Sabtu, 30 Des 2017 15:11 WIB

Diet Experience

Sedih Banget! Gara-gara Sakit Hati, Termotivasi Diet Hingga Susut 42 Kg

feed
Dikirim Oleh
Sya Bandi Doli Siregar
Foto: dok: pribadi Before Foto: dok: pribadi After
Jakarta - Harap sabar membaca cerita diet yang satu ini. Sya Bandi Doli Siregar panjang lebar mengisahkan masa-masa kelam ketika bertubuh gemuk, mulai dari bullying yang dialaminya hingga pengalaman tidak diterima kerja.

Sakit hati ketika tidak diterima kerja sepertinya sangat membekas di benak pria 28 tahun ini. Ia meyakini dirinya ditolak karena berbada gemuk, dan karenanya jadi termotivasi untuk mengubah gaya hidupnya.

Sedikitnya ada dua hal yang dibuktikannya. Pertama, ia mampu mengontrol berat badannya hingga susut 42 kg. Kedua, ia tetap bisa sukses meski pernah mengalami penolakan.

Kisah selengkapnya bisa dibaca di bawah ini. Jangan lupa tinggalkan komentar jika menurutmu cerita ini cukup inspiratif, dan pantas diberi hadiah voucher belanja dari detikcom.

Baca juga: Asep se-Dunia Siap Ikutan Rejeki Nama detikcom, Gabung Yuk!

Sejak dilahirkan, 23 Maret 1989, berat badanku sudah mencapai 4,5 kg, which is 1,5 kg lebih berat dari bobot bayi pada umumnya. Aku bahagia dengan lingkungan sekitarku, aku tumbuh menjadi anak yang bongsor yang menyukai jeruk. Saat umurku di bawah 5 tahun, aku bisa menghabiskan jeruk 2 kg dalam waktu seminggu. Nyaman dengan kondisi lingkungan membuat berat badanku menjadi tidak terkontrol, terlebih sehabis aku sunat. Bukan tumbuh ke atas, yang ada tumbuh kesamping. XOXO. Sampai umur 17 tahun berat badanku mencapai 90an kg, hampir 2 kali lipat dari teman-temanku di SMA.

Kuliah di Bandung dan ngekos tanpa orang tua menjadi salah satu faktor penyebab berat badanku lebih dari 100 kg. Banyaknya tugas yang diberikan dari kampus, baik tugas pendahuluan maupun tugas besar dan praktikum serta tanpa kehadiran keluarga membuat jadwal makan semakin tidak teratur.

Selain itu, aktivitasku sebagai asisten laboratorium dan asisten dosen membuat jadwal makan siang dan makan malamku tidak mengenal waktu, bisa sampai jam 11 malam atau jam 2 pagi. Pesanan favorit adalah indomie goreng double dengan telor setengah matang lalu dicampur kornet. Belum lagi snacknya roti bakar coklat keju. Potato chips dari merk terkenal serta snack lainnya juga selalu menghiasi hari-hariku. Loker di laboratorium pasti ada snack, apalagi di dalam lemari kamar. Jangan ditanya, full dengan makanan yang banyak mecinnya.

Ya aku cukup stres dengan tugas kampus dan pelarianku ke makanan. Bodohnya, hal ini kusadari saat aku sudah lulus dan mulai mencari pekerjaan.

Ya, aku masih ingat dengan jelas kejadian yang membuatku sakit hati di stand job fair salah satu Bank ternama di Indonesia. Saat itu sekitar tahun 2011, aku mendaftar program sejenis MT (management trainee). Jadi, setiap calon kandidat harus mengantri dan membawa CV. Sortir CV langsung dilakukan ditempat oleh karyawan pihak bank. Tibalah giliranku untuk memberikan CV, dengan kemeja yang baru, menggunakan dasi dan pantofel serta rambut disisir dengan rapih membuatku semakin percaya diri bahwa CVku akan diletakkan di atas meja, dengan harapan dapat mengikuti tahapan tes selanjutnya.

CV dipegang tanpa dibaca, lalu karyawan tersebut melihat dari ujung rambut sampai ujung sepatu. And guess, what did he done with my CV? Seketika CV dan dokumen pendukung lainnya dibuang ke dalam kotak di belakang. Ya, menyakitkan bukan? Itulah yang kualami.

Aku berjalan keluar dari stand tersebut dan tetap memperhatikan apa yang salah dengan CV atau pakaianku? Dan kutarik kesimpulan dari stand job fair tersebut adalah bahwa orang-orang dengan badan gemuk akan dibuang CVnya ke dalam satu kotak. Tapi calon kandidat yang memiliki badan ideal, maka CVnya akan disisihkan di atas meja. Ya sebagai orang gemuk, kali ini aku mengalami diskirimnasi, ya diskriminasi dalam mencari pekerjaan.

Sebenarnya, tidak hanya diskriminasi saat mencari pekerjaan, bullying pun sering terjadi ketika naik kendaraan umum ataupun saat bermain dengan teman-teman kuliah. Semua bullying kunikmati dan terkadang memang membuat sakit hati. Well, ini adalah hidup. Menurutku, setiap orang memiliki hak untuk berbicara, tapi tidak memiliki hak untuk menjudge/menjelek-jelekin/mengolok-ngolok bentuk badan ataupun postur orang lain. Kita tidak pernah tahu, apa yang sudah dilalui oleh orang gemuk. So untuk teman-teman, please stop bullying untuk orang gemuk ya. That's hurt our heart.

Ya setelah diskriminasi tersebut, aku tetap semangat untuk mencari pekerjaan dan pada akhirnya, memang Tuhan Tidak Pernah Tidur. Alhamdulillah aku diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang pembiayaan mobil bekas yang berkantor di MT Haryono, Jakarta Selatan. Dari sini, tekadku untuk diet semakin kuat dan membara. Dan aku ingin tunjukkan ke perusahaan yang telah melakukan diskiriminasi dan orang-orang yang pernah membully, bahwa aku bisa lebih baik dari kalian dan aku bisa kurus.

Namun, apa daya. Tekad hanya di dalam hati dan belum terealisasi saat itu dengan baik dikarenakan selama pendidikan/in class training tersedia makanan yang enak dan snack berkali-kali. Bukannya mengurangi makan, malah kalap dengan makanan yang tersedia di kantor. Berat badanku membludak pada saat melakukan On The Job Training di Palembang. Ya bukan main-main, berat badanku mencapai 117 kg, hampir 2 kali lipat dari berat badan orang-orang seusiaku saat itu. Jalan sedikit sudah ngos-ngosan, badan cepat pegal, mood langsung berubah kalau lapar. Apalagi, di Palembang banyak sekali makanan enak, ada berbagai jenis pempek, mie celor, martabak har dan lain sebagainya. Setiap hari, pempek dan cuko kunikmati, satu, puluhan sampai ratusan pempek sudah ku makan selama hampir 2 bulan di Palembang untuk melakukan On The Job Training.

Sampai di satu titik, sekitar tahun 2012, aku merasa sangat sulit sekali untuk mencari satu set pakaian yang digunakan ke kantor. Jika pun ada, harga satu set pakaian tersebut membuatku terperanga karena sangat mahal, namun pada akhirnya kubeli juga karena sudah tidak ada pilihan lain. Ada set pakaian yang murah, namun ukuran untukku tidak ada. Ukuran celanaku saat itu mencapai 44. Bayangkan!! 10 kali lebih besar dibandingkan ukuran celana teman-teman kerjaku saat itu, saat umurku 23 tahun.

Ya kali ini tekadku sudah bulat, dan akan kulakukan apa saja untuk menurunkan berat badanku TAPI TANPA OBAT, karena saat itu aku khawatir ada efek samping ke lambung jika mengkonsumsi obat-obatan pelangsing. PR pertamaku adalah tidak makan malam, ya aku menerapkan itu dahulu karena tidak ada effort yang besar untuk melakukan itu. Batas makan malam adalah sekitar 20:00 WIB. Dan Alhamdulillah perlahan berat badanku mulai menyusut selama beberapa bulan. Selanjutnya PR keduaku adalah olahraga setiap Sabtu dan Minggu.

Awalnya aku hanya jalan kaki saja karena berat sekali untuk melakukan lari dan cepat ngos-ngosan. Namun, minggu keempat saat menjalankan PR kedua, aku bisa jogging / lari-lari kecil lapangan Tebet. Mulai dari 3 puteran sampai akhirnya 6 puteran. Rutin dan konsisten kujalani kedua PR ini. Dan berat badanku menyusut perlahan.

Aku sudah turun 7 kg. Karena tidak cepat puas, selanjutnya, aku melakukan PR ketigaku yang sangat berat, yaitu mengganti nasi dengan Quaker Oat. Rasanya jangan ditanya saat pertama kali dimakan, dibilang bubur tidak, lembek-lembek dan aromanya aneh. Ya itu semua kulalui dan kunikmati, meskipun mual tidak dapat ditahan, bahkan muntah pun tak dapat ku elakkan. Cuman tetap kupaksa dan pada akhirnya aku menikmati quaker oat senikmat menikmati nasi. Semakin hari aku merasa berat badanku turun perlahan dan bahagia yang kudapatkan. Percaya diriku semakin bertambah.

Selanjutnya, aku menjalankan PR keempat. Yaitu minum teh hijau dan batas jam makan malamnya kuturunkan menjadi jam 19:00 WIB. Pahit memang rasa teh hijaunya, tapi tetap kujalani untuk membuktikan kepada orang-orang yang pernah membully bahwa aku bisa kurus. PR terakhir kujalankan yaitu, Puasa. Aku menjalankan puasa Senin Kamis tiada henti.

Tahun demi tahun kulalui ke lima PR tersebut, meskipun terkadang tidak dapat menolak nasi jika sedang bulan ramadhan ataupun jika ada acara diluar. Kado yang kuterima di tahun 2015 yaitu berat badanku sekitar 75 kg (TURUN 42 KG, dalam waktu 3 tahun dari 2012) dan semua baju dan celana kukecilin. Belanja baju dan celana menjadi hobi di tahun tersebut. Bahagia rasanya. Nyari baju mudah, karena ukuran L gampang sekali dicari, bahkan beberapa ukuran M dan slim fit bisa kugunakan. Celana? Gampang nyarinya, ukuran celana sekitar 34-36. Pakaian yang sedang ngetrend saat itu bisa kugunakan. Kaos ukuran besar kujadikan baju tidur. Banyak set pakaian kukirim ke Medan karena sudah tidak digunakan lagi dan ku minta ke ibuku agar dibagikan ke keluarga (masih layak pakai).

Satu tahun terakhir, pola hidup saya tidak teratur karena tidak menjalankan 5 PR tersebut dengan konsisten, sehingga berat badan naik menjadi 5 kg. Namun, saat ini saya mulai kembali menjalankan 5 PR tersebut dengan memodifikasi beberapa PR, yaitu :

- PR kedua, yaitu jogging diubah menjadi berenang untuk mengecilkan paha
- PR kelima, yaitu mengganti puasa Senin Kamis menjadi puasa Daud

Pesan buat bank BUMN yang ternah menolak saya karena masalah berat badan, terima kasih ya. Thank you so much, karena kalian telah mengajarkanku untuk mencintai badan saya dan menghargai apa pentingnya kesehatan. Bagi para pembully orang gemuk, hey look ur self!! Apa sudah sesempurna itukah hidup kalian hingga membully orang gemuk. Ingat, Tuhan Tidak Pernah Tidur dan Roda Berputar. Karma does exist gengs.

Baca juga: Bagikan Pengalaman Diet Sehat Kamu, Dapatkan Hadiah Voucher Belanja

(up/up)
News Feed