Gampang Gemuk karena 'Tulang Besar'? Ada Benarnya Sih, Tapi Tak Sesimpel Itu

Kolom Gizi

Gampang Gemuk karena 'Tulang Besar'? Ada Benarnya Sih, Tapi Tak Sesimpel Itu

detikHealth
Minggu, 03 Mei 2026 05:05 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Gampang Gemuk karena Tulang Besar? Ada Benarnya Sih, Tapi Tak Sesimpel Itu
Mitos tulang besar kerap jadi kambing hitam penyebab cepat gemuk. Foto: iStock
Jakarta -

Pernah merasa tubuh terlihat "lebih gemuk" meski makan tidak berlebihan, lalu menyimpulkannya sebagai faktor "tulang besar"? Istilah ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, bahkan tak jarang dijadikan penjelasan utama saat berat badan naik. Tapi, benarkah struktur tulang bisa membuat seseorang tampak gemuk?

Di balik anggapan yang sudah lama dipercaya ini, ada perbedaan penting yang sering terlewat: antara ukuran rangka tubuh dan penumpukan lemak. Keduanya bisa sama-sama membuat tubuh terlihat besar, tetapi berasal dari kondisi yang sangat berbeda. Lalu, bagaimana cara membedakannya? Dan apakah "tulang besar" benar-benar bisa menjelaskan bentuk tubuh seseorang?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tulang Besar" dalam Kacamata Medis

Istilah "tulang besar" biasanya digunakan untuk menjelaskan tubuh yang terlihat lebih berisi meski merasa pola makan tidak berlebihan. Namun, dalam dunia medis, istilah ini bukanlah kategori atau diagnosis resmi yang dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi berat badan seseorang.

ADVERTISEMENT

Secara ilmiah, yang dikenal adalah ukuran kerangka tubuh (frame size)-yakni variasi bentuk dan lebar rangka antar individu. Ada orang dengan bahu lebih lebar, panggul lebih besar, atau pergelangan tangan yang lebih tebal. Perbedaan ini memang nyata, tetapi kontribusinya terhadap berat badan dan tampilan tubuh sering kali tidak sebesar yang dibayangkan.

Untuk memastikan apakah seseorang memiliki struktur tulang yang lebih besar, tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan visual. Diperlukan pemeriksaan yang dapat menilai kepadatan dan komposisi tubuh secara objektif. Praktisi kesehatan Dr dr Tan Shot Yen, M.Hum, menekankan, anggapan "tulang besar" tidak bisa disimpulkan begitu saja.

"Bisa iya, bisa tidak, karena itu harus dicek kepadatan tulangnya, dicek komposisi tulangnya. Jadi ya bisa saja tulangnya memang besar, tapi kita tidak bisa mengatakan tanpa studi berbasis bukti." jelasnya dalam perbincangan dengan detikcom baru-baru ini.

Di sisi lain, tulang hanya menyumbang sebagian kecil dari total berat tubuh. Artinya, meskipun seseorang memiliki kerangka tubuh yang lebih besar, pengaruhnya terhadap kesan "gemuk" relatif terbatas. Dalam banyak kasus, perubahan bentuk tubuh yang terlihat justru lebih dipengaruhi oleh lemak tubuh dan massa otot, bukan ukuran tulang semata.

Dengan demikian, "tulang besar" memang memiliki dasar dalam variasi anatomi manusia, tetapi tidak cukup kuat untuk dijadikan penjelasan utama seseorang terlihat gemuk. Untuk memahami kondisi tubuh secara lebih akurat, diperlukan pendekatan yang melihat komposisi tubuh secara keseluruhan, bukan hanya ukuran rangka.

Apa yang Sebenarnya Membuat Tubuh Terlihat Gemuk?

Dalam praktiknya, tampilan tubuh jauh lebih dipengaruhi oleh komposisi tubuh, terutama perbandingan antara lemak dan massa otot-dibanding ukuran rangka.

Komponen utama yang membentuk tubuh manusia meliputi tulang, otot, lemak, dan cairan. Dari semua itu, lemak tubuh adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kesan "gemuk". Penumpukan lemak, terutama di area perut, lengan, dan paha, akan membuat tubuh tampak lebih penuh dan berisi. Inilah yang secara medis berkaitan dengan overweight hingga obesitas.

