Kamis, 11 Jan 2018 11:34 WIB

Diet Experience

Rela Berhenti Ngemil Bakso demi Dapatkan Postur Idaman

feed
Dikirim Oleh
Dwi Puspita
Foto: dok: Pribadi Before Foto: dok: Pribadi After
Jakarta - Bagi Dwi Puspita, salah satu tantangan yang dihadapinya saat menjalankan diet sehat adalah hobi ngemil. Tak mudah baginya menghentikan kebiasaan ngemil bakso kesukaannya.

Namun angka di timbangan yang terus meroket, memaksanya untuk membuat prioritas. Menuruti nafsu makan, atau menyelamatkan postur idaman dengan mengurangi asupan kalori yang berlebih.

Dwi mengalami berbagai fase dalam perjalanan dietnya. Jatuh bangun, susah senang, dan segala drama yang mewarnai hari-harinya. Kerja kerasnya terbayar lunas, dalam 6 bulan berat badannya turun dari 69 kg menjadi 59 kg.

Berikut ini Dwi menceritakan pengalaman diet sehatnya untuk pembaca detikHealth. Jangan lupa tinggalkan komentar jika menurutmu cerita ini cukup inspiratif dan layak mendapatkan voucher belanja dari detikcom.

Baca juga: Masih Ada Waktu! Ceritakan Pengalaman Dietmu, Raih Voucher Jutaan Rupiah

Ngomong-ngomong masalah diet mah aku demen banget. Pasalnya aku adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memiliki tubuh subur dan makmur. Makan teratur aja dengan porsi nambah dikit pasti deh keesokan harinya jarum timbangan akan bergerak syantik ala-ala prinses ke arah kanan.

Sadar nggak sadar pipiku tambah cubby, baju pun mulai mengecil dengan sendirinya dan gerak sedikit udah ngos-ngosan. Iyapz, aku adalah wanita bertubuh subur dan makmur yang menginginkan berat badan yang ideal tanpa harus mengurangi makan dan hobi kulinerku.

E tapi, aku kan sekarang lagi menyusui... Nggak boleh donk diet.

Kata siapa? Diet boleh-boleh saja asalkan asupan gizi untuk tubuh harus seimbang. Mengatur pola makan, olahraga, rajin minum air putih, dan konsumsi buah dan sayur setiap hari. Duh... kira-kira aku bisa nggak ya?

Revolusi terbesarku di tahun 2017 adalah kurusan, secara anakku umurnya sudah lebih dari 1 tahun jadi aku udah agak nggak parno dengan makanannya. Makan yang banyak dan ngASInya agak dikitan, iya dia sekarang cuma mimik dikit... mbuh kenapa. Mungkin udah kenyang dengan nasi timnya mungkin.

Flash back dengan berat badan. Aku pernah mencapai puncak kejayaan berat badan yang sangat stabil. Dengan tinggi badan yang semampai (semeter tak sampai) berat badanku berada di angka 47. Uwooow... seneng sekali rasanya melihat angka itu. Pasalnya baju-baju yang aku pakai semuanya pas, baju adikku yang kelas 5 SD aja cukup aku pakai. Ini semua pada masa kejayaan SMA dan kuliah, maklum pikiran lagi ruwet mikirin UN dan tugas kuliah ditambah Tugas Akhir. Beh... tak perlu diet untuk menguruskan badan, hanya beban pikiran pikiran dan pikiran.

Lanjut lulus kuliah berat badanku mulai menunjukkan tanda-tanda kesuburan. Hal ini dikarenakan pikiran senang hati riang. Gimana nggak senang coba, terlepas dengan beban kuliah dan mendapatkan kerja yang menurutku masih belum pas. Sudah mendapatkan kerja dan mendapatkan hasil dari jerih payah sendiri mengantarkanku pada titik kebahagiaan.
Berat badan mulai merangkak naik secara perlahan namun pasti. Di angka 55 sudah membuatku agak tersenyum kecut, baju-baju mulai aku amankan di kardus. Mau tidak mau setiap bulan harus beli baju sesuai ukuran tubuh. Uh yeah... ternyata aku bahagia... berat badanku sudah berada di angka 57. Pencapaian yang sungguh luar biasa.

Demi mendapatkan body yang anggun di hari pernikahan, akupun rela mengurangi jatah makanku. 7 hari sebelum ritual duduk di kursi pelaminan. Alhamdulillah... usahaku tidak sia-sia, berat badanku turun 2kg dari 57 ke 55. Senang donk pastinya, lingkar perut si perut buncitku terkikis 4cm gara-gara mengurangi makan, mengurangi karbo lebih tepatnya.
Namun setelah menikah berubah seketika, aku tidak bisa mempertahankan angka 55 itu. Melenggang kangkung ke angka 60, wuhuuu... perutku kian mengglambir. Pahaku dan lenganku kian berisi. Celana jeans kian mengecil dan akupun tambah bahagia pasalnya tiap bulan belanja baju baru. Aku tak berdiam diri, aku ingin sehat dan ingin semua baju di dalam kardus kembali bisa aku pakai. Usaha membakar lemak setidaknya 50 gram perhari. Lumayanlah sebulan bisa susut 1,5 kg.

