"Saya memulai diet saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA, semester kedua. Waktu itu saya sedang libur kenaikan kelas dan diajak oleh orang tua ke mal. Saat makan dan memesan kwetiau, saya seketika berpikir kalau berat badan saya sudah sangat berlebih. Saat itu saya juga merasa malu," ujar remaja pemilik tinggi badan 176 cm ini kepada detikHealth, Selasa (24/12/2013).
Saadillah yang tinggal di daerah Bekasi, Jawa Barat, ini lantas mengajak sang ibu untuk membeli buku diet untuk remaja. Setelah membacanya, langsung pada keesokan harinya ia memulai program penurunan berat badannya dengan mengurangi konsumsi nasi, junk food, kopi, dan teh. "Tapi saya masih jarang olahraga, sehingga berat badan saya hanya turun 2 kg saja dalam 2 pekan," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berhenti mengonsumsi makanan dan minuman tersebut, Saadillah juga memperbanyak minum air putih. Ia sadar harus bisa membedakan antara rasa lapar yang benar-benar lapar dan sekadar haus. Seringkali kurang minum air putih juga menimbulkan efek yang mirip seperti lapar, inilah yang kadang salah diartikan oleh kebanyakan orang.
"Saya biasa minum air putih 2-3 gelas jika saya lapar, setelah itu bila tidak ada rasa lapar berarti saya memang tidak lapar. Begitu pun sebaliknya," ungkap remaja kelahiran 19 Oktober 1995 ini.
Dalam pengalaman Saadillah, dalam diet juga biasa terjadi pembuangan racun atau detoksifikasi. Menurutnya, hal ini mungkin akan mengganggu proses diet karena gejala yang muncul misalnya seperti sakit. Namun, detoksifikasi ini akan cepat selesai bila rajin minum air putih 2-3 liter per hari.
"Selama saya diet saya memang hanya meminum air putih bila lapar di siang hari. Selain itu, sebenarnya olahraga juga sangat berpengaruh. Namun, karena saya sangat pemalu dulu jadi saya hanya melakukan olahraga lari di rumah. Yang utama tetap adalah niat," terang Saadillah.
(ajg/)










