Di sisi lain, massa otot juga bisa membuat tubuh terlihat lebih besar, tetapi dengan karakter yang berbeda. Tubuh dengan dominasi otot biasanya tampak lebih padat dan proporsional, bukan "bergelambir". Karena itu, angka berat badan saja tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan, dua orang dengan berat yang sama bisa memiliki tampilan dan risiko kesehatan yang berbeda tergantung komposisinya.

Sementara itu, rangka tubuh (tulang) lebih berperan sebagai "kerangka dasar" yang menentukan bentuk umum, seperti lebar bahu atau panggul. Namun, kontribusinya terhadap perubahan ukuran tubuh sehari-hari relatif kecil. Rangka relatif stabil dalam jangka pendek, berbeda dengan lemak dan otot yang bisa naik turun tergantung pola makan dan aktivitas fisik.

Selain jumlahnya, distribusi lemak juga berperan besar. Lemak yang menumpuk di area perut (lemak visceral) cenderung membuat tubuh tampak lebih besar sekaligus meningkatkan risiko penyakit metabolik. Sebaliknya, distribusi lemak di area tertentu seperti pinggul atau paha bisa memberi kesan tubuh "berisi", meski belum tentu masuk kategori obesitas.

Dengan memahami perbedaan ini, menjadi lebih jelas bahwa tampilan tubuh bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal seperti "tulang besar". Justru kombinasi antara lemak, otot, dan distribusinya yang paling menentukan, baik dari sisi penampilan maupun kesehatan.

Cara Membedakan Tulang Besar dan Obesitas: Dari BMI hingga Distribusi Lemak

Membedakan antara "tulang besar" dan obesitas tidak bisa hanya mengandalkan tampilan fisik. Diperlukan beberapa indikator yang lebih objektif untuk melihat apakah tubuh seseorang lebih dipengaruhi oleh struktur rangka atau justru oleh penumpukan lemak.

Salah satu metode paling umum adalah Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI), yang digunakan sebagai skrining awal untuk menilai status berat badan berdasarkan tinggi dan berat badan. Nilai BMI yang tinggi umumnya berkaitan dengan kelebihan lemak tubuh, bukan ukuran tulang. Meski begitu, BMI tidak bisa membedakan secara detail antara lemak dan otot, sehingga perlu dilengkapi dengan indikator lain.

Selain BMI, lingkar pinggang menjadi ukuran penting untuk melihat distribusi lemak, terutama lemak di area perut. Lemak yang menumpuk di bagian ini (lemak visceral) tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes dan gangguan jantung.

Pendekatan yang lebih akurat adalah dengan melihat komposisi tubuh, yaitu perbandingan antara lemak, otot, dan massa tulang. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari Bioelectrical Impedance (BIA) yang umum ditemukan pada timbangan digital, hingga metode yang lebih akurat seperti Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DEXA/DXA).

Pemeriksaan DEXA tidak hanya dapat menilai komposisi tubuh secara menyeluruh, tetapi juga mengukur kepadatan tulang, sehingga memberikan gambaran yang lebih objektif terkait struktur tubuh seseorang.

Menurut dr Tan, klaim "tulang besar" tidak bisa ditentukan tanpa pemeriksaan yang jelas terhadap kepadatan dan komposisi tubuh. Artinya, tanpa data objektif, sulit memastikan apakah seseorang memiliki rangka yang lebih besar atau hanya mengalami peningkatan lemak tubuh.

Di sisi lain, ukuran rangka tubuh secara sederhana memang bisa diperkirakan melalui indikator seperti lingkar pergelangan tangan atau lebar bahu dan panggul. Namun, cara ini hanya memberikan gambaran kasar tentang struktur tubuh, bukan penentu utama apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan.

Dengan menggabungkan berbagai indikator ini, mulai dari BMI, lingkar pinggang, hingga komposisi tubuh dan pemeriksaan seperti DEXA, penilaian menjadi lebih menyeluruh. Pada akhirnya, yang perlu dipahami adalah bahwa ukuran rangka hanya satu bagian kecil dari keseluruhan gambaran, sementara faktor yang paling menentukan kondisi tubuh tetaplah jumlah dan distribusi lemak.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads