Anak Telanjur Obesitas, Bisakah Tumbuh Kembangnya Optimal?

Health Corner

Anak Telanjur Obesitas, Bisakah Tumbuh Kembangnya Optimal?

detikHealth
Selasa, 10 Mar 2026 20:33 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Health Corner Sarihudasa Pejuang Berat Badan Anak
Diskusi tumbuh kembang anak 'Health Corner' Foto: Ari Saputra/detikHealth
Jakarta -

Obesitas pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang semakin sering ditemukan. Banyak orang tua mengira kondisi ini hanya dipicu konsumsi junk food, padahal kebiasaan sehari-hari seperti pola makan yang kurang tepat juga bisa berperan dalam kenaikan berat badan anak.

Isu tersebut turut menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi gizi anak yang digelar Sarihusada. Melalui program skrining dan penyuluhan pertumbuhan anak dengan jumlah peserta terbanyak, perusahaan ini bahkan berhasil meraih dua Rekor MURI atas komitmennya dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, dokter mengingatkan bahwa salah satu kebiasaan yang sering luput dari perhatian adalah mengatur porsi yang tepat. Prinsipnya, anak yang sudah mengalami obesitas nutrisinya sebaiknya dijaga agar asupan kalori tidak berlebihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, kebiasaan apa saja yang perlu diperhatikan orang tua agar pola makan anak tetap seimbang dan berat badannya lebih terkontrol?

Atur Porsi yang Sesuai

Susu sering dianggap sebagai minuman yang selalu baik untuk mendukung pertumbuhan anak. Namun, pada anak yang sudah mengalami obesitas, konsumsi susu tetap perlu diperhatikan karena juga menyumbang asupan kalori harian.

Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, susu dapat menambah total energi yang masuk ke tubuh sehingga berpotensi mempercepat kenaikan berat badan. Karena itu, pemberian susu pada anak obesitas sebaiknya tidak berlebihan dan tetap disesuaikan dengan kebutuhan gizinya.

Dokter spesialis anak dr Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc, SpA menjelaskan bahwa anak yang sudah mengalami obesitas sebaiknya tidak mengonsumsi susu dalam jumlah berlebihan setiap hari.

"Susu tidak boleh lebih dari 450 ml sehari. Banyak sekali pasien saya yang minum susu sampai satu liter sehari karena dianggap bisa membuat tinggi badan atau berat badan bagus, padahal itu tidak dianjurkan," jelasnya, Senin (9/3/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa pada anak yang sudah mengalami obesitas, sebaiknya tidak diberikan susu dengan kandungan kalori tinggi. Sebagai gantinya, orang tua dapat memilih susu biasa seperti fresh milk dengan jumlah yang tetap dibatasi agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi tanpa menambah asupan kalori berlebihan.

Perbaiki Pola Makan Anak Secara Bertahap

Pengaturan pola makan juga menjadi langkah penting dalam mengontrol berat badan anak. Namun, perubahan pola makan sebaiknya tidak dilakukan secara drastis agar anak tetap nyaman dan tidak merasa tertekan.

Dokter menjelaskan bahwa pada anak obesitas, porsi makan tidak harus langsung dipotong secara ekstrem. Perubahan dapat dilakukan secara bertahap, misalnya dengan mengurangi frekuensi makan jika sebelumnya terlalu sering.

"Kalau makan sehari enam kali, ya turunin perlahan jadi lima kali atau empat kali. Mungkin jumlahnya masih sama, tapi proporsi kalorinya dikurangin. Jangan yang goreng-gorengan," jelas dr Ian.

Selain itu, orang tua juga dianjurkan memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi anak. Makanan tinggi gula maupun gorengan sebaiknya dibatasi dan dapat diganti dengan pilihan camilan yang lebih sehat, seperti buah. Dengan pola makan yang lebih seimbang, asupan kalori anak dapat lebih terkontrol sehingga membantu menjaga berat badan tetap sehat.

Anak Perlu Aktif Bergerak

Selain pola makan, aktivitas fisik juga berperan penting dalam membantu mengontrol berat badan anak. Sayangnya, banyak anak kini lebih sering menghabiskan waktu dengan aktivitas sedentari seperti bermain gawai atau menonton televisi.

Padahal, tubuh anak tetap membutuhkan aktivitas fisik agar energi yang masuk dari makanan dapat digunakan secara optimal. Aktivitas fisik juga membantu menjaga kebugaran tubuh sekaligus mendukung pertumbuhan yang sehat.

Dokter menyarankan anak untuk rutin melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat, seperti olahraga atau permainan aktif di luar ruangan. Aktivitas ini idealnya dilakukan sekitar tiga kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30 menit.

Dengan kombinasi pengaturan pola makan serta aktivitas fisik yang cukup, pengelolaan berat badan anak dapat dilakukan secara lebih sehat dan bertahap tanpa memberikan tekanan berlebihan pada anak.

Meski begitu, dokter mengingatkan bahwa tidak semua anak yang terlihat gemuk bisa langsung dikategorikan obesitas. Salah satu tanda yang kerap diperhatikan orang tua adalah lipatan lemak pada tubuh anak, misalnya pada bagian lengan yang terlihat seperti "roti sobek".

Namun tanda tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menentukan obesitas.

"Kalau lipatan-lipatan terlalu banyak itu bisa jadi salah satu tanda. Tapi kita tetap harus screening menggunakan kurva pertumbuhan," jelasnya.

Ia menambahkan, ada juga anak yang terlihat gemuk tetapi memiliki tinggi badan yang juga tinggi sehingga proporsi tubuhnya masih tergolong normal.

"Banyak juga anak yang berat badannya gemuk banget, tapi tingginya juga tinggi. Begitu diklasifikasi ternyata tidak obesitas, jadi harus dilihat dari kurvanya," tambahnya.

Karena itu, penilaian obesitas pada anak sebaiknya tidak hanya berdasarkan penampilan fisik, melainkan melalui pemeriksaan kurva pertumbuhan oleh tenaga kesehatan.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Health Corner: Peluncuran Kampanye Pejuang Berat Badan Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads