Seragam Kerja Tak Muat karena Kegemukan, Sally Pangkas Bobot 66 Kg

Diet Experience

Seragam Kerja Tak Muat karena Kegemukan, Sally Pangkas Bobot 66 Kg

Ajeng Annastasia Kinanti - detikHealth
Rabu, 14 Agu 2013 12:48 WIB
Seragam Kerja Tak Muat karena Kegemukan, Sally Pangkas Bobot 66 Kg
Before
Jakarta - Tubuh gemuk dan besar bisa membuat kepercayaan diri seseorang menurun, apalagi jika ada kejadian lain misalnya seragam kerja tak ada yang muat. Kejadian ini membuat Sally Walters (39) yang berbobot 132 kg ingin melakukan perubahan dalam pola hidupnya.

Sejak kecil, Sally memang sudah memiliki bentuk tubuh yang 'berbakat' gemuk. Hingga ia berusia remaja, berat badannya kian meningkat. Namun dengan kepribadian yang selalu riang, masalah berat badan tak pernah sekalipun mengganggu pikirannya, seperti dilansir Huffington Post, Rabu (14/8/2013).

Sally bertemu dengan suaminya saat berusia 18 tahun. Tak pernah dikomentari masalah berat badan membuatnya semakin tak peduli dengan bobotnya. Hingga akhirnya ia melahirkan anak pertamanya, Gareth, Sally mulai merasa 'berat' dan tak nyaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun ia tak pernah menimbang berat badannya, namun rasa takut akan kondisi kesehatan akibat tubuh gemuk mulai hinggap di pikirannya. Ia khawatir punggungnya mengalami masalah karena ia seringkali mengalami nyeri. Namun saat melakukan MRI di sebuah rumah sakit, ia justru trauma karena staf rumah sakit justru khawatir Sally tak muat masuk ke dalam pemindai, sehingga mereka menggunakan padding untuk memastikannya tak tersangkut.

Masalah memalukan pun muncul kembali saat Sally diterima kerja sebagai asisten rumah sakit. Di hari pertamanya, Sally tak sengaja terjatuh dan celananya robek. Ia terpaksa memperbaiki celananya dengan stapler dan menanggung penghinaan dari rekan kerjanya karena tak ada celana seragam yang muat di tubuhnya.

Sally kemudian belajar banyak tentang bagaimana pola makan yang sehat. Ia menjauhi segala macam makanan manis seperti kue, cake, dan donat. Ia juga lebih memilih mengonsumsi buah dan sayuran segar. Usaha ini benar-benar ia terapkan setiap saat. Ia menolak setiap tawaran makanan yang terlihat berlemak dan terlalu manis. Dengan usahanya ini, dalam 3 minggu awal bobotnya berhasil turun 7 kg.

Sadar bahwa jika digabungkan dengan olahraga usaha penurunan bobotnya akan semakin besar, Sally pun mulai rutin melakukannya. Ia memulai usaha latihannya ini dengan parkir sedikit lebih jauh dari kantornya. Dengan bobot yang cukup besar, berjalan kaki dalam jangka panjang memang terasa berat baginya. Namun ia meneruskan kebiasaan ini hingga jaraknya semakin dijauhkan. Ia kini terbiasa berjalan dari parkiran ke kantor dengan jarak sekitar 3 km dalam jangka waktu setengah jam.

"Memasak makanan sendiri juga saya rasa memberikan pengaruh. Saya lebih suka menyiapkan makanan sendiri dibandingkan memesan di luar. Pesan lainnya, singkirkan juga lelehan cokelat sebagai teman stroberi dan anggur segar," ujar Sally.

Kini nafsu makannya juga ia rasakan mengalami perubahan. Jika dulu Sally selalu ingin makan makanan yang berlemak tinggi dan manis, ia kini justru lebih bisa mengendalikan keinginannya. Ia bisa menjauhi segala macam makanan tersebut. Tak hanya itu, saat ini kegiatan bersama keluarga juga ia rasakan lebih menyenangkan.

(vit/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads