Berkonsultasi dengan dokter, wanita kelahiran 4 Juni 1987 ini pun menjadi rajin melakukan senam aerobik dan mengubah pola makan. Usahanya ini tak sia-sia, bobotnya sukses turun dari 65 kg menjadi 53 kg dalam 2 bulan. Berikut penuturannya kepada detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (16/4/2014):
Pasca melahirkan anak pertama, bobot saya bukannya turun tapi justru perlahan-lahan. Jika sebelumnya 49 kg, bobot saya naik 16 kg menjadi 65 kg. Saya yang saat itu memberi ASI eksklusif, pola makan pun jadi tidak terkontrol karena bawaannya lapar terus-menerus.
Bobot yang kian bertambah membuat saya sering mengalami sakit kepala, mudah lelah, dan sering sesak jika sudah berjalan jauh. Saya pun kemudian mulai berpikir untuk menurunkan berat badan. Sebab menurut dokter penurunan berat badan ini harus dilakukan agar tak mudah sakit kepala dan tak mudah lelah. Manfaat lainnya, dengan menurunkan berat badan kadar kolesterol dalam darah saya pun diharapkan bisa menurun.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya mulai program penurunan berat badan dengan senam aerobik tiap pagi dan sore. Tidak perlu jauh-jauh ke sanggar senam, saya cukup senam di rumah saja dengan panduan dari DVD player khusus senam.
Tidak lupa saya juga rutin minum air putih dan teh daun jati belanda yang direbus tiap pagi dan sore. Dengan menerapkan pola ini, dalam waktu 2 bulan berat badan saya turun 12 kg dari 65 kg menjadi 53 kg.
Tak hanya penurunan berat badan, badan saya juga jadi lebih sehat dan segar. Terakhir, saya juga jadi jauh lebih percaya diri karena tak perlu beli pakaian yang ukurannya jumbo lagi.
(ajg/vit)











































