Awalnya, Riky memang tidak bermasalah dengan berat badan. Namun semenjak kerja kantoran, berat badannya melonjak hingga 80 kg. Khawatir mengalami stroke seperti orang tuanya, Riky pun bertekat untuk diet.
Berikut penuturanya kepada detikHealth, seperti ditulis Sabtu (7/6/2014).
Saya dahulu tinggal di Kalimantan. Pada awalnya bekerja dengan aktivitas fisik, ke lapangan. Berat badan saya terjaga di 68 kg. Setelah saya pindah perusahaan saya banyak bekerja di kantoran, banyak aktivitas duduk. Berat badan saya naik menjadi 75 kg, dan setelah saya menikah berat badan saya membengkak mencapai 80 kg.
Pemicu penyakit mulai menghampiri. Ketika medical checkup, kolesterol saya sangat tinggi. Saya khawatir karena orang tua saya punya riwayat darah tinggi, dan terkena stroke. Daripada saya berisiko hal yang sama, maka saya melakukan puasa. Saya hanya makan di jam 6 saja. Saya makan oat, tidak ada sahur, dan tetap minum air putih.
Aktivitas seperti biasa, dan melakukan olahraga jalan kaki minimal seminggu 2 kali dengan jarak tempuh 1-2 km.
Dalam seminggu saya turun 2 kg, dan saya akhirnya bisa turun 6 kg dalam 2 bulan. Sekarang saya pindah ke Jakarta. Untuk menjaga atau menurunkannya kembali, saya tetap berolahraga paling murah yaitu jalan kaki setiap 2 kali seminggu sepulang kerja. Selain menghindari macet, kopaja dan busway yang penuh sesak.
Jangan lupa menyapa saya bila melihat orang jalan dari GBK ke Setiabudi di malam hari.
(up/up)











































