Makan Malam Tanpa Karbohidrat, Fauzan Sukses Turunkan Bobot 17 Kg

Diet Experience

Makan Malam Tanpa Karbohidrat, Fauzan Sukses Turunkan Bobot 17 Kg

- detikHealth
Kamis, 27 Feb 2014 11:45 WIB
Makan Malam Tanpa Karbohidrat, Fauzan Sukses Turunkan Bobot 17 Kg
Before
Jakarta - Indeks massa tubuh (IMT) merupakan sebuah perbandingan antara ukuran berat badan dengan tinggi badan. Biasanya ukuran tersebut digunakan untuk mengukur apakah seseorang kelebihan atau kekurangan berat badan. Nah, sadar memiliki IMT tinggi, Fauzan (25) memutuskan untuk menurunkan berat badannya.

Kepada detikHealth, pria kelahiran 13 April 1988 dan bertempat tinggal di Riau ini menceritakan pengalaman diet yang membuat bobot tubuhnya turun sebanyak 17 kg dalam waktu 2 bulan, seperti ditulis pada Kamis, (27/2/2014):

Saat saya duduk di bangku SMA, saya mengalami peningkatan berat badan yang signifikan dibandingkan saat SMP. Tahun terkahir di SMP saya memiliki tinggi badan 168 cm dan berat badan hanya 55 kg. Dengan perbandingan tinggi dan berat badan tersebut, saya memiliki IMT 19,5. Nilai tersebut masih dalam batas normal.

Selama SMA saya banyak melakukan kegiatan olahraga di sekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang cukup melelahkan. Namun, banyaknya kegiatan olahraga yang saya lakukan itu tidak saya imbangi dengan pola makan yang baik. Saya cenderung makan berlebihan karena berpikir bahwa saya membutuhkan tenaga yang sangat banyak untuk melakukan semua kegiatan ini. Hal ini yang justru menyebabkan saya mengalami peningkatan berat badan.

Saya makan dengan jumlah yang banyak, sering, dan cepat. Contohnya, saya bisa makan 2 bungkus nasi dengan porsi besar hanya dalam waktu 20 menit. Ditambah dengan camilan yang saya konsumsi di antara waktu makan. Makanan yang saya konsumsi cenderung makanan berlemak, berkalori tinggi, dan tidak memiliki kandungan protein yang cukup.

Saat tahun terakhir di SMA saya memiliki tinggi badan 173 cm dan berat badan 82 kg. Dengan perbandingan tinggi dan berat badan tersebut, IMT saya berada pada angka 27,4. Nilai tersebut sudah termasuk dalam klasifikasi overweight atau kelebihan berat badan. Karena merasa mengganggu aktivitas dan juga karena sibuk dengan persiapan ujian masuk universitas, saya pun menurunkan berat badan saya sebanyak 17 kg dalam 2 bulan, tapi saya menjadi lemah.

Setelah memasuki dunia perguruan tinggi, saya mendapat berbagai informasi dan ilmu baru yang membuat saya sadar bahwa yang saya lakukan selama ini salah. Akhirnya pada tahun 2007 saya mulai berusaha menjalani pola hidup yang lebih sehat. Saya mengonsumsi makanan dengan pola gizi seimbang. Seimbang dari berbagai sisi, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral.

Konsumsi karbohidrat tinggi di pagi hari justru membuat kita jadi cepat mengantuk. Oleh karena itu, saya cenderung mengonsumsi makanan tinggi serat dan protein di pagi hari. Ini juga menyebabkan rasa kenyang yang saya rasakan jadi bertahan lebih lama.

Untuk makan siang, saya mengonsumsi protein, sayuran, dan sedikit karbohidrat. Karbohidrat tidak harus berupa nasi, bisa berupa roti atau kentang. Pada malam hari, saya hanya makan protein dan serat, tanpa lemak dan karbohidrat.

Olahraga juga merupakan faktor utama dalam mendapatkan tubuh yang lebih sehat. Saya berolahraga minimal 3 kali seminggu, baik joging maupun latihan angkat beban. Pada tahun 2008, berat badan saya naik kembali ke 74 kg, dengan IMT 24,7, masih dalam batas normal. Saya merasa lebih sehat, kuat, dan bugar. Hingga sekarang, saya tetap berusaha menjaga pola hidup sehat.

(ajg/vit)

Berita Terkait