Di tengah rutinitas yang padat, banyak orang mengandalkan lauk praktis yang bisa disimpan untuk beberapa hari, salah satunya telur. Entah itu telur rebus yang simpel atau telur asin dengan rasa gurih khas, keduanya sering jadi "penyelamat" saat tak sempat memasak.
Tapi, saat dijadikan stok di rumah, muncul pertanyaan penting: mana yang sebenarnya lebih awet? Apakah telur rebus yang dimasak sendiri lebih tahan lama, atau justru telur asin yang sudah melalui proses pengawetan?
Menariknya, meski sama-sama berbahan dasar telur, cara pengolahan keduanya membuat daya simpannya bisa berbeda jauh. Perbedaan ini bukan cuma soal rasa, tapi juga berkaitan dengan keamanan pangan dan cara penyimpanan yang tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara Menyimpan Telur Rebus agar Lebih Awet dan Tetap Aman Dikonsumsi
Telur rebus sering jadi andalan sebagai stok lauk praktis. Namun, dibandingkan telur mentah, daya tahannya justru lebih singkat. Proses perebusan dapat menghilangkan lapisan pelindung alami pada cangkang yakni kutikula (cuticle), sehingga telur lebih rentan terpapar bakteri dari lingkungan.
Menurut United States Department of Agriculture, telur yang sudah dimasak tidak boleh dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Batas amannya adalah maksimal 2 jam, karena pada suhu antara 5-60°C (sering disebut danger zone), bakteri seperti Salmonella bisa berkembang dengan cepat. Bahkan, jika suhu lingkungan cukup panas sekitar di atas 32°C, batas waktu ini bisa menyusut menjadi sekitar 1 jam, karena pertumbuhan bakteri berlangsung lebih cepat pada suhu tinggi.
Karena itu, setelah telur matang dan suhunya mulai turun, sebaiknya segera disimpan di dalam kulkas dengan suhu ≤4°C. Pendinginan ini penting untuk memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dan menjaga keamanan pangan.
Agar daya simpannya optimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Simpan dalam kondisi masih bercangkang, karena cangkang membantu melindungi dari kontaminasi
- Gunakan wadah tertutup untuk mencegah paparan bakteri dan bau dari makanan lain
- Letakkan di bagian dalam kulkas, bukan di pintu, agar suhu lebih stabil
Berdasarkan pedoman dari United States Department of Agriculture serta Food and Drug Administration, telur rebus yang disimpan dengan benar di dalam kulkas umumnya masih aman dikonsumsi hingga sekitar 7 hari.
Dengan kata lain, kunci agar telur rebus bisa lebih awet bukan hanya pada cara memasaknya, tetapi pada pengendalian waktu dan suhu setelah dimasak. Semakin cepat didinginkan dan semakin tepat cara penyimpanannya, semakin kecil risiko kontaminasi dan semakin lama telur bisa dikonsumsi dengan aman.
Telur Asin Memang Lebih Awet dari Telur Rebus, Ini Penjelasannya
Telur asin sering dianggap lebih "bandel" dibanding telur rebus biasa. Bahkan dalam keseharian, tak jarang telur asin terlihat tetap layak makan meski disimpan lebih lama di suhu ruang.
Perbedaan ini bukan kebetulan. Proses pengasinan dengan kadar garam tinggi membuat lingkungan dalam telur menjadi kurang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme. Akibatnya, telur asin cenderung lebih lambat mengalami pembusukan dan tidak cepat berubah bau maupun rasa.
Namun, penting dipahami bahwa daya tahan ini lebih ke arah memperlambat kerusakan, bukan sepenuhnya mencegah pertumbuhan bakteri. Karena itu, meski terasa lebih awet, telur asin matang tetap tidak benar-benar "kebal" terhadap risiko kontaminasi.
Dalam konteks penyimpanan di rumah, prinsip yang digunakan sebenarnya masih sama seperti telur matang pada umumnya (seperti dibahas sebelumnya). Bedanya, dengan karakter yang lebih tahan, telur asin biasanya bisa disimpan sedikit lebih lama, terutama jika disimpan di dalam kulkas.
Dengan penyimpanan yang tepat, telur asin matang umumnya dapat bertahan sekitar 1-2 minggu, bahkan sering kali lebih stabil kualitasnya dibanding telur rebus biasa.
Infografis Telur Asin Foto: infografis detikHealth |
Kesalahan Menyimpan Telur yang Bikin Cepat Basi Tanpa Disadari
Menyimpan telur-baik telur rebus maupun telur asin-terlihat sederhana, tapi ada beberapa kebiasaan yang tanpa disadari justru bisa membuat telur lebih cepat basi atau berisiko terkontaminasi:
1. Menyimpan telur di pintu kulkas
Meski banyak kulkas menyediakan rak khusus telur di bagian ini, area pintu mengalami perubahan suhu paling sering karena dibuka-tutup. Akibatnya, suhu jadi kurang stabil. Menurut United States Department of Agriculture, makanan sebaiknya disimpan pada suhu dingin yang stabil, sehingga telur lebih baik diletakkan di bagian dalam kulkas untuk penyimpanan lebih lama.
2. Menyimpan telur dalam kondisi sudah dikupas
Tanpa cangkang, telur kehilangan perlindungan alaminya sehingga lebih mudah terpapar bakteri dan menyerap bau dari makanan lain. Jika belum akan langsung dimakan, sebaiknya disimpan dalam kondisi utuh.
3. Membiarkan telur terlalu lama di suhu ruang
Setelah dimasak, telur sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama di luar kulkas. Semakin lama berada di suhu ruang, terutama saat cuaca panas, risiko pertumbuhan bakteri akan semakin meningkat.
4. Tidak menggunakan wadah tertutup
Menyimpan telur tanpa wadah bisa membuatnya menyerap bau dari makanan lain sekaligus meningkatkan risiko kontaminasi silang di dalam kulkas.
5. Menganggap telur asin pasti tahan lama tanpa kulkas
Meski lebih awet karena proses pengasinan, telur asin matang tetap termasuk makanan siap santap. Untuk penyimpanan beberapa hari, tetap lebih aman disimpan di dalam kulkas.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)












































