlalu tepat. Akibat mitos ini, banyak yang justru mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan di bulan puasa. Sehingga, alih-alih bermanfaat justru dampak negatif yang didapat.

"Ada mitos bahwa ketika sahur itu banyak makan nasi, madu, gula, biar energinya lebih lama. Nah, kebalik. Kalau hanya fokus ke karbohidrat, tapi protein dan seratnya kurang, justru bikin cepat lemas di siang hari karena gula darah turun. Jadi yang manis, terlalu banyak karbohidrat itu justru dikurangi," jelas Ahli Gizi Mochammad Rizal dalam program e-Life.

Namun bukan berarti gula tidak penting. Hanya saja, porsinya harus diperhatikan. Contohnya adalah anjuran memakan tiga buah kurma, tidak kurang tidak lebih, saat berbuka atau sahur.

"Dari anjurannya adalah mengonsumsi tiga kurma, itu 100 kalori dan 20 gram karbohidrat. Kenapa hanya 20 gram? Karena tujuannya saat membatalkan puasa itu mengembalikan kadar glukosa darah ke normal, bukan menaikkan," tutur Rizal.

Bagi yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis, Rizal memberi trik agar tetap bisa menikmati, namun dengan pembatasan tertentu.

"Tetap dibeli saja (makanan dan minuman manisnya), tapi simpan di kulkas dulu, lalu dikonsumsi setelah tarawih atau 2-3 jam setelah makan utama. Cukup minum dengan mangkuk kecil yang 250 ml," kata Rizal.

Selain mitos tentang makanan manis, terdapat juga kepercayaan bahwa meminum air hangat saat berbuka lebih baik daripada air dingin. Alasannya adalah karena air hangat lebih mudah diserap oleh tubuh.

"Ketika berbuka puasa, memang lebih disarankan air hangat atau air biasa karena dalam keadaan perut kosong. Sehingga, organ pencernaan lebih rileks dan siap dimasuki dengan makanan-makanan lain," terang Rizal, mengiyakan kepercayaan tersebut.

Meski demikian, Rizal juga menyampaikan bahwa minum air dingin maupun hangat itu opsional. Selain itu, tidak ada dampak negatif signifikan jika berbuka puasa dengan air dingin. Justru, menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan perkara suhu airnya, melainkan apa campuran dari air tersebut.

"Itu (campurannya) kan ada sirup, ada susu kental manis, ada gula, segala macam. Itu yang perlu justru diwaspadai daripada suhu air itu sendiri," pungkas Rizal.

(gah/gah)