Stres Bisa Memicu Berat Badan Naik, Dokter Jelaskan Hubungannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jumat, 21 Agu 2026 20:05 WIB
Foto ilustrasi: Getty Images/xijian
Jakarta -

Tekanan pikiran atau stres sering kali berdampak langsung pada pola makan seseorang. Sebagian orang mungkin kehilangan nafsu makan saat dilanda beban pikiran. Namun, tidak sedikit pula yang justru melampiaskannya dengan makan terus-menerus (stress eating).

Akibatnya berat badan melonjak drastis, bahkan bisa naik puluhan kilogram.vLantas, bagaimana sebenarnya mekanisme stres bisa membuat angka timbangan melambung tinggi?

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, atau yang akrab disapa dr Yaze, menjelaskan bahwa fenomena melampiaskan emosi ke makanan memang kerap ditemui. Tetapi, lonjakan berat badan berlebih, seperti naik hingga puluhan kilogram merupakan alarm bahaya bagi kesehatan tubuh.

"Yang bahaya adalah yang makan terus sampai naik 30 kg. Mau dalam waktu sebulan itu banyak banget, atau dalam waktu setahun pun ini tetap bahaya banget," ujar dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (20/8/2026).

"Karena berat badan yang naik drastis ini menyebabkan tingkat inflamasi (peradangan) dalam tubuh jadi tinggi," tambahnya.

Peran 'Memori Sel Lemak' yang Bikin Sulit Diet

Selain memicu peradangan tinggi, dr Yaze mewanti-wanti fenomena 'memori sel lemak' akibat lonjakan berat badan yang drastis.

Ketika seseorang mengalami kenaikan berat badan secara cepat, sel lemak di dalam tubuh akan merekam ukuran besar tersebut beserta kebiasaan asupan kalori yang melimpah.

Dampaknya, saat orang tersebut berusaha menjalani program diet, sel lemak justru akan melakukan perlawanan dan memicu efek yoyo (berat badan mudah naik kembali).

"Sel lemak kamu ini punya memori dan dia akan memaksa kamu untuk balik lagi ke makanan-makanan enak. Dia mikirnya, 'yang kemarin makanannya banyak dan enak, kok sekarang malah dikurangin?' Nah, ini yang bikin kamu jadinya susah untuk turun berat badan," terang dr Yaze.

Ukuran sel lemak yang membesar akibat stress eating ini sebenarnya membuat sirkulasi oksigen di jaringan tubuh menjadi lebih sulit.

Menurut dr Yaze, dibutuhkan waktu konsisten minimal 6 bulan menjalani gaya hidup sehat agar 'memori' sel lemak tersebut bisa diatur ulang (reset), sehingga tidak lagi menarik tubuh kembali ke ukuran lamanya.




(sao/dpy)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork