Ini Cara Erin Pangkas Bobot 46 Kg Pasca Lahirkan Anak Ketiga

Diet Experience

Ini Cara Erin Pangkas Bobot 46 Kg Pasca Lahirkan Anak Ketiga

Ajeng Annastasia Kinanti - detikHealth
Senin, 02 Sep 2013 11:30 WIB
Ini Cara Erin Pangkas Bobot 46 Kg Pasca Lahirkan Anak Ketiga
Before
Jakarta - Salah satu masalah yang dihadapi wanita pasca melahirkan adalah kenaikan berat badan yang signifikan. Ini pula yang dialami oleh Erin Saeger (37), bobotnya meningkat hingga 38 kg pasca melahirkan. Ia pun melakukan beberapa trik untuk menurunkan kembali bobotnya.

Saat kecil, bobot Erin sebenarnya tak terlalu gemuk. Ia mulai mengalami kenaikan berat badan pada masa sekolah menengah atas hingga kuliah. Padahal saat kuliah ia justru aktif sebagai atlet.

"Bobot saya kian bertambah bahkan hingga akhirnya saya menikah dan memiliki anak. Setiap kali hamil dan melahirkan, bobot saya selalu naik bahkan hingga 38 kg. Saya pun sadar saya harus bekerja keras," ungkap Erin, seperti dilansir Huffington Post, Senin (2/9/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beruntungnya, pasca melahirkan anak pertama dan keduanya Erin masih bisa cukup mudah mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula. Namun saat hamil dan melahirkan anak ketiganya, ia menyadari usianya tak lagi muda dan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga semakin mengurangi waktu yang ia punya untuk berolahraga.

"Dengan bertambahnya usia, saya merasa lebih sulit untuk menurunkan berat badan. Setelah anak ketiga saya lahir, berat badan saya bahkan mencapai 121 kg. Saya lantas langsung ingin menurunkan bobot bagaimana pun caranya," ujar Erin.

Erin memulainya dengan rutin berjalan dan berlari setiap hari. Aktivitas ringan ini berhasil menurunkan bobotnya sedikit demi sedikit. Namun Erin terlalu memaksakan diri untuk terus berlari tanpa memperhatikan kesehatan tubuhnya sendiri, akibatnya ia mengidap herniated disc.

Herniated disc merupakan kondisi di mana bantalan atau disc yang berada di antara tulang punggung keluar dari lokasi normalnya. Kondisi ini biasanya terjadi pada akibat faktor pertambahan usia dan berhubungan dengan berubahnya struktur tulang akibat bantalannya yang menjadi kaku. Erin pun harus dioperasi untuk mengobatinya. Operasi ini sayangnya semakin menunda keberhasilan Erin untuk menurunkan berat badan.

Sekitar 2 tahun pasca operasi, Erin kembali mengalami masalah kesehatan. Ia harus dioperasi kembali karena kondisi aritmia jantung. Dengan masalah pada jantungnya ini, Erin seringkali mengalami masalah serius dengan kecemasan. Ia tak lagi bisa berolahraga seperti biasa karena jika detak jantungnya meningkat ia akan cemas.

"Saya mengatasi kondisi ini dengan yoga. Yoga membantu saya mengatasi kecemasan dan membantu saya untuk bisa beraktivitas kembali di gym. Saya kini bahkan bisa bersepeda dan berlari kembali," papar Erin.

Selain itu Erin juga melakukan pelatihan interval intensitas tinggi atau high intensity interval training (HIIT). HIIT merupakan metode latihan jantung yang menggunakan kombinasi latihan intensitas tinggi dengan intensitas sedang atau rendah dalam selang waktu tertentu.

Latihan HIIT dapat dilakukan salah satunya dengan melakukan sprint dengan kecepatan maksimum selama 30-40 detik dan kemudian dilanjutkan 15-20 detik berjalan kaki. Kombinasi ini dilakukan berulang selama beberapa kali selama 10-20 menit.

"Saya juga benar-benar mengubah diet dan pola makan saya. Saya mencoba untuk makan makanan sehat dan membatasi asupan gula," terang Erin.

Setelah rutin melakukan berbagai latihan dan perubahan pola makan ini, kini Erin bahkan tidak memiliki keinginan untuk makan makanan yang tak sehat dengan sendirinya. Ia juga merasa hari-harinya tak lengkap jika ia tak mengisinya dengan melakukan latihan atau olahraga.

Kini bobot Erin telah turun sebanyak 46 kg menjadi 75 kg. Meskipun demikian, ia tetap akan menerapkan pola hidup sehat ini agar tubuhnya tetap bugar.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads