Ya, Angga kini menjadi jauh lebih percaya diri dengan perubahan berat badannya tersebut. Berikut penuturan Angga kepada detikHealth, seperti ditulis pada Selasa (8/7/2014):
Sebelum memulai diet, pola makan saya sangat berantakan. Saya sama sekali tidak memikirkan apa yang saya makan. Memakan sekantong keripik kentang adalah hobi saya, padahal kalori yang terkandung sangat tinggi dan minim nutrisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya kemudian memutuskan untuk mengubah pola makan. Saya sarapan sereal atau roti gandum dengan minum teh manis atau kopi susu. Siang harinya saya tetap makan nasi putih, hanya saja porsinya dibatasi. Kemudian saya juga memperbanyak serat dan protein agar bisa kenyang lebih lama. Untuk ngemil saya biasa makan biskuit gandum, kacang atau susu rendah lemak. Pada malam hari sama seperti siang, hanya saja karbohidrat dibatasi dan lebih memperbanyak serat dan protein.
Pola makan seperti itu saya lakukan juga dengan aktivitas fisik, yaitu olahraga ringan dan teratur selama 2-4 kali seminggu. Olahraga yang saya lakukan adalah kombinasi antara aerobik dan kekuatan.
Untuk aerobik saya biasa joging dan untuk latihan kekuatan saya melakukan circuit training seperti push-up, squat jump, mountain climber, dan lain-lain. Kebetulan saya mempunyai sepasang dumbbell berukuran 6 kg dan bisa saya gunakan untuk melatih otot-otot saya.
Pada akhirnya berat badan saya turun dan sekarang menjadi 66 kg. Saya tetap ingin menurunkannya sampai sekitar 63 kg. Untuk itu saya tetap menjalankan pola makan ini sampai seterusnya. Menurut saya diet itu sendiri sebenarnya bukan hal paksaan, namun pengaturan pola makan yang lebih baik dari sebelumnya.
(ajg/rdn)










































