Terlalu Sering Makan UPF? Dokter Gizi Ungkap Risikonya

Terlalu Sering Makan UPF? Dokter Gizi Ungkap Risikonya

detikHealth
Sabtu, 29 Agu 2026 18:08 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Ultra-Processed Food as an industry formulated snack made from processed ingredients with high fat sugar and salt with artificial flavour additives and preservatives and fake colouring.
Jajanan tidak sehat. Foto: Getty Images/wildpixel
Jakarta -

Sebuah video di media sosial memperlihatkan seorang anak yang menceritakan kebiasaan makannya sebelum mengidap kanker. Dalam video tersebut, anak itu mengaku cukup sering mengonsumsi mi instan, bahkan bisa dua kali dalam seminggu. Ia juga menyebut sosis dan nugget cukup sering masuk dalam menu makannya.

Kini, setelah mengalami sakit, pilihan makanannya berubah. Anak tersebut memilih telur ceplok sebagai lauk dan mulai lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsinya.

Kisah tersebut kemudian menjadi perhatian karena mi instan, sosis, dan nugget merupakan makanan yang cukup umum dikonsumsi sehari-hari. Namun, apakah kebiasaan mengonsumsi makanan tersebut dapat langsung dikaitkan dengan kanker?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spesialis Gizi Klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengingatkan bahwa konsumsi ultra-processed food (UPF) perlu diperhatikan, terutama jika terlalu sering diberikan kepada anak.

"Bukan berarti sekali makan langsung menyebabkan kanker ya. Tapi kalau terlalu sering makan UPF seperti ini, umumnya lebih tinggi garam, lemak, dan bahan tambahan. Sementara kualitas dan variasi gizinya kalah sama makanan yang utuh," ujar dr Yaze.

ADVERTISEMENT



Ia menegaskan, kaitan UPF dengan risiko kesehatan perlu dilihat dari pola makan secara keseluruhan. Mengonsumsi mi instan, sosis, atau nugget satu kali tidak berarti makanan tersebut secara langsung menyebabkan kanker.

Perhatian perlu diberikan ketika UPF terlalu sering dikonsumsi hingga mendominasi pola makan. Kebiasaan tersebut dapat membuat pilihan makanan menjadi kurang beragam dan asupan dari makanan utuh menjadi lebih terbatas.

Dalam video tersebut, dr Yaze juga memuji perubahan kebiasaan makan anak itu yang kini mulai memilih lauk dengan lebih baik. Anak tersebut mulai memilih telur ceplok sebagai lauk, yang dinilai menjadi pilihan lebih baik untuk membantu memenuhi kebutuhan proteinnya.

Pola makan anak tetap perlu dibuat beragam dengan mengutamakan makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi. Sosis, nugget, dan mi instan tidak harus sepenuhnya dihilangkan, tetapi frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan agar tidak menjadi pilihan utama yang terlalu sering diberikan.



(mal/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads