Kate mulai mengalami kenaikan berat badan saat ia berusia 5 tahun. Akibatnya ukuran tubuhnya yang besar, ia selalu menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya di sekolah. Namun, saat mengalami kejadian tersebut ia justru beralih pada makanan manis seperti cookies dan es krim. Ia sama sekali belum paham apa efek buruknya, ia hanya terus seperti itu karena ia merasa jauh lebih baik.
Saat remaja, Kate sebenarnya pernah kehilangan bobot sekitar 36 kg dengan melakukan diet. Ia hanya makan sekitar 700 kalori per hari. Namun meskipun berat badannya turun, ia merasa sangat sengsara karena lapar dan mengalami kerontokan rambut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suatu hari ia diperkenalkan dengan Jason Porter, pemilik Power of One Sport MMA and Fitness, sebuah sekolah seni bela diri campuran atau mixed martial arts (MMA). Saat itu yang Kate tahu tentang MMA hanyalah perkelahian antara 2 orang di atas ring. Meskipun takut, namun Kate menerima saran dari Jason untuk ikut kelas MMA pertama.
Dengan gugup luar biasa, Kate memberanikan diri untuk mengikuti perintah dari instruktur di kelas tersebut. Instruktur itu menyuruhnya untuk terus berjalan dengan cepat dan terus bergerak. Kate pun berjanji akan keluar dari zona kenyamanannya dan berjuang untuk mengembalikan kepercayaan diri.
"Saat itu pikiran saya bahkan teralihkan, saya hanya ingin serius latihan MMA dan tidak fokus pada diet saya. Yang ada di pikiran saya adalah peringkat sabuk, belajar gerakan baru, dan terus masuk kelas," tutur Kate, seperti dilansir Huffington Post, Rabu (24/7/2013).
Kate yang terlalu fokus pada latihan MMA pun akhirnya mengikuti turnamen MMA meskipun masih dalam lingkup kecil. Semakin besar tujuannya, semakin besar pula porsi latihan yang ia lakukan. Untuk turnamen ini, setiap hari Kate berlari sejauh 5 km. Turnamen ini benar-benar telah membuatnya lebih kuat dan lebih percaya diri. Tanpa ia sadari, bobotnya mulai turun sedikit demi sedikit.
Kini ia sudah jatuh cinta dengan olahraga ini dan semakin sering mengikuti turnamen. Dengan tujuan yang lebih besar ini, Kare pun juga sudah memahami bagaimana ia harus mengatur menu makan yang bisa memberikan bahan bakar yang sesuai untuk tubuhnya. Selama 3 tahun ini bobotnya sudah turun 50 kg dan otot-ototnya mulai terbentuk. Sehingga meskipun memerlukan waktu yang cukup lama, setelah bobotnya turun ia tidak mengalami masalah kulit yang 'bergelambir'.
"Saya rasa ini penting, tak hanya sekadar cepat tetapi juga bermakna. Banyak orang berhasil turun bobot namun mengalami masalah penumpukan sisa lemak di kulit. Saya sangat bangga dengan perjuangan saya," tutur Kate.
Meskipun kini bobot Kate sudah jauh berbeda dibandingkan dengan yang dulu, tapi ia tidak akan berhenti. Ia masih ingin aktif melakukan latihan dan turnamen di MMA dan berharap bisa terus melakukannya hingga beberapa tahun ke depan.
(vit/vit)











































