Minggu, 24 Okt 2021 09:37 WIB

Saat Operasi Caesar di Indonesia Dilakukan dengan Bantuan Sinar Petromak

detikTV, Khairunnisa Adinda Kinanti - 20detik - detikHealth
Jakarta -

dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS (64) adalah lulusan Fakultas Kedokteran UI. Untuk bisa lulus, ia harus menjalani WKS (Wajib Kerja Sarjana). Yang pertama, ia sudah menjalani WKS di Puskesmas Kecamatan Palas, Lampung Selatan. WKS kedua ia ditempatkan di rumah sakit baru di daerah Masamba, Luwu, Sulawesi Selatan.

dr. Boyke, sapaan akrabnya, membagikan pengalamannya ketika memutuskan untuk menjadi dokter kandungan pertama di Masamba. Ketika itu, ia harus bisa melakukan operasi caesar hanya dengan bantuan penerangan lampu petromak.

"Kita pernah melakukan operasi menggunakan lampu petromak. Tidak ada dokter anestesi ada juga asisten anestesi yaitu memang hanya perawat anestesinya saja. Jadi saya harus buru-buru kalau operasi dengan dikasih eter (zat anastesi). Jadi ditetesi eter nanti orangnya kejang-kejang yang melahirkan, kita harus operasi jangan sampai keburu bangun," ujar dr. Boyke dalam program Sosok.

"Karena kalau keburu bangun akan sakit kalau dijahit. Jadi anda tahu sendiri, eter itu sangat inflammable. Inflammable kalau operasinya menggunakan lampu petromak. Kalau lampu petromaknya kena percikan itu bisa menyebabkan kebakaran kamar operasinya," sambungnya.

Setelah berhadapan dengan berbagai macam masalah kesehatan dan seks, kasus yang sangat membekas di dr. Boyke adalah kasus Sadomasokis. Di mana untuk bisa ereksi, suami harus melihat istrinya ketakutan.

Setelah didalami, ternyata latar belakang suaminya juga yang memang menyukai kekerasan. Baik dari perlakuan orang-orang di sekitarnya, maupun pengaruh dari film dengan adegan kekerasan yang ditonton.

"Ternyata suaminya itu kalau ingin melakukan hubungan seks, dia harus menyundut dahulu istrinya. Istrinya ketakutan-ketakutan baru dia bisa ereksi. Baru saya percaya ternyata ada kasus-kasus sadis-masokis. Kasus-kasus yang aneh banyak sebenarnya hanya itu yang paling memorable untuk saya," ujar dr. Boyke.

Impian dari para dokter yaitu bisa mendirikan sebuah klinik atau rumah sakit. Hal tersebut berlaku juga di dr. Boyke. Ia berhasil mendirikan Klinik Pasutri, Tebet dan RSIA Pasutri, Bogor.

"Saya pernah karena pasiennya masih menangis, ternyata sudah ditungguin oleh dokter ternyata itu guru saya, dokter senior saya. Saya dipanggil ke kepala rumah sakit, kebetulan kepala rumah sakitnya senior saya juga, 'Kamu itu mentang-mentang pasiennya banyak sampai kamu membiarkannya, nanti saja suruh kembali lagi' pokoknya kata-katanya tidak enak," ujar dr. Boyke.

"Akhirnya saya mulai menyewa Klinik Pasutri Tebet karena dengan adanya klinik ini pasien-pasien saya yang ingin konsultasi lebih lama," sambungnya.

Berbeda dengan RSIA Pasutri yang berada di Bogor. Berawal dari ibu dr. Boyke yang meminta agar dr. Boyke juga sering berkunjung ke rumah orang tuanya.

"Kalau rumah sakit di Bogor karena saya memiliki ibu di Bogor. Karena sibuk saya sudah jarang ke Bogor. (Kata Ibu) 'Kamu buat lah klinik atau rumah sakit jadi sebelum kamu ke klinik kamu ketemu ibu dahulu. Ibu kan sudah tua bapak kan sudah tidak ada masa kamu tidak sayang sama ibu'. Akhirnya kita jadikan rumah sakit bersalin. Akhirnya sekarang menjadi rumah sakit ibu dan anak (RSIA Pasutri, Bogor)," cerita dr. Boyke.

Saat ini, keseharian dr. Boyke diisi dengan berbagai macam seminar, syuting di beberapa stasiun tv, dan menjalani profesi utamanya, sebagai dokter.

(fuf/gah)