Tren sarapan sehat belakangan ini diwarnai menu rebus-rebusan dan kukusan, yang mudah sekali ditemukan setiap pagi di sekitar area perkantoran. Ada bagusnya sih, minimal lebih sehat dibanding sarapan gorengan.
Selain lebih sehat, sarapan rebusan dan kukusan juga murah meriah. Mulai dari harga Rp 2 ribu per potong, hingga paketan seharga Rp 10-20 ribu, sudah bisa buat ganjal perut hingga waktunya makan siang.
Menunya beragam, seperti ubi, pisang kepok, singkong, labu kuning, jagung, edamame, telur, dan beberapa sayuran lain. Ada yang direbus, ada yang dikukus.
Nah ada yang tahu nggak, bedanya dikukus sama direbus? Kita bahas satu persatu yuk.
Dikukus
Ini nih yang populer dengan istilah 'kukusan' belakangan ini. Prinsipnya, bahan makanan dipanaskan dengan uap atau steam dalam wadah tertentu yang disebut kukusan.
Makanan yang dikukus cenderung lebih mudah diterima lambung di pagi hari. Kandungan serat alaminya tetap terjaga sehingga rasa kenyang dapat bertahan cukup lama. Penggunaan bumbu yang digunakan sangat minim, menyajikan rasa asli dari bahan alami lebih terasa.
Selain itu, proses memasaknya relatif singkat dan sederhana. Cukup menyiapkan bahan, menaruhnya di kukusan dengan air di bawahnya, dipanaskan lalu ditunggu beberapa menit. Ini membuat menu kukusan cocok untuk orang yang waktunya mepet di pagi hari, seperti mahasiswa dan pekerja.
Mengukus membuat makanan matang perlahan tanpa bersentuhan dengan air. Ini membantu menjaga warna, rasa, mineral, dan vitamin tetap bertahan. Ubi kukus rasanya lebih manis, labu terasa lebih harum, dan pisang kepok kukus punya rasa yang enak tanpa perlu tambahan apa pun.
Saat ini, jajanan kukusan juga semakin mudah ditemui, terutama di sekitar stasiun KRL. Booth kecil yang menjual ubi, singkong, jagung, edamame, hingga telur banyak muncul pada jam-jam berangkat kerja atau sekolah. Hal ini membuat sarapan sehat tetap bisa dilakukan meski tidak sempat memasak di rumah.
Simak Video "Video Coba-coba: Nggak Digoreng tapi Nagih!"
(mal/up)