Kebayang nggak stop makanan favorit, bukan makanan sih sebenarnya tapi camilan sejuta umat, yaitu bakso. Aku pernah berhenti nyemil bakso agar bisa kurusan dikit. Aku bela-belain melawan nafsu makanku demi mendambakan berat badan idaman. Alhamdulillah, semuanya berbuah manis dengan tidak nyemil bakso. Berat badanku turun 2 kg dan aku bahagia.

Waktu pun berlalu, aku bahagia dengan tubuhku yang mulai sedikit kurusan. Namun, tak berapa lama berat badanku kembali ke angka yang bener-bener menyeramkan. Ini semua karena pola makanku yang amburadul, doyan ngemil, jarang minum air putih, apalagi nggak pernah olahraga.

Dan, akupun memulai ritual aneh. Gimana nggak aneh la wong dietnya macem gini. Nggak makan nasi, walau makan cuma maksimal 3 sendok. Yang penting tiap hari minum kopi hitam karena aku memang nggak bisa jauh dari kopi hitam. Nggak disaranin bagi kalian, bener-bener deh jangan ngikutin dietku yang ngaco ini. Kalau nggak terbiasa asam lambung kalian bisa kumat.

Intinya, berat badan yang pernah nangkring manis manja seberat 60 kg. Berat 60 kg inilah menjadi berat badan terberat sebelum aku hamil. Rekor terberat adalah pada saat usia kehamilan 9 bulan dengan berat badan 76 kg. Allahuakbar... ingin sekali aku menangis waktu itu, tak ada satupun baju-bajuku yang muat. Aku hanya bisa menangis dengan berat badan yang menyeramkan itu.

Setelah lahiran, beran badanku turunnya hanya secuprit, dikit banget. Padahal mendengar cerita teman-temanku yang sehabis melahirankan ada yang sampai 10 kg turunnya. Lah aku, cuma 3 kg doang. Plisss deh lemak, mbok ya jangan kerasan amat ditubuhku ini. Ikhlas dengan berat badan 71 kg. Katanya sih ntar kurus-kurus sendiri kalau menyusui anak. Oke deh aku coba...

1, 2, 3, bulan berlalu... sedikiiit sekali dengan perubahan berat badan ini. Aku nggak mau diet ekstrem seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya. Diet sehat yang tak melupakan makan 3 kali sehari, nyemil apapun yang aku mau karena anakku butuh asupan gizi di setiap tetes ASI. Saran dan masukan temanpun aku terima, aku pikir benar... anakku tetap menjadi nomer satu yang harus aku perhatikan dan pikirkan untuk memenuhi kebutuhan makanan serta asupan gizi seimbangnya. Dan... akhirnya alhamdulillah... setahun pun berlalu. Berat badanku mulai sedikit demi sedikit menjauhi angka 71 kg.

Ya tapi perlu usaha keras dan hidup sehat juga. Nggak mudah loh...

Aku nggak boleh melupakan olahraga, walaupun nggak olahraga minimal tubuhku gerak. Melakukan aktivitas seperti bersih-bersih rumah, menggendong anak sambil wira-wiri, lumayanlah... keringetpun membasahi seluruh tubuh termasuk ketekku yang basah. Hehehe... Rajin minum air putih karena air putih sangat bagus untuk metabolisme tubuh. Kerasa banget saat pipis, kalo warnanya nggak bening rada kuning aku berasa racun-racun dan lemak ikut pipis ku. Puasss... makanya suka sekali konsumsi air putih :)

Mengkonsumsi buah dan sayur penting banget buat ibu menyusui seperti aku. Selain aman buat berat badan, buah dan sayur manfaatnya oke punya buat tubuh. Rugi deh menurutku yang nggak doyan mengkonsumsi buah dan sayur.

Intinya sekarang aku mengatur pola makan, paling sering konsumsi sayur san buah. Rajin minum air putih, dan olahraga teratur. Selama 6 bulan itu akhirnya ada perubahan berat badan. Aku bahagia sekali.

Hmmm... mungkin itu aja dulu ceritaku tentang pengalaman diet yang penuh dengan warna-warni. Walaupun lama, tapi setidaknya di etku bisa masuk kedalam kategori diet sehat yang aman bagi tubuh. Tetap semangat donk bakar lemak setiap hari walaupun 1 gram sekalipun. Intinya niat dan nggak boleh putus asa.

Salam,
Dwi Puspita



(up/up)
News Feed